WISATA SRAGEN : Sangiran Butuh Investor Restoran
Pintu masuk Museum Sangiran Sragen (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)

Asita Solo kesulitan mencari rumah makan yang representatif untuk menjamu wisatawan saat berkunjung ke Museum Purbakala Sangiran, Sragen.

Solopos.com, SOLO — Soloraya memiliki potensi besar untuk memaksimalkan kunjungan wisatawan. Berbagai pilihan objek wisata tersedia di kawasan ini, mulai dari budaya seperti Keraton Solo, alam seperti Tawangmangu Karanganyar, sampai arkeologi seperti Museum Purbakala Sangiran.

Diaroma manusia purba tinggal di gua, di Museum Sangiran (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)
Diaroma manusia purba tinggal di gua, di Museum Sangiran (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)

Sayangnya, banyak kendala yang menyulitkan biro perjalanan wisata mendatangkan wisatawan, terutama terkait akomodasi di daerah tujuan. Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Solo, Daryono, menyampaikan ada dua hal yang perlu disiapkan untuk menyambut wisatawan.

Pertama, fasilitas penginapan atau homestay di lokasi yang dekat dengan objek wisata, misalnya di Tawangmangu.

“Banyak destinasi wisata yang bisa dieksplorasi di Ngargoyoso, seperti Candi Sukuh, Candi Ceto, kebun teh, river tubing, dan kuliner. Di kebun teh, wisatawan tidak hanya sekadar berkunjung dan menikmati teh tapi bisa juga berkunjung ke pabrik teh sehingga wisatawan tidak hanya datang pagi dan pulang sore tapi menginap. Oleh karena itu, butuh tambahan akomodasi, khususnya homestay, jangan hotel supaya alam terjaga dan menawarkan pengalaman berbeda,” ungkap Daryono saat berbincang dengan wartawan, Minggu (23/7/2017).

Diaroma manusia purba tinggal di gua, di Museum Sangiran (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)
Diaroma manusia purba, di Museum Sangiran (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)

Menurut dia, banyak destinasi wisata yang bisa dieksplorasi untuk menambah lama tinggal wisatawan yang saat ini rata-rata hanya satu setengah hari.

Lokasi destinasi lainnya tak kalah potensial adalah kawasan wisata Museum Purbakala Sangiran dengan situs penemuan fosil, sungai purba Cemara, Museum Bukuran, dan Museum Dayu yang bisa dieksplorasi sehari penuh.

Ada juga kampung batik yang berada di Masaran yang memungkinkan wisatawan melihat langsung cara membuat batik tulis, printing, teknik scan cabutan, hingga menggunakan malam dingin.

Daryono mengatakan di Sangiran selain membutuhkan tambahan homestay juga dibutuhkan rumah makan yang representatif untuk wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Selama ini travel agent terpaksa mengajak wisatawan kembali ke Solo untuk makan siang. Padahal wisata dengan rute pergi pulang sama itu sangat tidak menarik bagi wisatawan. Nah, para investor siap menerima tantangan? Mumpung potensi wisata Soloraya berlimpah, mengapa tidak dimaksimalkan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho