Tutup Iklan

Wringin Seto, Kepercayaan Asli Warga Blora Lahir di Solo

Ajaran Kekandangan Wringin Seto pertama kali disebarkan oleh Eyang Amiseno dan Amiluhur. Kedua eyang tersebut adalah saudara kembar yang hidup dalam rentang tahun 1818-1915.

 Pedepokan Wening, Kekandangan Wringin Seto, Bukit Soko, Kabupaten Blora (Sumber: Liputan6.com)

SOLOPOS.COM - Pedepokan Wening, Kekandangan Wringin Seto, Bukit Soko, Kabupaten Blora (Sumber: Liputan6.com)

Solopos.com, BLORA — Indonesia secara administratif mengakui enam agama, yaitu Islam, Kristen  Protestan, Katholik Roma, Hindu dan Khonghucu. Namun sejatinya, Indonesia memiliki kepercayaan asli yang sudah berkembang sebelum enam agama tersebut, salah satunya wringin seto yang merupakan kepercayaan asli warga Blora.

Menurut data Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem), di Jawa Tengah terdapat sekitar 396 aliran kepercayaan yang terbagi dalam beberapa kelompok atau organisasi. Dari jumlah itu, 60 aliran kepercayaan sudah dinyatakan tidak aktif lagi dikarenakan pengikutnya sudah memeluk keyakinan resmi yang ditetapkan negara.

Sementara itu, dilansir dari Kesbangpol.jatengprov.go.id, Rabu (20/10/2021), dari penganut aliran kepercayaan yang masih aktif tersebut, terdapat  sebuah aliran kepercayaan asli di Kabupten Blora yang memiliki jumlah pengikut terbanyak. Aliran kepercayaan itu adalah Kekandangan Wringin Seto dengan jumlah pengikut sekitar 27.000 pengikut.

Baca Juga: Tak Bisa Renang, Bocah asal Grobogan Tenggelam di Saluran Irigasi

Dilansir dari Warisanbudaya.kemendikbud.go.id, ajaran Kekandangan Wringin Seto kali pertama disebarkan Eyang Amiseno dan Amiluhur. Kedua eyang tersebut adalah saudara kembar yang hidup dalam rentang tahun 1818-1915. Keduanya merupakan perintis aliran kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Wringin Seto yang didirikan bulan Sura atau 8 September 1895 di Margoyudan, Surakarta.

Setelah mengalami perjalanan panjang hingga akhirnya kepercayaan ini dikembangkan di Kabupaten Blora, Kekandangan  Wringin Seto hingga tahun 2006 dipimpin oleh Koesoemo Soerodiningrat Soewardi (Mbah Wardi) dan kemudian ada tokoh lagi, yakni Agus Soejono Budi.

Ajaran Kekandangan Wringin Seto

Ajaran Kekandangan Wringin Seto mengajarkan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa dan segala mahkluk yang hidup di jagad raya ini berada di bawah kuasa Yang Memberi Hidup. Yang Memberi Hidup memiliki sifat-sifat wewarah nawa, sapta ing jiwaraga atau Kuasa-Nya atas WenangNya Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Dulu Sinyal Susah, Ganjar Datang Kini Internet di Desa Ini Ngebut

Berbagai tatacara ibadah yang dilakukan, antara lain pada bulan Sura atau istilahnya mapak, laku prihatin selama tiga hari, puasa, ngebleng, dan pati geni yang dilakukan bersama di sanggar. Pada tanggal 15 bulan Jawa diadakan slametan Suran, sebuah ritual doa keselamatan untuk seluruh umat dari berbagai agama. Kemudian setiap malam jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, diadakan sarasehan di sanggar.

Saat ini, komunitas Kekandangan Wringin Seto memiliki pedepokan yang terletak di Bukit Soko, Desa Soko, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora yang didirikan pada 1999. Para pengikut ajaran ini menyebut pedepokan tersebut sebagai pedepokan wening atau hening.

Sudah lebih dari dua dekade bukit ini menjadi pertapaan bagi para penghayat Kekandangan Wringin Seto. Untuk mencapai pedepokan ini tidaklah mudah, karena pengunjung harus melewati jalan menanjak. Meskipun demikian, konon banyak pejabat di Indonesia yang berkunjung ke kekandangan ini untuk mencari wangsit melalui pertapaan.

Baca Juga: Jalan Rusak di Banjarnegara Parah Banget: Brocel Kayak Sungai Kering

Banyak Dikunjungi Pejabat Negara dan Calon Pejabat Negara

Dilansir dari Liputan6.com, seorang pemerhati sejarah Kabupaten Blora, Agung Ariyanto mengatakan bahwa sejak dulu Kabupaten Blora memang dianggap mercusuar atau nusantara kecil yang kerap dikunjungi para pemimpin Indonesia. Bahkan pedepokan  ini pernah mendapatkan penghargaan kalpataru dari almarhum Presiden Soeharto.

Kedatangan para tokoh bangsa tidak satupun diketahui oleh orang luar, bahkan media. Sebab kedatangan para pejabat ini kerap tanpa pengawalan. Salah satu pengikut Kekandangan Wringin Seto, Budi mengatakan sampai sekarang ini, khususnya saat menjelang Pemilu,  masih banyak pejabat dan orang yang akan mencalonkan diri sebagai pejabat negara datang ke pedepokan ini untuk memohon harapan kelancaran.

Budi juga menceritakan, saat Orde Baru tumbang, Mbah Wardi yang juga sesepuh Kekandangan Wringin Seto sudah melihat tanda-tanda kejatuhan Soeharto sebelum resmi lengser.

Hingga saat ini, kelompok penghayat kepercayaan Wringin Seto ini tersebar di beberapa daerah di Provinsi Jawa Tengah, seperti sekitar Solo, Yogyakarta, Muntilan, Magelang, dan Rembang. Penyebaran aliran ini diketahui tidak begitu pesat karena proses dan metodenya masih sederhana, yaitu hanya melalui mulut ke mulut saja.


Berita Terkait

Espos Premium

Berita Terkini

Tanggul Sungai Jebol, Puluhan Rumah di Pati Tergenang Banjir

Puluhan rumah dan puluhan hektar sawah milik warga di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng), tergenang banjir yang diakibatkan tanggul sungai jebol.

Digelontor 2 Ton Cat, Nepal Van Java Bakal Lebih Warna-Warni

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, memberikan bantuan 2 ton cat untuk mempercantik destinasi wisata Nepal Van Java di Kabupaten Magelang.

Pengumuman! Tak Ada Penyekatan Jalan ke Jateng saat Libur Nataru

Kepolisian Daerah Jawa Tengah atau Polda Jateng belum memastikan tidak ada penyekatan jalan atau akses masuk dan keluar wilayah Jateng saat masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) nanti.

Wisata Baru Temanggung: Situs Liyangan, Peninggalan Mataram Kuno

Situs Liyangan peninggalan Kerajaan Mataram kuno merupakan wisata baru di kawasan Temanggung, Jawa Tengah.

Misteri Telaga Sunyi di Baturaden, Sering Jadi Tempat Bertapa

Telaga Sunyi di Baturaden memiliki aura mistis dan kerap dijadikan tempat pertapaan dari dulu sampai sekarang.

Carica, Buah Pepaya Unik Cuma Bisa Tumbuh di Dieng

Carica termasuk jenis buah-buahan yang berkerabat dengan pepaya, namun hanya di kawasan Dieng Plateau.

Suami Tusuk Istri Sampai Tewas, Lalu Bunuh Diri Saat Ditangkap

Kisah tragis kali ini tentang seorang pria yang membunuh istrinya, kemudian melarikan diri dan nekat bunuh diri saat hendak ditangkap polisi.

Menikmati Keindahan Alam di Sibajag Green Canyon, Berasa di Jepang Hlo!

Tempat ini unik karena terdapat jembatan bambu super panjang yang dihiasi pohon sakura khas Jepang. jembatan ini menjadi spot utama para wisatawan untuk berswafoto.

Rahasia Kelezatan Nasi Kropokhan, Santapan Favorit Sultan Demak

Nasi Kropokhan adalah makanan khas Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Makanan ini dipercaya sebagai menu favorit raja-raja masa Kesultanan Demak.

Mitos Pohon Walitis Raksasa, Bekas Tancapan Tongkat Ki Ageng Makukuhan

Nama Walitis berasal dari dua kata, yaitu wali dan titis yang berarti pohon tersebut adalah titisan seorang wali, tokoh penyebar agama Islam di Jawa.

Hujan dan Angin Kencang Landa Grobogan, Pohon Tumbang Timpa Rumah

Hujan deras disertai angin kencang melanda Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan, mengakibatkan sejumlah pohon tumbang ke jalan dan rumah.

Mantap! Ikut Vaksinasi, Warga Kudus Dapat Sepeda Motor

Vaksinasi berhadiah digelar di Kabupaten Kudus dengan hadiah berupa sepeda motor agar warga terdorong untuk menerima vaksin Covid-19.

Innalilahi! 10 Bulan, 150 Orang di Cilacap Tewas, Ini Pemicunya

Sebanyak 150 orang meninggal dunia di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) dalam kurun waktu 10 bulan, Januari-Oktober 2021 akibat kecelakaan lalu lintas.

Waduh! Giliran Kantor DPRD Jateng Digeruduk Anggota Pemuda Pancasila

Massa Ormas Pemuda Pancasila mendatangi Kantor DPRD Jateng di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jumat (26/11/2021).

Tol Semarang-Demak Seksi II Ditarget Rampung 28 Oktober 2022

Pembangunan Tol Semarang-Demak seksi II, ruas Sayung-Demak, ditarget selesai atau bisa digunakan mulai 28 Oktober 2022.