Tutup Iklan
Pengunjung memadati Pasar Tradisional Kali Pilang di Dusun Jowogan, RT 003/RW 003, Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Minggu (27/10/2019). (Istimewa-Gito Purnomo)

Solopos.com, WONOGIRI -- Warga Dusun Jowogan RT 003/RW 003, Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Minggu (3/11/2019) pagi, bergegas menuju Pasar Kali Pilang menjajakan aneka jajanan tradisional.

Tepat pukul 06.00 WIB, pasar itu harus dibuka menanti pengunjung yang sudah menanti. Begitu dibuka, para pengunjung bergegas menuju stan-stan menjajakan kuliner tradisional.

Ada pecel, empek-empek, sate kere, nasi tiwul, hingga bakmi pecel. Untuk membelinya, pengunjung harus menukarkan uang kartal menjadi koin di loket menyerupai bank.

Para pengelolanya kompak mengenakan seragam bermotif lurik. Koin bernilai 1 sen setara Rp1.000, ada pula koin senilai 2 sen senilai Rp2.000, dan 5 sen senilai Rp5.000.

“Koin itu juga bisa dipakai buat membayar parkir,” kata Agus Suyanto, 35, Ketua Pasar Tradisional Kali Pilang, bersama temannya, Gito Purnomo, 40, Ketua Karang Taruna Dusun Jowogan, RT 003/RW 003, Desa Jaten, di pasar setempat, Minggu kemarin.

Stan-stan itu dibangun dari bambu dan kayu dengan atap alang-alang. Konsep pasar berbentuk huruf U dengan pohon beringin besar di tengah-tengahnya. Butuh dua bulan untuk membangun stan itu.

Sedangkan para pembeli bisa duduk lesehan beralaskan tikar di bagian tengah di bawah pohon beringin. Masyarakat setempat menyebutnya danyangan. Di sebelah pasar itu ada kali dengan nama Kali Pilang. Itulah kenapa pasar itu dinamai Pasar Tradisional Kali Pilang.

Minggu itu menjadi kali keempat pasar itu beroperasi sejak dibuka Oktober 2019 lalu. Jumlah pedagang terus bertambah hingga kini berjumlah 27 orang.

Mereka seluruhnya warga Dusun Jowogan. Sebagian ada yang di luar Jowogan, namun masih memiliki memiliki kekerabatan dengan trah Mbah Truno, salah satu tokoh di dusun itu.

Dari setiap operasionalnya, animo pengunjung ke pasar itu terus meningkat. Pengelola mencatat perputaran uang di pasar itu menembus Rp3 juta pada pekan perdananya. Pekan berikutnya naik menjadi Rp5 juta dan bertambah menjadi Rp7 juta pada pekan ketiga.

“Pekan ini kami mendapatkan Rp11 juta. Jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya animo pengunjung,” terang Agus.

Pada pekan perdana, misalnya, pasar dibuka pukul 06.00 WIB. Namun, pada pukul 07.15 WIB, semua jajanan baik makanan maupun minuman ludes terjual. Hal itu menyisakan kekecewaan bagi pengunjung yang datang terlambat.

Mereka datang dari Klaten, Sukoharjo, dan sekitarnya. “Pada pekan berikutnya, seluruh dagangan ludes pada pukul 08.00 WIB. Pedagang sudah menambah kapasitas produksinya sesuai kemampuan tapi selalu habis,” ujar dia.

Pendirian pasar itu bermula dari upaya mewadahi kreativitas warga setempat dalam hal kuliner. Warga melihat ada potensi dari sepetak tanah yang kerap dilintasi para penggemar gowes.

Di bawah pohon beringin, para penggemar gowes kadang berhenti sejenak meski sekadar menyeka keringat.

“Dari situlah lantas pasar ini dibentuk. Ibu-ibu yang biasanya memasak hanya untuk keluarga kini bisa disajikan kepada pengunjung. Hasilnya bisa untuk tambahan pendapatan keluarga,” kata Hartanto, 60, pembina Pasar Tradisional Kali Pilang Wonogiri.

Di pasar itu, para pedagang yang tak punya latar kemampuan bisnis menjajal bisnis kuliner. Mereka juga meminta masukan pembeli agar kualitas produknya meningkat. Semuanya adalah makanan bikinan dari rumah.

Produk instan di pasar itu dilarang. “Ke depan, kami berharap juga bisa mengurangi penggunaan plastik,” beber dia.

Keberadaan pasar itu diharapkan bisa menambah pendapatan keluarga Duwun Jowogan. Dari meningkatkan dinamika ekonomi lokal, Hartanto berharap bisa “memanggil” para perantau pulang kampung. Di desa, peran mereka sangat dibutuhkan untuk kemajuan kampung.

“Banyak warga lain yang meminta berjualan di sini. Tapi, untuk sementara ini kami fokuskan untuk warga Jowogan. Semoga yang merantau bisa pulang membikin usaha di sini,” harap Hartanto.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten