Yayasan Harmoni Warna Dunia memberikan sosialisasi kepada Siswa SDN 01 Pulosari Karanganyar, Jumat (8/11/2019). (Solopos-Sri Sumi Handayani)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Yayasan Harmoni Warna Dunia turun tangan mendidik anak sejak dini untuk mengelola sampah di sekolah adiwiyata SDN 01 Pulosari, Karanganyar.

Pembelajaran tentang sampah berkaitan dengan karakter dan pembiasaan. Di usia dini, anak-anak diajarkan, dibiasakan, dan diberi contoh membuang sampah pada tempatnya. Lebih bagus jika anak-anak mulai diajarkan memilah sampah.

Yayasan Harmoni Warna Dunia menyusun tiga kegiatan pendampingan. Dimulai dari memperkenalkan anak-anak tentang sampah, memilah sampah, dan meluncurkan bank sampah.

Project Manager Yayasan Harmoni Warna Dunia, Albertin Yesica Stevani T., menuturkan program kali kedua bagi Yayasan Harmoni Warna Dunia mendampingi sekolah adiwiyata, yakni SDN 01 Pulosari sebagai sekolah adiwiyata tingkat kabupaten.

Sebelumnya, Yayasan Harmoni Warna Dunia mendampingi SMPN 2 Kebakkramat. Saat ini, sekolah adiwiyata mandiri. Sika, sapaan akrabnya, mengawali pendampingan dengan memberikan materi Sekolah Ramah Lingkungan Berbasis Pengelolaan Sampah Berseritera (bersih, sehat , rapi, indah, dan sejahtera).

"Kami kenalkan anak-anak tentang sampah. Pelatihan berikutnya memilah sampah dan meluncurkan bank sampah. Kenapa bank sampah? Karena masalahnya sampah. Kami ingin mendidik sejak dini tentang pengelolaan sampah. Dimulai dari paham soal sampah," kata Sika saat berbincang dengan Espos di SDN 01 Pulosari, Jumat (8/11/2019).

Sekolah Binaan

Ketua Adiwiyata SMPN 2 Kebakkramat, Joko Nugroho, menuturkan SDN 01 Pulosari salah satu sekolah binaan SMPN 2 Kebakkramat pada program sekolah adiwiyata mandiri. Empat sekolah lainnya, SDN 01 Macana, SDN 04 Kaliwuluh, SDN 04 Kemiri, dan SDN 03 Kebak. SDN 01 Pulosari disiapkan menjadi sekolah adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Tengah.

"Kami bermitra dengan perusahaan mendampingi sekolah adiwiyata. Sebelum ini, siswa SDN 01 Pulosari belajar ke sekolah kami untuk belajar menjadi kader sekolah. Kami sampaikan sekolah ramah lingkungan berbasis sampah. Bagaimana membuat sekolah indah, sejuk sehingga anak-anak nyaman dan kerasan belajar," tutur Joko saat memberikan pengarahan kepada siswa kelas 5 dan 6 SDN 01 Pulosari.

Buang Sampah

Dia mencontohkan siswa membuang sampah pada tempat, tanaman lebih banyak dan dirawat, dan lain-lain. Tujuan akhir bukan piagam penghargaan sekolah adiwiyata tetapi mendidik anak sejak dini lebih peduli kepada lingkungan. "Saat dewasa dan terjun di masyarakat bisa menularkan ilmu kepada orang lain. Sampah ini menjadi masalah besar," ujar Joko.

Guru Kelas 5 SDN 01 Pulosari, Suparni, merasakan manfaat mendapatkan pendampingan sekolah adiwiyata. Secara administrasi sekolah lebih tertib dan lingkungan sekolah lebih asri. Dia mendorong anak lebih peduli lingkungan. Salah satu caranya membagi piket membersihkan lingkungan sekolah, yakni kelas 3 dan 4 membersihkan halaman dan serambi sedangkan kelas 5 dan 6 membersihkan kebun.

"Jangan buang sampah sembarangan. Disarankan dipilah tetapi belum bisa. Semoga ke depan bisa. Kami dibina SMPN 2 Kebakkramat dua tahun ini. Perubahan ke arah lebih baik. Anak-anak lebih rajin kerja bakti. Harapan kami anak-anak bisa memetik ilmu. Kalau bersih jadi sehat, bisa lebih displin, dan tambah pengalaman."


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten