Tutup Iklan

Yang Lenyap dari Angkringan

 Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

SOLOPOS.COM - Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (21/1/2019). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan penulis buku Sejarah Wisata Kuliner Solo.

 Solopos.com, SOLO — Angkringan atau hik merupakan lahan basah. Sektor ini tak luput jadi panggung kampanye politikus dan mesin politik guna menggalang pendukung.

Angkringan dimaknai sebagai simbol perjuangan wong cilik sekaligus tempat nglaras. Di ruang sosial ini, warga lintas agama maupun kelas sosial bersemuka.

Tanpa merogoh ragat yang banyak, tim sukses politikus bercakap perihal program yang ditawarkan seraya merangkul golongan wong cilik. Ini masih dianggap cara jitu untuk mendongkrak suara pemilih.

Angkringan dirawat dan dipopulerkan kalangan wong cilik sejak permulaan abad XX di Kota Solo. Kenyataan historis ini dibuktikan dengan selembar keterangan dari Koran Djawi Hiswara  edisi 28 Januari 1918 yang menerangkan terminologi ”angkring”

”Angkring” adalah keranjang pikulan yang digunakan mewadahi panganan dan air kopi (yang tergeletak di samping jalan). Pengertian serupa juga ditulis dalam kamus Bausastra Jawa yang terbit dan tersebar luas pada tiga dekade awal abad XX.

Hingga detik ini angkringan identik dengan nasi kucing alias sega sambel. Para politikus tak jarang mencomot nasi tersebut lantas menyantap sembari mempelajari psikologi calon pemilih.

Bungkusan berisi sega sak kepel berlauk cuilan bandeng dan sambel sak dulit itu telah lama menjadi identitas angkringan. Merujuk keterangan budayawan Umar Kayam dalam sebuah kolomnya, di Jawa terdapat etiket atau tata aturan menyantap nasi tak perlu grusa-grusu, tak boleh tergesa-gesa, walau itu hanya seporsi nasi kucing.

Perempuan

Memamah harus dinikmati tanpa merasa seperti diuber maling. Kaum perempuan tidak boleh dhokoh (banyak) kala bersantap. Seorang putri makan cimat-cimit, sedikit demi sedikit.

Mencuil lauk pauk, apalagi daging dan ikan cuma saksuwirsaksuwir, bagaikan mencubit-cubit lengan kekasihnya.

Muluk atau makan nasi kucing memakai tangan tanpa bantuan peralatan sendok juga upaya memahami ungkapan lawas aja mung nggedhekake puluk (jangan hanya membesarkan suap nasi).

Selarik kalimat ini membungkus nasihat luhur supaya orang tidak mementingkan urusan makan saja, banyak persoalan lain yang jauh lebih penting.

Di mata wong Jawa klasik, orang melulu pamer makan dicap bernilai rendah dan tidak tahu adat. Kondisi demikian disebut ngawula wadhuk. Sesuai etiket tradisional Jawa, orang tidak gampang mengiyakan tawaran bersantap sewaktu bertandang ke rumah orang.

Jikalau menerima, tidak seharusnya makan begitu banyak tampak seperti orang tengah kelaparan. Kita diingatkan pula petuah bijak aja mung mikir wetenge dhewe (jangan hanya memikirkan perut sendiri).

Petuah ini sangat relevan untuk kaca benggala politikus Indonesia kontemporer yang jamak menumpuk kekayaan lewat jalur korupsi demi terpenuhinya kepentingan keluarga serta partai politiknya.

Mereka tega mengabaikan misi memakmurkan rakyat dan keadilan sosial seperti yang didengungkan kala kampanye di angkringan.

Nasi Langgi

Sebelum merebak nasi kucing serta oseng-oseng, dan belakangan disusul nasi goreng, di angkringan sebetulnya ditemukan nasi langgi yang dibungkus rapi, gemuk, padat, dan berisi lauk-pauk yang konkret.

Dicermati dari segi menu, nasi langgi sebenarnya punya jalinan kisah apik dengan dapur sekul langgen di lingkungan keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Nasi langgi merupakan hasil olahan nasi bersama rempah-rempah beserta santan dan asam jawa.

Lumrah banyak penggemarnya lantaran dilengkapi lauk seperti telur dadar, bistik, sayur kering kentang, daging, serundeng, kerupuk udang, sambal goreng hati, serta mentimun.

Bisa dibayangkan betapa enak dan komplet unsur nasi langgi itu. Dari optik sejarah Darsiti Soeratman (1989) terungkap hidangan untuk kerabat raja yang dimasak di pawon sekul langgen itu bila tidak habis disantap bakal dibeli para priayi yang tinggal di lingkaran tembok keraton.

Mereka rela manyun, menunggu berlama-lama di depan pintu dapur, demi bisa menikmati makanan istana yang kondang maknyus, meski sebatas sisa lauk. Bagaimanapun, hidangan ini adalah santapan istimewa bangsawan yang telah dimangsak melalui proses rumit dan digarap serius koki keraton.

Hanya perkara butiran beras yang hendak ditanak saja terlebih dulu harus diperiksa abdi dalem dan dipilih yang bagus agar kian termanjakan lidah para penghuni kedhaton.

Belum tentu setiap hari barisan priayi berkesempatan mencicipi sisa kuliner keluarga aristokrat yang diolah oleh koki ulung dengan resep khusus dan berbahan beras rajalele yang terkenal pulen.

Pelayan istana mencampur lauk yang beraneka macam itu menjadi satu. Masyarakat yang hidup di luar tembok cempuri kemudian menyebut nasi langgi (sekul langgen).

Acuan

Tempo doeloe budaya yang tumbuh di lingkungan kerajaan merupakan acuan utama masyarakat Jawa, termasuk urusan memanjakan lidah.

Teoretikus Amerika Serikat, Robert Redfield (1985), menyebut fenomena budaya ini dalam konsep tradisi besar yang acap dijadikan kiblat atau memengaruhi tradisi kecil yang berkembang di luar istana.

Rupanya nasi langgi telanjur digandrungi warga setempat, tanpa kecuali mbok mase di Laweyan yang mempunyai setumpuk kekayaan.

Mendapati peluang itu, bakul angkringan panjang akal (kreatif) berkolaburasi dengan simbok-simbok pemasok makanan hik guna dibuatkan nasi jenis serupa.

Nasi langgi bersama ikan wader berukuran besar dan kecil serta yuyu (kepiting) sawah tergolek di wadah angkring. Makanan jenis itu, pada 1940-an, dihargai dalam sen-senan rupiah.

Demikian sepotong kesaksian Umar Kayam yang dijuluki ”si lidah cerdas”. Biarpun murah, tubuh wader-wader ini mlenus-mlenus (gemuk), lumayan untuk pengganjal perut barang sebentar.

Konsumen lazim dijaring oleh para bakul angkringan di pusat keramaian, misalnya di depan taman kebon raja, Societeit Habipraya, Societeit Mangkunegaran, gedung kesenian Sonoharsono, Pasar Legi, kawasan Pecinan, Coyudan, dan perempatan kampung.

Jika direnungkan, fakta di atas menyiratkan kelincahan dan keuletan bakul angkringan merespons keinginan publik. Kendati tidak memegang selembar ijazah dan berasal dari perdesaan Klaten lalu hidup mengontrak rumah di kampung Boro, mereka cukup titis ”membaca” kahanan kota berumur dua setengah abad lebih ini.

Kawruh

Kebiasaan usus diprada (mengisi perut dengan makanan enak), klayapan malam, dan lingguh jigang seraya bersendau gurau yang dikerjakan warga Solo dimaknai wong Klaten sebagai kesempatan emas.

Nasi langgi menyediakan pelajaran berharga bahwa memasak sederet lauk yang dihidangkan ”hanya” demi dijual di angkringan tidak bisa diremehkan.

Pembuatan sebungkus nasi langgi melewati proses yang rumit dan membutuhkan kesabaran serta ketelitian. Artinya, para simbok berpeluh di dapur dilambari ketekunan dan kepiawaian.

Kenyataan itu sangat kontras dibandingkan laku membuat nasi kucing dan sayur oseng-oseng yang relatif sederhana. Ditelisik lebih mendalam, telah terjadi perubahan kultur dalam kehidupan sosial masyarakat.

Budaya instan dan ketergesaan menyerbu manusia Jawa tanpa ampun. Masyarakat emoh repot. Fenomena ini diam-diam menyiratkan penumpulan kreativitas dan redupnya pengetahuan resep kuliner warisan nenek moyang. Inilah sebongkah kawruh yang raib dari angkringan.


Berita Terkait

Berita Terkini

Sejarah Hari Ini: 30 November 2004, Lion Air JT 538 Tergelincir di Solo

Beragam peristiwa terjadi di dunia pada 30 November salah satunya tragedi tergelincirnya pesawat Lion Air di dekat Bandara Solo

Terlalu! Gubernur Sulsel Rela Korupsi Demi Belikan Jetski untuk Anak

Selain hukuman badan, majelis hakim juga mewajibkan Nurdin Abdullah membayar uang pengganti sebesar Rp2,187 miliar dan 350 ribu dolar Singapura subsider 3 tahun penjara.

Suami Istri di Pontianak Kompak Jual Sabu dan Ekstasi

Keduanya kami amankan berdasarkan informasi dari masyarakat ada pasangan suami istri diduga sedang membawa narkotika.

Kebiasaan Tidur yang Buruk Bikin Orang Merasa Tua, Ini Penjelasannya

Tim peneliti melaporkan ada hubungan penting antara kebiasaan tidur yang buruk dan merasa lebih tua secara umum.

Kecelakaan Karambol di Salatiga, Truk Tabrak 5 Mobil, 1 Meninggal

Kecelakaan karambol yang melibatkan truk dan lima kendaraan lain terjadi di Jalan Lingkar Selatan atau JLS Salatiga, Senin (29/11/2021) malam.

Gegara Kalah Pilkades, Calon Kades Petahana di Jember Blokade Jalan

Gegara kalah dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) Plerean, Kecamatan Sumberjambe, Jember, calon kepala desa petahana memblokade beberapa jalan.

Ini Dia Tukang Cukur Terkaya Pemilik 400 Mobil

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Ramesh Babu memutuskan mulai menjalankan pangkas rambut yang ditinggalkan mendiang ayahnya.

Bacakan Pembelaan, Nani Terdakwa Satai Beracun Sisipkan Pesan Ini

Terdakwa kasus satai beracun, Nani Apriliani Nurjaman, 25, menyampaikan sejumlah permohonan kepada majelis hakim PN Bantul saat membacakan pembelaan, Senin (29/11/2021).

Marak Penipu Bermodus Beli Kendaraan, Ini Tips dari Kapolres Sukoharjo

Kapolres Sukoharjo membagikan sejumlah tips agar terhindar dari aksi penipu yang berpura-pura hendak membeli kendaraan namun kemudian dibawa kabur sebelum dibayar.

Kembali Tampil di Konser Offline, Ini yang Dirasakan BTS

Kini BTS akhirnya harus kembali tampil offline dengan tampil di SoFi Stadium, Los Angeles, dalam konser pertama mereka sejak 2019.

Banjir Bandang Landa Wonosoco Kudus, 62 Rumah Warga Terdampak

Banjir bandang kembali melanda Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengakibatkan 62 rumah dan satu tempat wisata terdampak.

Debut Gagal Jacksen F. Tiago di Persis Solo

PSCS Cilacap membuka peluang lolos melaju ke babak delapan besar jika PSIM Jogja kalah melawan Persijap Jepara pada Selasa (30/11/2021) malam.

Ada Kaitan Varian Omicron dengan Pengidap HIV, Ini Penjelasannya

Begini kaitan antara kemunculan varian Omicron dengan pengidap HIV di Afrika.

Dipindah ke Bogor, Reuni 212 Doakan Almarhum Putra Arifin Ilham

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan dalam memberikan izin Polri harus meminta rekomendasi dari berbagai pihak.

Waduh! 14 Remaja di Maluku Utara Kedapatan Mabuk Lem

BNNP Maluku Utara bekerja sama dengan Satpol PP Kota Ternate mengamankan 14 remaja yang kedapatan sedang mabuk lem.