Wuhan Sebelum Corona: Tak Melulu Kuliner Ekstrem, Ada Kampung Muslim & Resto Halal
Salah satu sudut Kota Wuhan, China. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO -- Wuhan, kota terbesar di China bagian tengah, kini bagaikan kota hantu alias zombieland sejak wabah virus Corona novel menyebar. Tak banyak orang yang tahu tentang Wuhan sebelum wabah virus Corona novel (2019-nCoV) sehingga berpikir negatif tentang kota itu.

Penasaran dengan Wuhan, masyarakat menyerbu sebuah channel Youtube bernama Muhammad Hanif Hasballah. Dia adalah orang Indonesia yang pernah tinggal di kota itu selama 3 tahun untuk menempuh pendidikan di Huazhong University of Science and Technology.

Dalam video terbarunya, Hanif mengatakan sudah pulang ke Indonesia pada September 2019. Dia merasa beruntung bisa pulang sebelum Wuhan di-lockdown oleh pemerintah China.

Bahaya Robot Seks: Rusak Alat Kelamin Sampai Curi Data Intim

Selama tinggal di Wuhan, Hanif telah membuat sejumlah video tentang seluk beluk kota itu. Beberapa topik menceritakan soal kuliner khas Wuhan, komunitas muslim, hingga makanan halal. Yang paling menarik perhatian pasca-wabah virus Corona adalah video tentang pasar tradisional.

Dalam video itu, Hanif merekam aktivitas pasar tradisional di kawasan Hankou, Wuhan. Video tersebut diunggah pada 8 September 2019, namun terus dibanjiri pengunjung hingga lebih dari 7,5 juta views pada Selasa (4/1/2019).

Video itu mengonfirmasi situasi yang digambarkan banyak berita tentang seafood market Wuhan, tempat kali pertama virus itu ditemukan. Dalam video Hanif, pasar jalanan di Hankou menjual aneka ikan, belut, daging, kepiting, hingga bahan makanan tak lazim seperti kura-kura dan kodok hijau.

Gerbang Ini Bikin Gunung Kemukus Sragen Tak Lagi Angker

Hewan-hewan yang akan dijual untuk makanan itu dijual hidup-hidup. Penjual akan mengolah hewan-hewan hidup itu di kios mereka hingga siap dimasak. Uniknya tak jauh dari kios-kios itu, ada pedagang lain yang menjual makanan matang seperti mi.

Kampung Muslim

Sebelumnya, banyak pemberitaan yang menggambarkan hewan-hewan seperti kelelawar dan ular dijual di seafood market Wuhan. Namun hal itu tak terlihat di pasar jalanan Hankou.

Justru di kawasan itu Hanif menunjukkan beberapa restoran atau kedai makanan halal di Wuhan. Bahkan penjualnya juga seorang muslim.

"Ke mana pun kita pergi di setiap sudut kota insya Allah kita akan menemukan restoran halal," kata Hanif dalam video berjudul Pasar Traditional Wuhan, The Real China itu.

Dalam videonya yang lain, Hanif merekam aktivitas kawasan muslim di Wuhan. Di kawasan muslim, sangat mudah menemukan restoran halal bahkan masjid di sela-sela kompleks bangunan yang padat.

Perempuan Indonesia dan Majikannya di Singapura Positif Virus Corona

Data yang dirangkum Solopos.com dari berbagai sumber mengonfirmasi isi video Hanif. Di Wuhan yang dihuni 8.821.658 (berdasarkan Sensus ke-6 China 2010), 1,6% di antaranya merupakan muslim.

Berdasarkan survei pada 2017, 79,2% penduduk Wuhan mengaku tak beragama, menjalankan kepercayaan nenek moyang, termasuk 0,9% penganut Taoisme. Namun masih cukup banyak warga yang menjalankan agama masing-masing seperti Buddha (14,7%), Protestan (2,9%), Islam (1,6%), Katolik (0,3%) dan lainnya 1,6%.

Ketika virus Corona novel mewabah, hampir seluruh penduduk Kota Wuhan terkena dampaknya. Korban musibah itu tak mengenal agama maupun etnis. Ini karena Wuhan adalah salah satu metropolitan terbesar di China dan dihuni jutaan orang dari berbagai provinsi dan dunia termasuk dari Indonesia.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho