Yasema Sukoharjo: Tren Penularan HIV/AIDS Beralih Ke Kaum Homoseksual Usia 30-An
Ilustrasi HIV/AIDS (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Solopos.com, SUKOHARJO — Perilaku homoseksual khususnya kaum lelaki suka lelaki atau LSL menjadi tren baru penularan virus HIV/AIDS di Sukoharjo pada 2020.

Sebagian besar kaum gay yang terjangkit virus HIV/AIDS merupakan kalangan muda berusia di bawah 30 tahun. Hal ini diungkapkan Koordinator Yayasan Sahabat Sehat Mitra Sebaya (Yasema) Sukoharjo, Garis Subandi, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (20/8/2020).

Kaum LSL atau gay cenderung bersifat eksklusif. Komunitas ini tidak mau diketahui masyarakat umum. Karena itu, diperlukan inovasi program untuk mendekatkan kaum gay dan homoseksual di Sukoharjo pada layanan pencegahan HIV/AIDS.

Dari Whatsapp Group, Dalang Ricuh Mertodranan Solo Akhirnya Terungkap!

“Sebetulnya, tren penularan virus HIV/AIDS beralih ke pasangan homoseksual sejak 2019. Hanya, tahun ini kaum gay yang terjangkit virus HIV/AIDS berumur lebih muda. Mungkin berusia 20 tahun-30 tahun,” kata dia.

Kendati demikian, penularan virus HIV/AIDS melalui hubungan heteroseksual tetap tinggi terutama di wilayah perkotaan seperti Kecamatan Kartasura dan Kecamatan Grogol. Para pengidap baru HIV/AIDS berasal dari berbagai macam pekerjaan seperti karyawan, wiraswasta, hingga mahasiswa.

Pria yang akrab disapa Bandi ini menyampaikan selain kaum homoseksual, di Sukoharjo para ibu hamil juga rawan terjangkit virus HIV/AIDS yang ditularkan dari suaminya. Apabila hasil tes positif, ibu hamil bakal menjalani terapi antiretroviral (ART) untuk memperlambat pertumbuhan virus.

Dari Jembatan Bacem Hingga Setan Merah, Ini 7 Mitos Seputar Sungai Bengawan Solo

Selama ini, kesadaran para ibu hamil untuk melakukan voluntary counseling and testing (VCT) cukup tinggi. “Para ibu hamil bisa menjalani VCT di puskesmas maupun rumah sakit. Identitas masyarakat yang menjalani VCT dijamin kerahasiaannya,” ujar dia.

Tetap Bisa Produktif

Selama ini, sukarelawan penanggulangan HIV/AIDS kerap memberikan pendampingan kepada para pengidap virus HIV/AIDS. Hal ini dilakukan lantaran masih ada stigma di masyarakat terhadap orang dengan HIV AIDS (ODHA) bisa menularkan virus apabila terjadi kontak fisik sehingga mereka dikucilkan.

Bahkan, para sukarelawan ikut mendampingi saat pengidap HIV/AIDS mencari pekerjaan. Mereka tetap bisa produktif apabila meminum obat setiap hari.

Warga Desa Di Klaten Ini Bisa Dapat Sayuran Gratis Dengan Menabung Sampah

“Penularan virus HIV/AIDS melalui cairan tubuh, darah atau air susu ibu yang positif terjangkit HIV/AIDS. Ini yang perlu diedukasikan kepada masyarakat agar tak mengucilkan pengidap HIV/AIDS,” papar Bandi.

Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sukoharjo, Suryono, menyatakan jumlah pengidap HIV/AIDS yang tesebar di 12 kecamatan di Sukoharjo lebih dari 600 orang.

Para pengidap baru HIV/AIDS ditemukan saat melakukan VCT di rumah sakit atau puskesmas. Mayoritas pengidap pernah melakukan hubungan berisiko dengan bergonta-ganti pasangan.

Vlogger Cilik Boyolali Bunga Salsabila Akhirnya Bisa Ketemu Gubernur Ganjar, Dapat Hadiah Laptop Pula!

KPA Sukoharjo bersama Pemkab Sukoharjo terus melakukan sosialisasi pencegahan penanggulangan HIV/AIDS di setiap kecamatan.

“Pasangan calon pengantin diminta secara sukarela menjalani VCT untuk mengetahui status kesehatannya. Pencegahan penularan virus HIV/AIDS juga mengoptimalkan komunitas warga peduli AIDS [WPA],” kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom