Ilustrasi reservasi tamu hotel. (Bisnis-Andi Rambe)

Solopos.com, SOLO -- Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo menilai bisnis perhotelan di sekitar Solo masih potensial. Selain itu, pengembangan hotel di sekitar Kota Bengawan bisa mengantisipasi adanya perang harga.

Berdasarkan pengamatan solopos.com, sejumlah hotel berbintang saat ini berdiri di sekitar Solo, seperti kawasan Solo Baru, Sukoharjo, yang berbatasan dengan Solo sisi selatan serta Colomadu, Karanganyar, yang berbatasan dengan Solo sisi barat.

Bahkan ada beberapa hotel baru seperti Hotel Ramada di Colomadu dan yang Hotel Tosan di Solo Baru. Sebelumnya di wilayah Colomadu ada Lorin, Syariah dan The Alana. Sedangkan di Solo Baru ada Best Western Premier, Favehotel, Brother dan yang lain.

Marcom Manager Best Western Premier Solo Baru, Denish Ardhaneswara, mengatakan sebagai wilayah yang berada di perbatasan Kota Solo dan Sukoharjo, wilayah Solo Baru yang masih berada di Kabupaten Sukoharjo sangat prospektif untuk bisnis perhotelan.

Menurutnya hal itu disebabkan wilayah Solo Baru merupakan kawasan bisnis terpadu di wilayah Sukoharjo. "Ditambah lagi akses jalan yang mudah. Di Solo Baru juga ada dua mal besar yang turun membantu okupansi hotel. Kuliner yang lengkap, juga menjadi pendukung," kata dia, Selasa (15/1/2019).

Menurut Denish, pengunjung hotel juga datang dari berbagai kalangan. Mulai dari penyelenggara MICE baik corporate maupun pemerintah hingga travel agent, maupun tamu yang datang dari online travel agent untuk menginap. Dia mengatakan selama ini kinerja hotel masih menunjukkan pertumbuhan.

"Baik secara revenue maupun okupansi, dari tahun ke tahun meningkat," kata Denish. Dia menyebutkan secara pendapatan, pada 2018 mengalami pertumbuhan sekitar 25%. Sedangkan untuk okupansi, tembus 60%.

Perwakilan PHRI Solo Bidang Humas dan Promosi, yang juga General Manager The Alana Hotel, Sistho A. Sreshtho, mengatakan sejauh ini PHRI pro investasi.

"Hanya, sebagai catatan untuk investor, ketika ada rencana pembangunan hotel, kami beri saran agar yang dibangun adalah hotel bintang 5. Sebab saat ini hotel bintang lima belum banyak sehingga tidak menimbulkan perang harga," kata dia, Selasa.

Kedua, PHRI berharap hotel tidak dibangun di pusat Kota Solo lagi. Menurutnya penyebaran pembangunan akan menunjang pemerataan pasar serta tidak menjadikan perang harga karena banyaknya hotel yang muncul di pusat kota.

Dia menyebutkan masih ada wilayah-wilayah potensial yang belum tergarap, seperti wilayah Palur. "Sekarang bisa disebutkan apa minusnya Palur? Perguruan tinggi seperti UNS dekat, ada kawasan industri, dekat dengan Sragen yang belum banyak hotel. Dekat dengan Tawangmangu. Seperti apa kalau diolah?" lanjut dia.

Sementara itu Owner Hotel Tosan, Sigit Budi Santoso, optimistis dengan kondisi Solo yang didukung pembangunan infrastrukur dan perkembangan dunia kukiner, hotel medium akan tetap diminati.

"Dengan adanya jalan tol, solo cukup tengah. Cukup terkenal kuliner. Ke depan hotel medium cukup diminati. Tosan memberikan pilihan sebagai hotel yang lengkal secara fasilitas, kenyamanan, makanan, kami komplet," kata dia saat ditemui wartawan usai acara grand opening Hotel Tosan, Selasa. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten