Wiji Thukul dan Kemerdekaan
Wahyu Susilo (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Siapa pun yang telah menonton film Istirahatlah Kata-Kata pasti teringat adegan pendek di warung kopi di pinggir Sungai Kapuas. Ada puisi pendek yang dibacakan Wiji Thukul dalam adegan tersebut.

Kemerdekaan itu nasi,

Dimakan jadi tai

Puisi itu menjadi pertanda pertama Wiji Thukul berurusan dengan aparat keamanan pada masa Orde Baru. Puisi tersebut dibacakan Wiji Thukul pada dekade awal 1980-an di panggung acara tujuh belasan.

Saat itu ada tradisi di setiap kelurahan di Kota Solo menggelar panggung tujuh belasan dengan berbagai acara kesenian mulai dari lagu, tari, dan puisi serta biasanya diakhiri dengan pertunjukan dangdut.

Seingat saya, seusai membaca puisi tersebut Wiji Thukul langsung digelandang bintara pembina desa dan dan aparat Koramil Jebres untuk diinterogasi. Bulan Agustus memang istimewa bagi Wiji Thukul. Di bulan ini, tepatnya tanggal 26 Agustus 1963, ia dilahirkan di kampung Sorogenen, Kota Solo.

Pada masa kepenyairan dan dilanjutkan masa perlawanan terhadap Orde Baru, bulan Agustus juga selalu menjadi catatan penting bagi Wiji Thukul tentang makna kemerdekaan dan realitasnya pada masa Orde Baru.

Wiji Thukul adalah orang yang sama sekali tidak memedulikan hari ulang tahunnya seperti dia juga menganggap hari raya keagamaan dan peringatan hari nasional sebagai hari yang biasa. Ini dia abadikan dalam puisi Tiga Sajak Pendek ketika dia sudah memasuki usia dewasa, 20 tahun.

Pada bagian ketiga puisi ini dia menulis:

Kembali sepatuku jebol

(dua puluh tahun hidup cuma cerita saja)

Panas aspal jalanan musim buruk

Dan matahari yang demam

Melelehkan hari-hari besar maupun biasa

Lebaran, Natal, 17 Agustus…, ah, apa artinya?

Kini kembali

Kembali Aku tertegun

Memandang Lingkaranmu.

Perlawanan terhadap kemapanan dan keseragaman telah tumbuh sejak Wiji Thukul bergabung dengan Sarang Teater Jagat yang dipimpin Cempe Wisesa Lawu Warta, seorang aktor Bengkel Teater yang diasuh W.S. Rendra. Lakon Barong Kemamang adalah partisipasi perdana Wiji Thukul dalam kelompok ini.

Pementasan lakon ini diselenggarakan di aula SMKI Konseravtori Indonesia, tempat Wiji Thukul menempuh pendidikan menengah atas yang tak tuntas. Wiji Thukul telah lama menyimpan kenangan buruk tentang sistem persekolahan yang memenjarakan.

Dalam puisi Kenangan Anak-Anak Seragam, kenangan buruk itu di tumpah ruahkan. Tentang uang sekolah yang telat, kedisiplinan sekolah, tentang kurikulum, tentang hafalan nama presiden, tentang sistem penilaian.

Inilah  penggalan puisi itu:

Pada masa kanak-kanakku

Aku jadi seragam

Buku pelajaran sangat kejam

Aku tidak boleh menguap di kelas

Aku harus duduk menghadap papan di depan

Sebelum bel tidak boleh mengantuk

Tagihan atas tunggakan pembayaran uang sekolah tampaknya juga menyimpan kenangan tersendiri bagi Wiji Thukul. Selain di puisi Kenangan Anak-Anak Seragam, kenangan ini juga tercatat di beberapa puisinya antara lain Nyanyian Abang Becak, Apa yang Berharga dari Puisiku, dan Balada Pak Bejo.

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau adikku tak berangkat sekolah

Karena belum membayar SPP  

Realitas kehidupan yang dialami langsung itulah yang kemudian menjadi pembanding atas retorika kemerdekaan yang selalu digelorakan pada setiap bulan Agustus. Pada sepanjang masa, baik pada dekade 1980-an maupun 1990-an, puisi-puisi Wiji Thukul selalu mengontradiksikan retorika kemerdekaan dan realitas kehidupan yang dia hadapi, kampungnya, dan masyarakat pada umumnya.

Dalam puisi Sukmamu Merdeka, secara reflektif Wiji Thukul memaknai kemerdekaan atas situasi yang dia hadapi sebagai manusia yang dilahirkan dari keluarga miskin, sebagai penganggur yang tidak punya pekerjaan.

Sukmaku merdeka

Tidak tergantung kepada departemen tenaga kerja

Semakin hari semakin nyata nasib di tanganku

Tidak diubah oleh siapa pun

Tidak juga akan oleh Tuhan pemilik surga

Apakah ini menyakitkan? Entahlah  

Pertanyaan dan gugatan puisi Wiji Thukul tentang kemerdekaan semakin tajam ketika dia menyadari bahwa seni bisa untuk menggerakkan perlawanan terhadap ketidakadilan. Dalam puisi Sajak Suara, Wiji Thukul menegaskan bahwa bersuara adalah bagian dari kemerdekaan.

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam

Mulut bisa dibungkam

Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

Dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan

Di sana bersemayam kemerdekaan

Apabila kau memaksa diam

Aku siapkan untukmu pemberontakan!

Pada bulan Agustus 1995 ketika pemerintahan Orde Baru menggelar peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia dengan slogan ”Indonesia Emas”, Wiji Thukul yang saat itu sudah menjadi penggerak Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat atau Jaker menggelar peringatan tandingan dengan tajuk Indonesia (C)emas.

Jaker bekerja sama dengan seniman dan budayawan progresif menggelar pameran seni rupa pembebasan serta diskusi budaya perlawanan pada masa Orde Baru. Acara yang digelar secara sederhana di Sanggar Suka Banjir, Kalangan, Jagalan, Solo itu dibubarkan oleh aparat militer karena dianggap mengganggu kesakralan peringatan hari kemerdekaan Indonesia.

Beberapa seniman dan budayawan yang hadir di acara tersebut seperti Dadang Christanto (seniman patung, sekarang bermukim di Australia) dan Hilmar Farid (budayawan cum sejarawan, sekarang Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) diinterogasi oleh aparat militer. Wiji Thukul yang menjadi sasaran penangkapan berhasil meloloskan diri dari penyergapan dan akibat peristiwa tersebut ia terus menjadi incaran aparat keamanan.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom