Lomba Drag Race Gerobak Sapi

Wisata Sleman di bidang budaya yakni desa wisata diharapkan memiliki karakter sesuai daerah masing-masing, bukan hanya latah seperti desa lain

Solopos.com, SLEMAN-Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman meminta kepada pengelola desa wisata untuk memunculkan potensi khas yang dimiliki masing-masing desa.

Selama ini masih ada kesan latah yang mana tampilan masing-masing desa seakan sama. Hanya pemandangan alam yang ditonjolkan tanpa mengeksplorasi keunggulan lainnya.

“Kita akan gali potensi yang ada agar masing-masing desa wisata itu memiliki karakter,” kata Kepala Disbudpar Sleman, AA Ayu Laksmi Dewi, Minggu (23/8/2015).

Upaya ini dilakukan agar 30 desa wisata di Sleman mampu menyuguhkan potensinya masing-masing. Karena jika hanya latah desa wisata tanpa menggali potensi yang ada, perlahan-lahan akan mati.

Di satu sisi, kata Ayu, Disbudpar harus merespon baik munculnya desa wisata di Sleman. Namun di sisi lain jika tidak ada potensi yang ditunjukkan hanya akan sama dengan desa wisata yang berangsur hilang.

“Pembedanya itu apa. Potensi utama dari desa itu apa. Di sini memang ide dan kreativitas harus dimunculkan,” jelas dia.

Selama ini Disbudpar memang sudah mengapresiasi keberadaan desa wisata baru yang bermunculan. Ayu mengakui jika tidak ada dana khusus untuk pembangunan fisik di desa wisata. Hanya saja bantuan diberikan dalam bentuk pelatihan. Seperti pembinaan sumber daya manusia (SDM) yang mengelola desa wisata, sosialisasi sadar wisata, sosialisasi sapta pesona, penataan kamar home stay, dan masih banyak lagi.

Kegiatan seperti ini diberikan khususnya pada desa wisata dengan masih masuk dalam kategoti tumbuh. Di Sleman, ada 14 desa wisata yang masuk dalam kategori tumbuh. Salah satunya Desa Wisata Palgading di Dusun Palgading, Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik.

Pengelola desa wisata yang juga kepala dusun Palgading, Tumirah mengatakan, Disbudpar aktif menggandeng pengelola untuk mengikuti pelatihan. Ia mengakui jika selama dua tahun berdiri, Desa Wisata Palgading belum pernah mendapat bantuan dana dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman.

“Belum [dapat bantuan dana]. Bantuannya paling kita diikutkan dalam pameran. Promosi dan sarana prasarana di sini ya kita swadaya,” kata dia pada Harian Jogja.

Tumirah mengatakan, seharusnya desa wisata mendapat bantuan dari dana keistimewaan namun pada kenyataannya tidak. “Kita dapat bantuan dari dana desa sebesar Rp37 juta,” kata dia.

Bantuan tersebut akan digunakan untuk membangun sepuluh kamar mandi guna mendukung kegiatan wisatawan yang sedang melakukan outbond atau kemah.

Di desa wisata ini, salah satu karakter yang ditonjolkan ialah kerajinan kulit serat alam. Seperti desa wisata lain yang juga menawarkan lokasi outbond, tracking sungai dan sawah, kulit serat alam menjadi ciri khas Palgading yang membedakan dengan desa wisata lainnya.

Sementara untuk kategori desa wisata mandiri, seperti Desa Wisata Pulesari, Disbudpar sudah tidak banyak berkontribusi. Beberapa desa bahkan sudah memiliki jaringan dengan pihak lain yang mampu mendatangkan pemasukan.

Ayu menjelaskan bahwa kerja sama ini bukan berarti ditumbuhi investor. Bukan berarti investor datang dan mengubah konsep yang telah dibentuk pengelola sejak awal. Namun mereka hanya membantu promosi agar desa wisata mampu mendatangkan wisatawan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten