WISATA KULONPROGO : Mata Air Masjid Al-Fatah Tidak Pernah Kering
Seorang warga mengambil air dari sumber mata air yang terdapat di lingkungan Masjid Al-Fatah, Dusun Kepek, Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, Senin (29/8/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)

Wisata Kulonprogo di Masjid Al-Fatah Kepek.

Solopos.com, KULONPROGO -- Masjid Al-Fatah di Dusun Kepek, Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo memiliki sumur untuk sumber mata air yang diyakini tidak pernah kering. Banyak warga yang datang ke masjid dengan menenteng jeriken agar bisa membawa pulang air bersih setelah salat berjamaah.

Setiap kali azan terdengar berkumandang dari Masjid Al-Fatah, banyak orang berdatangan untuk melaksanakan salat berjamaah. Namun, bukan hanya mukena, peci, sajadah, atau alat salat lain yang mereka tenteng, melainkan juga jeriken. Jumlahnya juga tidak pasti hanya satu buah tapi bisa dua atau lebih.

Tokoh masyarakat setempat, Kamin Maryanto mengatakan, tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana pembuatan sumur mata air di lingkungan Masjid Al-Fatah. Berdasarkan cerita yang disampaikan turun-temurun, sumur itu disebut sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Konon, terdapat upaya penggalian untuk kepentingan penambangan. Namun, air justru keluar dari lubang galian hingga saat ini. Meski alirannya sudah tidak sekuat sebelumnya, mata air itu tidak pernah kering saat musim kemarau, tidak seperti sumur lain milik warga sekitar.

“Sudah ada sejak zaman Belanda, sejak masa simbah-simbah dulu,” ungkap Kamin, Senin (29/8) lalu.

Selain jernih, Kamin mengatakan air yang keluar juga tidak memiliki kandungan kapur sehingga lebih sehat. Menurutnya, hampir semua warga Kepek mengambil air dari Masjid Al-Fatah untuk kebutuhan minum dan masak setiap hari. Air dari sumur pribadi maupun jaringan PDAM umumnya hanya digunakan untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK).

Kamin menambahkan, banyak pula warga luar Kepek yang datang untuk mengambil air bersih setelah salat berjamaah. Asal mereka tidak melulu dari Kulonprogo, tapi juga dari Bantul, Magelang, Kebumen, dan sejumlah daerah lain. Meski begitu, Kamin menegaskan tidak ada cerita mistis apapun yang berkembang dari keberadaan mata air. Dia berpendapat, warga hanya datang untuk salat berjamaah sembari mengambil air untuk memenuhi kebutuhan air bersih. “Ambilnya bebas mau berapa kali. Kami cuma memasang kotak infak untuk perawatan mesin pompa air dan kolam penampungan,” kata pria 72 tahun itu.

Seorang warga Dusun Pereng, Desa Sendangsari, Pengasih bernama Ngadiyo mengaku biasa mengambil air dari Masjid Al-Fatah sebanyak dua kali dalam sepekan. Dia membawa air dengan menggunakan jeriken berkapasitas 25 liter. Airnya digunakan untuk minum dan memasak di rumah. “Hampir semua mata air di Kulonprogo mengandung kapur, termasuk dari PDAM. Tetapi di sini berbeda, bersih dan tidak ada kapurnya,” ujar Ngadiyo.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom