Yuk, Mengenal Fungsi Dan Cara Kerja Seaglider
Seaglider (detikcom

Solopos.com, SOLO--Sebuah benda yang dikira drone ditemukan di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan oleh seorang nelayan belum lama ini.

Ternyata, benda tersebut merupakan Seaglider atau drone air. Lalu, apa itu Seaglider dan fungsinya?

Mengutip dari detik.com, Seaglider adalah deep-diving Autonomous Underwater Vehicle (AUV) yang dirancang untuk misi yang berlangsung berbulan-bulan dan mencakup jarak ribuan kilometer.

Dalam pengaplikasiannya di bidang militer, seaglider lebih sering disebut sebagai Unmanned Underwater Vehicle (UUV) alias drone nirawak di air.

Balita Ini Nangis Saat Lupa Hafalan Al-Qur'an, Netizen Insecure

Sejarah pengembangan Seaglider

Konsep Seaglider kali pertama dieksplorasi pada awal 1960-an, dengan prototipe kendaraan pengantar perenang bernama Concept Whisper.

Kemudian, pada tahun 1992, Universitas Tokyo melakukan pengujian pada ALBAC, glider drop weight tanpa kontrol daya apung dan hanya satu siklus meluncur. Kemudian, program SBIR DARPA menerima proposal untuk glider gradien suhu pada 1988.

DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency ) selaku badan riset militer Amerika, saat itu mengetahui proyek penelitian serupa yang sedang berlangsung di Uni Soviet. Idenya adalah berupa sebuah pesawat layang dengan mesin apung yang ditenagai oleh penukar panas.

Alat ini diperkenalkan ke komunitas oseanografi oleh Henry Stommel pada tahun 1989 dan menamai glider termal tersebut dengan nama Joshua Slocum. Penamaan tersebut diambil dari sosok yang melakukan pelayaran solo pertama di dunia dengan perahu layar.

Pada 2003, tidak hanya glider bertenaga termal yang berfungsi (Slocum Thermal), Webb Research dan institusi lain telah memperkenalkan glider bertenaga baterai dengan durasi dan efisiensi yang mengesankan, jauh melebihi yang tradisional.

University of Washington, dan iRobot menjadi yang pertama menerima lisensi eksklusif selama lima tahun untuk memproduksi Seaglider bagi konsumen di luar University of Washington pada Juni 2008.

Lalu, pada Mei 2013, Kongsberg Underwater Technology, Inc. mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan negosiasi dengan Pusat Komersialisasi di University of Washington untuk mendapatkan hak eksklusif dalam memproduksi, memasarkan, dan melanjutkan pengembangan teknologi Seaglider.

Fungsi dan cara kerja Seaglider

Seaglider didesain bisa beroperasi pada kedalaman hingga 1.000 meter. Perangkat ini biasa digunakan untuk keperluan survei dan data oseanografi.

Oleh karena itu, Seaglider digunakan untuk mengumpulkan properti fisik lautan dengan mengukur suhu, salinitas, dan kuantitas lainnya, kemudian mengirimkan kembali data dengan menggunakan telemetri satelit global.

UUV Seaglider bisa digunakan untuk industri maupun pertahanan, dan berbagai misi lain untuk ahli kelautan, termasuk Angkatan Laut, lembaga pemerintah, dan organisasi penelitian.

Alat ini berenang di air dengan memanfaatkan perubahan daya apung untuk daya dorong yang digabungkan dengan bentuk hidrodinamik gaya hambat rendah yang stabil.

Bahkan, Seaglider dapat bekerja dalam hampir di semua keadaan laut dan kondisi cuaca seperti badai sekalipun.

Yuk Cegah Covid-19, Peduli Terhadap Potensi Kerumunan di Sekitar

Penggunaan Seaglider

Tak hanya untuk pertahanan militer, Seaglider juga tercatat melakukan berbagai misi. Seperti, pada insiden tumpahan minyak Horizon Deepwater pada Mei 2010. Pada kejadian ini, seaglider dikerahkan di Teluk Meksiko untuk membantu memantau dan mengumpulkan data selama insiden.

Sedangkan, pada bidang pertahanan, Angkatan Laut AS (Amerika Serikat) pernah menguji Seaglider untuk digunakan di kapal tempur Littoral pada 2013. Lalu, pada 2016, Angkatan Laut AS mengerahkan LBS-Glider untuk membantu misi anti submarine warfare (ASW).



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom