WAYANG: Kuliah Kedokteran Sambil Menari
Namira Qiesthina (Espos/Adib Muttaqin Asfar)
Namira Qiesthina (Espos/Adib Muttaqin Asfar)

Selama ini sering muncul anggapan bahwa orang-orang dari jurusan eksakta seperti teknik, MIPA atau kedokteran selalu jauh dari dunia seni panggung. Akan tetapi sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS membuktikan bahwa anggapan itu tidak selamanya benar. Bahkan ada juga orang yang memilih masuk ke kedokteran gara-gara seni tari.

“Saya memang sudah senang menari sejak SMA, khususnya tari Saman dari Aceh. Saya juga punya sertifikatnya,” kata Namira Qiesthina, mahasiswa Kedokteran UNS yang bertahun-tahun menggeluti seni tari Saman, Sabtu (28/4) malam.

Namira memang mahasiswa kedokteran dan tentu saja seorang calon dokter. Tapi jangan ditanya soal kemampuannya menari Saman, bisa dibilang dia tak kalah dengan penari-penari yang asli dari Aceh. Hal ini bisa dibuktikan dengan sederet pengalaman internasional yang diperolehnya dengan modal menari Saman. Saat masih SMA, dia sempat terbang ke Turki untuk mewakili Indonesia dalam Folklore, sebuah festival seni dunia dan mendapat juara III. Dia juga berkesempatan datang ke Beijing, China untuk mengisi acara Kedutaan Besar RI untuk China. Begitu pula saat kelas III SMA, dia masih sempat mengikuti Asian Art Festival di Mongolia.

Pengalaman inilah yang sebenarnya ikut mendukung karirnya selepas lulus dari SMA. Bukannya masuk ke Jurusan Seni Pertunjukan, melainkan justru ke Fakultas Kedokteran. Sederet prestasinya di dunia tari ikut memperkuat namanya untuk diterima di Fakultas Kedokteran UNS.

“Dulu salah satu pertimbangannya juga dari prestasi menari,” ujarnya.

Namira sendiri bukan perempuan asal Aceh, melainkan dari Jakarta. Kiprahnya di dunia tari pun berawal rasa senangnya melihat tarian Aceh yang lumayan populer di Jakarta. Kebetulan di sana ada komunitas tempat belajar tari Saman.

“Kebetulan juga saat kuliah di sini ada komunitas kesenian. Sebenarnya bukan cuma tari, tapi yang sering tampil memang tari Saman,” katanya.

Di Fakultas Kedokteran UNS, komunitas bernama Sinus Caraticus Arcus Aorta (Scarta) ini memang punya cukup banyak peminat. Khusus untuk seni tari, para anggotanya sering tampil di berbagai event di Kota Solo. Mereka sempat tampil di Earth Hour di Ngarsapura baru-baru ini, berbagai acara universitas dan tentu saja langganan tampil di Solo Menari 24 Jam.

Setiap tahun komunitas ini pun seperti tidak pernah kekurangan generasi baru. Banyak di antara mahasiswa kedokteran yang ternyata menyukai kesenian ini. Tentu saja kesenian ini sebatas untuk menyalurkan hasrat seni mereka saja, bukan untuk mencari uang.

Meskipun bukan untuk mencari uang, aktivitas ini memang bisa mendatangkan rezeki buat mereka. Misalnya saat mereka mendapatkan job untuk mengisi sebuah acara, paling tidak ada uang saku buat mereka. Nilainya pun lumayan besar, yaitu antara Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta sekali tampil.

“Kita yang nari tentu dapat bagian lah, tapi sebagian uangnya masuk ke kas organisasi,” katanya.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho