Minggu, 6 Februari 2011 16:15 WIB Wonogiri Share :

Batu 80 m3 tutup badan jalan Wonogiri-Pacitan

Wonogiri (Espos)--Sebuah batu berukuran sekitar 80 meter kubik (m3) menutup hampir separuh badan jalan Wonogiri-Pacitan, sejak Minggu (6/2) dini hari. Batu besar itu menggelinding dari ketinggian delapan meter di lereng Gunung Pegat, Desa Ngadiroyo, Nguntoronadi, Wonogiri.

Pantauan Espos, Minggu siang keberadaan batu itu tidak sampai menimbulkan kemacetan lalu lintas. Namun laju kendaraan baik dari arah Wonogiri maupun Pacitan dan Baturetno agak tersendat karena jalan hanya bisa difungsikan satu jalur secara bergiliran dari kedua arah.

Petugas dari Polsek dan Koramil Nguntoronadi serta dari Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Jateng wilayah Surakarta masih terus berjaga di lokasi. Sementara sekitar sembilan pemecah batu sudah dikerahkan untuk memecahkan batu berdimensi panjang 4 meter, lebar 4 meter dan tinggi 5 meter itu.

Staf BPT Bina Marga, Sugiyanto, yang saat itu berada di lokasi mengungkapkan batu besar itu menggelinding dari lereng Gunung Pegat sekitar pukul 00.15 WIB, Minggu. “Kami mendapat informasi dari petugas Polsek yang menelepon ke kantor kami. Saat itu juga kami langsung menuju ke sini dan bersama personel dari Koramil dibantu warga, kami bergotong-royong membersihkan dahan-dahan pohon yang melintang menutup seluruh badan jalan,” jelas Sugiyanto.

Dalam waktu satu jam, jalan berhasil dibersihkan dari batang pohon yang ikut runtuh bersama batu, sehingga tidak sampai mengakibatkan kemacetan di pagi harinya. Namun, menyingkirkan batu besar itu bukanlah perkara mudah. Batu sebesar itu tidak mungkin dipindahkan menggunakan alat berat. Maka dikerahkanlah tukang pemecah batu.

Sugiyanto memperkirakan jika cuaca cerah batu itu akan berhasil dipecahkan dalam 2-3 hari. Terpisah, Camat Nguntoronadi, Slameto Sudibyo mengungkapkan sudah melaporkan peristiwa tersebut ke Pemkab Wonogiri dan pihak-pihak terkait lainnya untuk segera ditangani.

shs

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…