Tutup Iklan
Wonogiri, Sragen & Karanganyar Zona Kuning Covid-19
Ilustrasi Covid-19. (Freepik)

Solopos.com, WONOGIRI – Kabupaten Wonogiri saat ini berstatus sebagai zona kuning Covid-19 di Jawa Tengah. Padahal, pada akhir Juni 2020 kemarin Wonogiri tercatat masuk daftar zona hijau.

Berdasarkan data yang dilansir di laman wonogirikab.go.id, Selasa (7/7/2020), tercatat total sementara 20 kasus Covid-19 di Wonogiri. Sebanyak 13 orang sembuh, 3 meninggal dunia, dan 4 masih menjalani perawatan. Hal inilah yang membuat Wonogiri turun tingkat masuk daftar zona kuning Covid-19.

Sementara itu, jumlah PDP di Wonogiri sebanyak 71 orang, empat orang diwarat, enam orang meninggal, 61 orang dinyatakan sembuh. Sedangkan jumlah ODP sebanyak 895 orang, 33 orang masih proses pemantauan, sisanya selesai pemantauan.

Sebelum Tugu PSHT di Gesi Sragen Dirusak, Ada Konvoi Ratusan Pendekar, Siapa Mereka?

Bukan hanya Wonogiri, Karanganyar dan Sragen juga masuk daftar zona kuning Covid-19. Zona kuning artinya daerah tersebut berisiko rendah terhadap penularan Covid-19. Namun diprediksi ada beberapa penularan lokal yang terjadi.

Sampai saat ini di Karanganyar tercatat ada 50 kasus pasien Covid-19. Perinciannya 14 dirawat, 33 sembuh, dan 3 meninggal dunia.

Sedangkan Sragen mencatat total sementara ada 50 kasus Covid-19. Sebanyak 40 orang sembuh, 1 meninggal, dan 9 dalam perawatan.

Gempa Jepara Terasa Sampai Wonogiri dan Klaten: Lantai Rumah Horeg Sinyal Erupsi Merapi Bunyi

Protokol Kesehatan

Masyarakat di kawasan zona kuning Covid-19 seperti Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri, harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat untuk menekan kemungkinan transmisi lokal.

Sementara itu empat wilayah di Soloraya lainnya yakni Kota Solo, Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten, termasuk kategori zona oranye atau berisiko sedang.

Kisah Suroto Magelang, 10 Tahun Kurung Diri di Kamar Sejak Erupsi Merapi Tak Pernah Mandi 

Berbeda dengan Wonogiri, Karanganyar, dan Sragen, yang tercatat sebagai wilayah zona kuning, zona oranye menunjukkan tingkat penyebaran tinggi. Artinya potensi penularan virus tidak terkendali.

Transmisi lokal mungkin bisa terjadi dengan cepat. Termasuk dari kasus impor. Dengan demikian, klaster baru harus terus dipantau melalui tracing yang agresif.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho