Tutup Iklan
Yang Tersisa Dari Masa Lalu Solo Kota Pelesiran Esek-Esek: Prostitusi di Jl Natuna (Bagian IV/Habis)
Ilustrasi Prostitusi, PSK (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, SOLO -- Sisa-sisa masa lalu Solo sebagai kota tujuan pelesiran esek-esek masih bisa dijumpai hingga saat ini. Salah satunya praktik prostitusi di gang-gang wilayah Kelurahan Kestalan, Banjarsari.

Seperti di Jl Natuna Gang I Kestalan samping Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Solo. Jalan beraspal tidak seberapa lebar yang pada siang hari relatif lengang itu berubah 180 derajat pada malam hari.

Jalan itu cukup legendaris di kalangan lelaki hidung belang. Di pinggir jalan itu lah para penjaja seks komersial (PSK) mangkal dan menyapa dengan ramah lelaki yang berkunjung atau sekadar melintas di wilayah tersebut.

Bayi 1 Tahun Masuk Daftar 18 Kasus Baru Positif Covid-19 Kota Solo

Beberapa waktu lalu, sebelum pandemi Covid-19 melanda di Solo, Solopos.com sempat mampir dan melihat-lihat gang yang terkenal dengan prostitusi alias pelesiran esek-esek itu.

Kebetulan kala itu Sabtu malam dan waktu menunjukkan pukul 23.45 WIB. Kendati hari hampir berganti, aktivitas di gang itu seolah baru saja dimulai. Perempuan-perempuan berbusana minimalis duduk santai di depan hotel di balik keremangan malam.

Mereka berbincang santai dengan teman mereka sembari mengisap rokok. Dari sudut lain beberapa laki-laki datang dan meminta Solopos.com mampir. Dengan salah seorang dari laki-laki itu pula Solopos.com masuk ke hotel-hotel di wilayah itu untuk melihat PSK yang ready.

Tambah Lagi 8 Kasus Baru, Positif Covid-19 Kabupaten Sukoharjo Jadi 108 Orang

Tapi dengan alasan tidak tertarik dengan satu pun PSK yang ada, Solopos.com beranjak hendak pergi dari wilayah yang terkenal sebagai tempat prostitusi atau pelesiran esek-esek para lelaki hidung belang di Solo itu.

Perempuan Bercelana Hotpants

Namun masih saja laki-laki tersebut meminta agar Solopos.com segera menentukan pilihan. “Tarif Rp150.000 sudah termasuk sewa kamarnya om,” goda dia.

Solopos.com yang sedari awal memang hanya ingin melihat praktik prostitusi di kawasan itu pun bergeming. Saat itu di lokasi itu juga ada sesosok perempuan muda mengenakan celana hotpants duduk di sepeda motornya.

Mulai Minggu Malam, Alkid Solo Steril Dari Kerumunan, Semua Pintu Ditutup!

Perempuan berambut sepinggang dan dicat pirang itu sibuk memainkan ponselnya. Menurut informasi, perempuan itu memang biasa mangkal di bawah lampu PJU. Iseng, Solopos.com, menanyakan tarifnya. Perempuan itu dengan singkat mengatakan Rp200.000.

Dia pun menolak saat diberi hanya Rp150.000. “Emoh. Nek jare bapake Rp150.000 ya wes ta kana karo bapake wae [enggak mau. Kalau kata bapak itu Rp150.000 ya sudah sana sama bapak itu saja],” jawab perempuan itu dengan nada ketus.

Pengalaman Solopos.com itu menjadi bukti bahwa Solo sebagai tujuan pelesiran esek-esek dan prostitusi memang benar adanya. Di kalangan masyarakat Solo, kawasan di sekitar RRI itu sangat terkenal dan legendaris.

Meledak! Sehari Pasien Positif Covid-19 Kota Solo Bertambah 18 Orang

Tempat lainnya yang dulu terkenal dengan aktivitas pelesiran esek-esek di Solo, seperti disebutnya, mantan jurnalis, KP Bambang Ary Pradotonagoro, adalah Alun-alun Kidul (Alkid) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Manahan, dan Sriwedari.

Bambang menyebut praktik esek-esek di Kestalan pada masa lalu terkenal sering didatangi laki-laki hidung belang kelas menengah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom

Pasang Baliho