Wonogiri Rawan Bencana, Ini Langkah Mitigasi Pemkab
Apel Kesiapsiagaan Bencana Banjir dan Tanah Longsor Kabupaten Wonogiri 2020-2021 di halaman Sekretariat Daerah Kebupaten Wonogiri, Sabtu (31/10/2020). (Istimewa/Istimewa BPBD)

Solopos.com, WONOGIRI – Kabupaten Wonogiri merupakan daerah rawan bencana alam dengan potensi sangat tinggi. Hampir semua jenis bencana berpotensi terjadi di Wonogiri, baik musim penghujan maupun musim kemarau.

Potensi bencana di Wonogiri merupakan konsekuensi logis karena letak geografis yang berada di zona merah bencana alam.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, pada 2019 terdapat 216 kasus bencana yang meliputi banjir, tanah longsor, tanah bergerak, tanah ambles, kebakaran, dan angin kencang. Adapun total kerugian akibat bencana tersebut mencapai Rp6,6 miliar.

Sementara itu, mulai Januari hingga Oktober 2020 telah terjadi 78 bencana di Wonogiri yang dikenal wilayah rawan dengan total kerugian mencapai Rp922 juta.

Cerita Bahagia PKL di Umbul Klaten Jualan Lagi Setelah 7 Bulan Puasa

Atas dasar itu, Pemerintah Kabupaten Wonogiri bersama dengan BPBD Wonogiri, TNI-Polri dan isntitusi lain mengadakan Apel Kesiapsiagaan Bencana Banjir dan Tanah Longsor Kabupaten Wonogiri 2020-2021, Sabtu (31/10/2020).

Apel dilaksanakan di area Sekretariat Daerah Wonogiri dengan peserta terbatas. Kemudian dilanjutkan dengan pengarahan atau rapat koordinasi melalui zoom meeting yang diikuti seluruh Forkompincam di Wonogiri.

Plt Bupati Wonogiri, Edy Santosa, mengatakan dari tahun ke tahun upaya memberikan kesadaran mitigasi bencana sudah dilaksanakan mengingat wilayahnya yang rawan.

Selanjutnya, kata Edy, sebagai penguatan prinsip mitigasi bencana di Wonogiri, dilakukan beberapa strategi untuk mengurangi risiko bencana alam. Pertama, pemetaan daerah rawan bencana. Kedua, memfasilitasi pembentukan desa tangguh bencana di seluruh wilayah. Ketiga, peningkatan kapasitas sukarelawan. Keempat, gerakan mitigasi bencana.

Jalan dari Depok ke Solo, KRL Klaten-Jogja Nyangkut di Kalioso

Hal itu dilakukan dengan melaksanakan gerakan bersih bersih sungai, penghijauan, sosialisasi dan edukasi penanggulangan bencana kepada masyarakat, serta melakukan simulasi secara rutin dan berkelanjutan sesuai prioritas ancaman bencana.

“Ini merupakan strategi yang harus diwujudkan dalam langkah nyata sebagai bentuk komitmen kesiapsiagaan bencana. Baik dari kalangan pemerintah, lembaga non pemerintah dan komponen masyarakat yang memiliki kepedulian dalam mengurangi dampak bencana di Wonogiri,” kata dia.

Edy mengatakan, tantangan ke depan dalam menghadapi potensi bencana tentunya semakin besar. Karena dibarengi dengan pandemi Covid-19 secara global, termasuk di Wonogiri.

“Konsentrasi penanganan akan terbagi antara pencegahan penularan Covid-19 dan penanggulangan kebencanaan. Kewaspadaan akan munculnya bencana alam juga sangat perlu dilakukan. Begitu juga untuk mencegah persebaran Covid-19 dan selalu menerapkan protokol kesehatan,” kata Edy.

Bikin Heboh, Ada Polling Pilkada Boyolali yang Menangkan Kotak Kosong

Kepala Pelakasana BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan hampir seluruh bencana berpotensi terjadi di wilayah Wonogiri yang rawan. Bencana yang berpotensi terjadi di Wonogiri yakni banjir, tanah longsor, tanah bergerak, angin puting beliung, dan gempa.

“Untuk benacana gempa, potensinya sedang. Tsunami juga berpotensi di daerah Kecamatan Paranggupito. Hanya satu bencana yang tidak berpotensi terjadi di Wonogiri, yakni gunung meletus,” kata Bambang.

Menurut Bambang, upaya pencegahan atau mitigasi bencana merupakan tindakan yang lebih aman dilakukan untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk.

“Semoga seluruh pihak dan masyarakat bisa mengambil peran dalam upaya mencegahan bencana. Selain itu kewaspadaan dan kehati-hatian harus selalu ditanamkan,” kata Bambang.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom