Ilustrasi (Googleimage)
Rabu, 13 April 2016 17:23 WIB JIBI/Solopos/Newswire Peristiwa Share :

DUA PETUGAS PAJAK DIBUNUH
Keluarga Korban Sayangkan Keamanan untuk Petugas Pajak

Dua petugas pajak dibunuh pengusaha getah karet.

Solopos.com, MEDAN — Dua petugas pajak dari Kantor Pajak Pratama (KPP) Sibolga, Juru Sita Pajak Negara (JSPN), Parada Toga Fransriano Siahaan dan seorang anggota Satuan Pengamanan (Satpam) KPP Sibolga bernama Soza Nolo Lase. Kematian petugas pajak ini mendapat tanggapan dari anggota keluarganya.

Aksi pembunuhan pelaku, Agusman Lahagu, kepada Parada dan Soza ini sangat disayangkan pihak keluarga. Menurut mereka, ada faktor kelalaian pemerintah dalam tewasnya kedua petugas pajak ini.

Adik Parada, Pretty Siahaan, menilai pemerintah lalai memberikan perlindungan terbaik bagi para petugas penagih pajak. Padahal, sebagai garda terdepan mereka berhak mendapatkan pengawalan lebih karena risiko kerja yang tinggi.

“Kita harap ini yang terakhir lah. Jangan ada korban lagi. Pemerintah harus meningkatkan pengamanan bagi petugas pajak. Jangan cuma satu orang satpam dan itu pun tanpa dipersenjatai. Padahal yang mereka tagih miliaran,” ujar Pretty Siahaan?, Rabu (13/4/2016), dilansir Okezone.

?Selanjutnya, Pretty meminta agar pemerintah memperlakukan para petugas pajak selayaknya petugas bank. Yang meski hanya membawa uang ratusan juta rupiah, namun dikawal oleh petugas bersenjata lengkap.

?”Kenapa tidak seperti petugas bank, yang dikawal petugas bersenjata?. Kalau seperti itu, pasti kejadian-kejadian seperti ini bisa dicegah. Tapi ya bagaimana, nasi sudah jadi bubur. Kita harap pemerintah belajar dari peristiwa yang menimpa abang saya ini,” ujar Pretty.

Sebelumnya, Parada Toga Fransriano Siahaan dan Soza Nolo Lase datang ke sekitar lokasi usaha AL, di Jalan Yos Sudarso, Desa Hilihao, Kota Gunung Sitoli, Kepulauan Nias, Sumatra Utara, Selasa (12/4/2016). Dua petugas KPP Sibolga tersebut membawa surat tagihan pajak senilai Rp14,7 miliar.

Menurut pengakuan AL, ia tersinggung dengan tagihan pajak tersebut, sehingga nekat menghabisi nyawa dua petugas KPP Sibolga itu. Ia membunuh Parada dan Soza dengan menggunakan pisau dan batu.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…