Kondisi Makam Ronggowarsito di Palar, Trucuk, Klaten, Selasa (12/11/2019). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Patung bercat hitam berdiri kokoh di kompleks Makam Ronggowarsito di Palar, Trucuk, Klaten, Selasa (12/11/2019). Patung tersebut menggambarkan sosok Ronggowarsito saat mengenakan ageman Jawa lengkap dengan belangkonnya.

Ronggowarsito merupakan pujangga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Salah satu karya monumentalnya adalah Serat Kalatida yang terdiri dari 12 bait tembang sinom.

Melalui karyanya itu, istilah zaman edan mulai dikenal di tengah masyarakat. Ronggowarsito lahir pada 15 Maret 1802 dan meninggal dunia 24 Desember 1873.

Pada 2019, Pemkab Klaten mengalokasikan anggaran senilai Rp200 juta guna “menghidupkan” lokasi tersebut. Pemeliharaan itu berupa perbaikan atap dan pengecatan ulang bangunan utama seluas 6,5 meter x 17 meter.

Kereta Api Adu Banteng, 14 Orang Tewas

Nantinya, bangunan utama tersebut juga dilengkapi alat pengusir kelelawar sebanyak enam unit. Alat ini mendesak dipasang karena saat pemeliharaan selama hampir dua bulan terakhir, pelaksana proyek di lapangan menemukan kotoran kelelawar sebanyak enam colt.

“Saya ini salah satu pengagum Ronggowarsito. Karyanya begitu besar. Konon, Bung Karno pun juga pernah ke sini. Tapi, melihat makamnya seperti ini, saya sangat prihatin,” kata salah satu warga Klaten Utara Yudistira, 44, yang ditemui Solopos.com saat berkunjung di Makam Ronggowarsito, Selasa.

Menurut dia, mestinya makam itu dapat menjadi kebanggaan bagi Klaten. Jika dikelola dengan baik, tempat itu dapat menjadi magnet bagi pengunjung yang dapat berkontribusi ke pendapatan daerah

Setiap pengunjung yang masuk ke Makam Ronggowarsito ditarik biaya tiket masuk Rp2.000. Oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jateng, makam tersebut sudah masuk cagar budaya.

Ketua DPC PDIP Solo Sebut Ganjar Pranowo Layak Jadi Presiden

Siapa pun dilarang merusak, mengambil, memindahkan, mengubah bentuk, memisahkan bagian yang ada di dalam situs dan lingkungannya.

Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan dan Pengembangan Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten, Ahmad Susanto, mengatakan pengembangan objek wisata Makam Ronggowarsito belum optimal.

Hal itu ditambah kondisi bangunan utama makam yang dipenuhi kelelawar. Selain mengganggu pengunjung, tumpukan kotoran kelelawar tersebut menimbulkan bau menyengat.

Dilihat dari kontribusi ke daerah, objek wisata Makam Ronggowarsito hanya memberikan pemasukan ke Klaten senilai Rp1,8 juta per tahun. Angka tersebut paling rendah dibandingkan objek wisata lainnya di Klaten.

Kasus Guru Ajak Murid Threesome: Polisi Temukan Tisu Magic & Kondom

“Tahun ini [2019] mulai ada perbaikan di sana. Ke depan, kami akan menjadikan makam tersebut sebagai objek wisata literasi. Gagasannya, di sana akan dilengkapi dengan berbagai karya Ronggowarsito sehingga bisa mengedukasi masyarakat tentang sosok dan karya Ronggowarsito. Sasarannya para pelajar dan generasi penerus bangsa. Dengan cara ini, semoga pemasukan dari sana juga bertambah,” katanya.

Ahmad Susanto mengatakan kontribusi terbesar terkait pendapatan objek wisata Klaten, yakni dari Objek Mata Air Cokro (OMAC) Tulung. Pada 2019, objek wisata yang menawarkan wisata air itu menjadi andalan utama Klaten dengan kontribusi Rp1,2 miliar ke PAD.

“Dari tahun ke tahun, OMAC selalu menjadi sumber pendapatan objek wisata Klaten. Di tahun sebelumnya, realisasi pendapatan OMAC belum mencapai angka Rp1 miliar,” katanya.

Viral! Bus Mira Lawan Jalur Diadang Pemotor di Sragen

Ahmad Susanto mengatakan target keseluruhan pendapatan objek wisata di Klaten pada 2019 senilai Rp2,3 miliar. Dari target tersebut, Pemkab Klaten sudah merealisasikan Rp1,75 miliar atau 73,78 persen hingga awal November 2019.

Pendapatan tersebut berasal dari sejumlah objek wisata di Klaten. Selain Makam Ronggowarsito dan OMAC, ada pula Jombor Permai, Pemandian Jolotundo, Deles Indah, dan lainnya.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten