WISHNUTAMA MUNDUR: Kunci Kreativitas dan Rasa Kehilangan
Wishnutama (bisnis.com)

Wishnutama (bisnis.com)
Jagat Twitter Indonesia heboh begitu mengetahui Wishnutama Kusubandio, The Man and The Mind Behind keberhasilan TransCorporation, mendadak mundur dari posisinya. Perlu segera ditambahkan, TransTV dan Trans7 dikenal sebagai operator televisi yang tidak memesan acara dari production house atau pihak ketiga lain. Mereka membuatnya sendiri.

Dan Wishnutama-lah yang berada di balik acara-acara buatan sendiri ber-rating tinggi itu, seperti Opera Van Java, Bukan Empat Mata, Lepas Malam, Extravaganza dan lainnya. Mundurnya Presdir PT Televisi Transformasi Indonesia (TransTV) dan Direktur Produksi PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh (Trans7) itu mulai tersiar Rabu lalu.

Hingga dua hari berikutnya, Tama, begitu panggilan akrabnya, mengonfirmasi perihal kemundurannya itu. “Last day in my office,” katanya di Twitter, 13 April 2012. Dan sejak itulah, beragam simpati, apresiasi, juga spekulasi bermunculan. Ada yang menyebut dia hendak membangun bisnis sendiri, bergabung ke Indosiar, atau masuk ke Google. Sampai seolah-olah, banyak orang di Indonesia, yang meski tidak kenal bahkan tak pernah bertemu muka dengannya sekalipun, merasa kehilangan.

Kenapa bisa begitu? Apa yang membuat suporter fanatik Persipura ini bernilai di mata publik?

“Saya beberapa kali melihat dia mengobrol santai sambil duduk ketawa-ketawa dengan satpam-satpam kantor,” kata seorang karyawan TransTV yang meminta tak disebutkan namanya. “Kadang-kadang, kalau dia yakin dengan sesuatu, otoriternya keluar, tapi masih tetap terbuka menerima masukan,” kata karyawan TransTV lain.

Wishnutama memang dikenal hangat di kantornya, begitu pula oleh koleganya, dan mungkin juga oleh orang yang baru sekali dua kali bertemu muka dengannya, seperti saya. Tapi rasanya bukan itu yang jadi inti persoalannya. Sebab bukan sifat atau karakter personalnya yang membuat banyak orang seolah-olah kehilangan.

Melainkan karyanya, dan melulu karyanya. Karyanya-lah yang menjadi denominator sekaligus lokus bertemunya mood publik atas kabar beranjaknya Tama dari TransTV dan Trans7. Dan rasa kehilangan atau lebih tepat kekhawatiran akan kehilangan yang dirasakan banyak orang itu, bukan kepada Tama, melainkan kepada karyanya.

Jadi, karyanya-lah yang membuat publik merasa seolah-olah kehilangan dirinya. Kekhawatiran akan kehilangan itu pula yang membuat dirinya diperbincangkan, ibaratnya menjadi bintang dalam semalam. Singkatnya, pertanyaan ‘Apa jadinya TransTV dan Trans7 tanpa Tama?’ adalah denominasi-nya, lebih dari pertanyaan ‘Mau ke mana Tama setelah mundur?’ atau ‘Siapa yang beruntung mempekerjakannya?’

Dan saya kira, kekhawatiran kehilangan mood publik itu pula yang menjelaskan, kenapa sampai Chairul Tanjung, sang mogul media TransCorp, turun gunung sendiri untuk menggantikan Tama.

The Author is dead,” kata Roland Barthes, dalam sebuah esainya 45 tahun lalu. Tidak sukar memahami bagaimana sebuah karya bisa menjadi sejenis titik pertemuan, yang kemudian menggerakkan publik untuk merasa memiliki frekuensi perasaan sekaligus denominasi yang sama.

Seperti kata Barthes, Wisnutama telah ‘meninggal’ begitu karya-karyanya sampai ke publik. Orang tidak lagi butuh informasi siapa di balik acara-acara yang ditunggu baik di TransTV maupun Trans7. Dan pada titik tertentu, orang juga tak merasa perlu untuk tahu, tidak perlu kenal. Orang tidak butuh membaca credit title yang muncul setiap kali satu acara berakhir. Yang orang tahu, acara ini bagus, acara ini menghibur, acara ini memberikan sesuatu. Juga pada kutub yang lain, acara ini tak mendidik, acara ini sampah, maka sebaiknya disetop atau diprotes.

Sebaliknya, bagi Tama, juga kawan-kawan setimnya, tak merasa perlu menjelas-jelaskan maksud dan tujuan karya yang dibuatnya. Dalam pengertian ini, dia tidak perlu melakukan sosialisasi. Sebab, pada detik ketika acara itu ditayangkan, pada detik itu pula Tama telah ‘mati’ dan kehilangan denominasi sekaligus determinasinya. Publiklah yang menjadi hakim sekaligus pengadilannya. Dalam konteks ini, pokok bahasan yang relevan tentu saja bukanlah bagaimana selera publik menjadi hakim atas suatu acara. Melainkan bagaimana membuat acara yang bisa diterima publik secara luas.

Di sinilah kita bicara soal proses kreatif, inovasi, dan kejelian. Dan itulah yang menjadi kunci bagi Wishnutama, dalam melahirkan karyanya. Lalu dari mana dia mendapat ide briliannya? “Dari hal2 yg sederhana di sekitar kita aja,” katanya di Twitter, menjawab pertanyaan @triesnoize, seorang tweeps yang penasaran akan proses kreatifnya.

“Sekitar kita” kata Wishnutama. Dengan kata lain, publik.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho