Menko Polhukam Wiranto menjalani agenda Forum Koordinasi dan Konsultasi Informasi Publik dan Media Massa bertema "Migrasi Televisi Analog ke Televisi Digital" di Kota Semarang, Jateng, Kamis (8/3/2018). (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo)

Solopos.com, JAKARTA -- Menko Polhukam Wiranto menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) nyaris terjadi setiap tahun, khususnya pada kemarau panjang di wilayah Indonesia.

"Tahun ini kemarau lebih panjang lagi dari tahun-tahun lalu. Sekarang ini kita melaporkan kepada masyarakat bahwa dengan adanya usaha ekstra keras terutama sebelum hujan datang, kita membuat hujan. Kebakaran hutan dan lahan itu selesai kalau hujan datang," kata Wiranto di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019).

Wiranto menyebutkan terjadi penurunan titik api hingga hari ini. Pada 22 September lalu terdapat 3.869 titik api. Keesokan harinya, TNI AU yang menggiatkan langkah-langkah membuat hujan buatan berhasil mengurangi titik api hingga menjadi 1.129.

Wiranto menjabarkan penurunan titik api paling signifikan terjadi di Provinsi Riau, yang tinggal 84 titik. Sumatra Selatan tinggal 165 titik, Jambi 130 titik, Kalimantan Tengah 475 titik, Kalimantan Barat 39 titik, Kalimantan Selatan 61 titik, dan Kalimantan Timur 175 titik.

Sementara Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyebutkan ada titik cerah dalam satu pekan ke depan terkait upaya pemadaman titik api di beberapa wilayah Indonesia. "Sesuai informasi BMKG musim penghujan itu akan datang pertengahan bulan Oktober," ujar Hadi.

Panglima TNI menambahkan pada 22 September sampai satu pekan ke depan diprediksi ada angin yang bermuatan air datang dari Tenggara. Angin dari Australia yang berpotensi menciptakan awan cumulonimbus dengan uap air itu dapat menurunkan air hingga 70 persen.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten