WAYANG KULIT Membuat Kuliah Tambah Menarik
Dalang Ki Poerwahadiningrat menampilkan pertunjukan wayang kulit sebagai media pembelajaran untuk mata kuliah Politik Geografi, di di Padepokan Seni Mayangkara milik Dalang Kondang Ki Purba Asmoro, di Gebang, Kadipiro, Banjarsari, Solo, Rabu (6/3/2013) malam.
Dalang Ki Poerwahadiningrat menampilkan pertunjukan wayang kulit sebagai media pembelajaran untuk mata kuliah Politik Geografi, di Padepokan Seni Mayangkara milik Dalang Kondang Ki Purba Asmoro, di Gebang, Kadipiro, Banjarsari, Solo, Rabu (6/3/2013) malam. (JIBI/SOLOPOS/Nadhiroh)

Hanan Rananta Arbi, 18, terlihat sesekali tersenyum dan tertawa bersama teman-temannya saat menonton wayang kulit, di Padepokan Seni Mayangkara milik Dalang Kondang Ki Purba Asmoro, di Gebang, Kadipiro, Banjarsari, Solo, Rabu (6/3/2013) malam.

Pada malam itu, Dalang Ki Poerwahadiningrat menyampaikan materi mata kuliah Geografi Politik dengan metode pembelajaran baru wayang kulit.

Hanan yang merupakan mahasiswa semester II program studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu mengaku baru kali pertama menonton pementasan wayang kulit. Meski tak begitu mengerti Bahasa Jawa, Hanan merasa terbantu dengan penggunaan Bahasa Indonesia dan Inggris.

“Inovasi pembelajaran kuliah ini membuat mahasiswa tidak bosan. Mahasiswa juga enggak pasif,” ujar Hanan yang asli Bekasi itu saat ditemui Solopos.com pada sela-sela acara.

Pernyataan senada disampaikan mahasiswa HI lainnya, Krisna Pratama Yulianto, 18. Krisna yang asli Solo itu mengatakan baru kali pertama menonton wayang. Dia menganggap dengan wayang kulit, kuliah menjadi menarik dan sebagai variasi pembelajaran.

Pada kesempatan itu, Ki Poerwahadiningrat atau Prof Dr Andrik Purwasito DEA menampilkan pertunjukan Petruk Mabar Piwulang sebagai sarana menyampaikan materi kuliah Geografi Politik. Pementasan wayang kulit tersebut bakal dipamerkan pada acara Expo UNS tahun 2013 dalam rangka Dies Natalis ke-37 UNS, di Student Center Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS).

Sabetan tangan Ki Poerwahadiningrat yang merupakan Ketua Prodi HI itu begitu lihai seperti halnya seorang dalang profesional. Saat menghadirkan lakon Sirnaning Angkara, antawacana yang digunakan Ki Poerwahadiningrat  juga lancar. Adanya perubahan suara perempuan dan laki-laki dalam percakapan dan kadang-kadang mengundang tawa.

Suasana belajar itu begitu interaktif antara Ki Poerwahadiningrat dan mahasiswa yang hadir. “Indonesia itu masih kalah jauh dengan Jepang. Padahal, Indonesia itu negara kaya raya sumber daya alamnya tapi kenapa tidak maju seperti Jepang? Kenapa itu bisa terjadi? Pasti ada yang kurang benar pada pemimpin kita,” ucap Ki Poerwahadiningrat saat tampil lewat tokoh Petruk.

Ki Purba Asmoro sebagai praktisi wayang kulit dan dalang professional sangat mendukung upaya Ki Poerwahadiningrat yang menggunakan wayang sebagai alat untuk belajar.

“Sifat wayang kulit itu fleksibel. Wayang hidup sepanjang masa. Tidak hanya di bangku kuliah. Wayang kulit bisa dipakai untuk sistem pembelajaran di sekolah. Dengan memakai wayang kulit, bagi yang belum tahu menjadi tahu dan cara ini lebih menarik karena ada unsur tontonannya,” terang Ki Purba Asmoro.

Ki Purba Asmoro mengatakan wayang kulit bisa digunakan untuk mata kuliah apa saja.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom