Tutup Iklan
Menko Polhukam Wiranto (tengah) menari ketika menghadiri acara Yospan Papua saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (1/9/2019). Kegiatan yang digelar oleh masyarakat Papua yang tinggal di Jakarta itu untuk memperkenalkan kebudayaan Papua dalam seni tari dan musik serta untuk menjalin persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia./ANTARA - Hafidz Mubarak A

Solopos.com, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto menuding tokoh separatis Papua, Benny Wenda, sebagai aktor di balik konflik https://solopos.com/topic/1987/papua" target="_blank" rel="noopener">Papua. Kepala Staf Presiden Moeldoko sebelumnya juga melontarkan pernyataan serupa.

Wiranto mengatakan Benny Wenda adalah provokator karena sering menyuarakan ke dunia internasional tentang Papua. Benny, kata Wiranto, juga menjelekkan Indonesia dengan menuduh selalu menelantarkan Bumi Cendrawasih.

“Seakan-akan banyak pelanggaran HAM setiap hari, penyiksaan, pembunuhan, tetapi semua itu kan tidak benar. Kalau Benny Wenda kan sejak dulu aktivitasnya sangat tinggi. Dia ke sana ke mari, ke luar negeri, keluar masuk, memberikan informasi palsu,” katanya di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (2/9/2019).

Wiranto mengatakan tuduhan Benny adalah palsu. Alasannya, pemerintah serius dalam melakukan pembangunan di https://solopos.com/topic/1987/papua" target="_blank" rel="noopener">Papua. Dia mengajak masyarakat melawan Benny dengan cara menyebarkan informasi yang benar.

“Saya kira benar bahwa Benny Wenda memang bagian dari konspirasi untuk masalah ini. Tetapi kita harus lawan dengan kebenaran, kita lawan dengan fakta dan biasanya provokasi yang tidak benar, informasi yang menyesatkan dapat dibantah dengan fakta-fakta yang ada,” jelasnya.

Benny adalah pemimpin Serikat Gerakan Pembebasan untuk https://solopos.com/topic/1987/papua" target="_blank" rel="noopener">Papua Barat (ULMWP). Pada Oktober 2002 dia kabur dari tahanan karena menjadi provokator kerusuhan. Benny lalu pindah ke Inggris pada 2003 dan mendapat suaka politik dan membuka kantor Gerakan Papua Merdeka di Oxford pada 2013.

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten