Benny Lin (JIBI/SOLOPOS/Sunaryo Haryo Bayu)
[caption id="attachment_404226" align="alignleft" width="370"] Benny Lin (JIBI/SOLOPOS/Sunaryo Haryo Bayu)[/caption] April lalu, Benny gencar mengampanyekan gerakan peduli dan mencintai aksara Jawa. Sebuah banner bertulis Nulis Aksara Jawa Iku Gampang, beberapa kali muncul di acara Solo Car Free Day, saban Minggu. Demikian juga pada Minggu (28/4/2013). Di kawasan Plasa Sriwedari, pria berkulit putih dan berkaca mata ini dikerumuni penggemar aksara Jawa. Ia berjanji makin aktif menyosialisasikannya kepada masyarakat. Benny melayani permintaan tata cara penulisan nama dari pengunjung dalam aksara Jawa. Dengan memanfaatkan laptop dan program translate aksara latin ke aksara Jawa, ia dengan mudah menulis setiap nama orang dalam aksara Jawa. Sebenarnya teknologi itu bukan temuan baru. Penulisan aksara Jawa dapat dilakukan menggunakan komputer. Menurut Benny, apa yang dibangun saat ini adalah penyempurnaan transliterasi aksara latin ke aksara Jawa. “Tantangannya besar. Tapi saya suka tantangan. Saya akan lanjutkan agar aksara Jawa tidak tersisih,” tutur Benny, alumnus SMAN 3 Solo. Sejak setengah tahun lalu hingga kini, dia bergelut dengan aksara Jawa, menyempurnakan teknik transliterasi itu. Banyak pihak yang memberi saran dan kritik terkait kelengkapan penulisan dan tata cara yang benar. Hal ini kian memberinya motivasi untuk melanjutkan proyek nguri-uri budaya Jawa ini. “Saya ingin bertemu para dosen yang ahli, ingin share soal ide saya ini,” ujarnya. Benny juga berharap mendapatkan saran dari pemerhati dan pencinta aksara Jawa. Masyarakat yang ingin mencoba situs alih aksara ini bisa membuka situs is.gd/nulisa “Nulisa karena saya ingin orang suka dan menulis aksara Jawa. Di mana-mana, selalu saya tekankan nulisa, nulisa, nulisa,” kata Benny. Ia berharap mendapat respons yang positif dari masyarakat tentang pengenalan ini. Kemudian orang yang peduli terhadap aksara Jawa kian bertambah. Ia menegaskan teknologi ini akan mempermudah belajar bahasa Jawa, bukan membuat orang malas untuk belajar. “Ini membantu, mempermudah [belajar]. Bukan lalu anak malas belajar atau menghafal. Anak tetap harus menghafal untuk dapat membaca dan alih ke aksara latin,” tutur Benny. Teknologi ini, tuturnya, juga dapat digunakan untuk menyadur literatur kuno di sejumlah museum di Solo. “Untuk membantu ini, harus bisa membaca, lalu disalin di komputer, kemudian tulisan dimasukkan ke program. Aksara ini lalu bisa dicetak,” lanjutnya. Benny mengaku karyanya ini masih jauh dari sempurna. Dalam penulisan aksara Jawa, ada sejumlah aturan khusus. Terlebih dengan adanya ketentuan ejaan Sriwedari, hal itu makin membuat dia tertantang.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten