Webinar RS Indriati-Solopos: Olahraga Sesuai Kondisi, Ubah Gaya Hidup Kunci Jantung Sehat
Tangkapan layar Webinar “Tren Olahraga dan Menjaga Kesehatan Jantung di Era Pandemi Covid-19 bersama RS Idriati Solo Baru, pada Sabtu (10/10/2020).

Solopos.com, SOLO – Berbagai jenis olahraga kini mulai digandrungi oleh berbagai kalangan. Bahkan, orang-orang yang tak pernah berolahraga sebelumnya, kini ikut-ikutan menjadi olahragawan. Olahragawan pemula tersebut pastinya belum tahu bagaimana kondisi awal tubuhnya yang sebenarnya dan hanya asal olahraga saja. Tentunya, hal ini cukup mengkhawatirkan dan malah tak memperoleh manfaat apapun dari olahraga.

Untuk itu, Solopos TV bersama Rumah Sakit (RS) Indriati Solo Baru, Sukoharjo mengadakan webinar bersama dr. M. Triadhy Nugraha Y., Sp.JP (K) FIHA, Sabtu (10/10/2020). Webinar yang dipandu oleh Redaktu Solopos, Alvari Kunto Prabowo itu mengangkat  tema“Tren Olahraga dan Menjaga Kesehatan Jantung di Era Pandemi Covid-19".

Webinar yang disiarkan melalaui zoom dan chanel Youtube Solopos TV itu juga didukung oleh  Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Universitas Muhamammadiyah Surakarta, serta Fakultas Kesehatan dan Olahraga UNS Solo.

Di awal webinar, dr. M. Triadhy Nugraha  mengatakan bahwa olahraga baik di masa pandemi ataupun tidak, itu memiliki prinsip olahraga yang sama dan mampu meningkatakan imunitas. Hanya intensitas olahraga ini berbeda setiap orang.

Namun ada hal yang perlu diperhatikan, seperti social distancing atau menjaga jarak dengan yang lain. Ketentuan tersebut tentunya sedikit menyulitkan terutama kita yang suka berolahraga di tempat ramai.

Keren Banget! Ini Cara Warga Serengan Solo Agar Dagangan Semua UMKM Laku

Olahraga Aerobik

Olahraga aerobik bisa menjadi salah satu pilhan karena mampu menjaga kesehatan paru-paru dan jantung. “Pada prinsipnya semua olahraga itu baik, di hampir setiap usia dan kondisi bisa memilih yang bersifat aerobik. Itu karena olahraga ini menyerap banyak oksigen dan mengeluarkan banyak karbon dioksida, sehingga sirkulasi darah baik di paru-paru yang disirkulasikan ke seluruh tubuh itu baik,”ujarnya.

Aerobik sangat baik untuk memperbaiki kinerja  jantung dan paru-paru. Apalagi dalam kondisi seperti ini, paru-paru yang jadi target utama infeksi virus Covid-19. Paru-paru juga terkait dengan fungsi jantung, di mana udara atau oksigen yang masuk ke paru-paru akan menggantikan darah kotor yang sebelumnya dialirkan di seluruh tubuh.

“Kalau paru-paru bermasalah, maka jantungnya juga bermasalah, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu olahraga bersifat aerobik itu fungsinya dua sebenarnya, memperbaiki paru-paru dan fungsi jantung sekalian. Selain juga, memperbaiki sirkulasi ke otak untuk pencegahan stroke.” tuturnya

Jalan kaki bisa menjadi pilihan olahraga yang paling sederhana, begitu juga dengan lari, berenang ataupun bersepeda yang kini sedang tren. Tetapi, Masalahnya, saat ini semua kegiatan itu, membuat kita bertemu orang lain hingga membuat orang-orang abai mengunakan masker. Padahal, masyarakat harus menerapkan 3M, yaitu menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker.

Tetapi jika kita berolahraga di rumah, tidak masalah jika tidak menggunakan masker.“Dalam hal ini, kalau kita ada di rumah ya tidak perlu pakai masker, karena tidak bertemu banyak orang hanya keluarga saja. Lalu jika diakukan di indoor, itu cukup dengan menjaga jarak dengan orang di sekitar kita,”ujarnya.

Ia juga tak menyarankan untuk berolahraga seperti atlet yang akan bertanding. Berolahraga secukupnya dan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Jika berenang dan bersepeda usahakan untuk menjaga jarak dan menghindari berenang di area ramai. Saat bersepada, pesepeda juga jangan sampai lupa memakai masker.

“Jika bisa, tidak konvoi dengan satu baris, tapi kanan dan kiri karena embusan napas dari depan bisa terhirup ke belakang. Meskipun hal ini bisa membuat jalan jadi penuh,”sarannya.

Ini Pentingnya Jujur terhadap Status Positif Covid-19 yang Dialami

Olahraga Sesuai Kondisi

Ia juga menyarankan untuk tidak memakai masker scuba dan masker yang terlalu ketat saat berolahraga. Masker scuba, hanya bisa menyaring polutan dan tidak bisa melindungi kita dari virus yang lebih kecil dari debu.

Sedangkan masker medis atau masker yang ketat dikawatirkan akan menggangu sirkulasi udara dan embusan karbondioksida tidak dapat terbuang secara sempurna. Akibatnya, karbondioksada akan tertahan di masker dan kembali terhirup serta akan membahayakan paru-paru dan jantung.

Bagi pengidap penyakit jantung, usahakan berolahraga sesuai kondisi. Apabila memilih berolahraga di tempat fittnes bisa memilih olahraga aerobik seperti treadmill, sepeda statis, atau senam aerobik. Perhatikan juga fitness center apakah sudah sesuai protokol kesehatan, misanyal dengan pembatasan peserta senam jika ruangan terbatas.

Lalu, bagaimana pertanda dini penyakit jantung? Sebenarnya penyakit jantung memiliki banyak tanda. Namun, secara umum pertandanya adalah mudah capek, dada terasa berat atau tidak nyaman, sesak napas atau ngos-ngosan saat kegiatan ringan atau bahkan saat istirahat.

Tak hanya itu, ia juga mengatakan mengenai jantung berdebar yang bisa disebabkan berbagai faktor. Hal ini tak hanya karena penyakit jantung, namun bisa juga karena gangguan di paru-paru atau lambung dan kecemasan. jika dari jantung, kemungkinan terdapat gangguan kelistrikan atau irama jantung atau juga jantung coroner.

Tren Pelanggaran Protokol Kesehatan Solo Turun, Karena Sanksi Sosial Bersihkan Sungai?

Mengubah Gaya Hidup adalah Terapi Awal

Untuk merawat jantung agar lebih sehat, sebaiknya kita mencegah sesuatu yang membahayakan jantung seperti pola makan agar tekanan darah stabil. Kemudian, berhenti merokok dan berolahraga juga bisa dilakukan agar jatung tetap sehat.

“Jadi prinsipnya, semakin kita terlatih untuk bergerak, denyut jantung itu akan semakin lambat bukan semakin cepat. Beda dengan orang yang tidak terlatih, sebentar di suruh gerak itu akan semakin cepat dan menyebabakan berdebar.”

Penobatan itu ada dua yaitu pencegahan dan kuratif atau mennggebalikan fungsi jantung seperti sebelum sakit. Pencegahan itu lebih baik, apalagi jika punya faktor risiko seperti keturunan orang tua dan jenis kelamin, dan usia. Sedangkan gaya hidup juga menjadi faktor risiko namun hal tersebut dapat dihindari.

Penyakit yang berasal dari genetik itu tidak bisa diprediksi. Namun, yang penting adalah mencegah secara dini dan tahu riwayat kesehatan dari silsilah keluarga. Lalu, gaya hidup adalah hal yang harus diperhatikan karena hal ini adalah terapi pertama yang harus dilakukan pada pengobatan. Penggunaan obat herbal, juga bisa dikombiansikan dengan obat kimia. Namun, obat herbal ini juga sudah harus terverifikasi oleh pemerintah.

“Itu tidak bisa menggantikan obat yang harus diminum, tapi bisa sebagai suplemen,” ujarnya.

Hal- hal yang Diperhatikan Ketika Berolahraga

Sementara itu, cuaca juga ikut berpengaruh pada kinerja jantung. Sehingga dr. Triardhy tidak menganjurkan untuk berolahraga terutama di cuaca ekstrem termasuk olahraga yang dalam ruangan tertutup seperti fitness center yang ber-AC terlalu dingin. Sebab, ini akan menghalagi sirkulasi keringat yang seharusnya membuang racun-racun dalam tubuh.

Asumsi berolahraga dengan memakai pakaian berbahan parasut agar berkeringat banyak, juga tidak diajurkan, sebab dikhawatirkan keringat yang mengandung racun yang harusnya menguap malah kembali masuk lagi dalam tubuh.

Selain itu, waktu berolahraga juga perlu diperhatikan, agar saat berolahraga tubuh juga mendapat manfaatnya. kemudian juga tempat berolahraga, tempat juga harus diperhatikan, seperti udara yang bersih, lalu keramaian tempat. Setelah olahraga pun, ia menyarankan untuk tidak meminum air dingin, sebab keringat adalah pendingin alami dalam tubuh agar tidak mengalami heatstroke.

Diakhir acara, diumumkan juga pemenang voucher hotel yang dipilih dari pertanyaan terbaik dari webinar. Terdapat dua voucher, voucher pertama dari Sahid Jaya Solo yang dimenangkan oleh Darsono dan pemenang kedua adalah Arie Trianto yang mendapatkan voucher Hotel Fave Hotel Solo Baru.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom