Waspada! Tanah Longsor Mengancam 25 Kecamatan di Wonogiri Saat Musim Hujan
Kondisi tanah longsor di Jalan Lingkar Kota (JLK) Wonogiri, ruas Mapolres Wonogiri-Desa Singodutan, Selogiri, Rabu (11/3/2020). (Solopos/M. Aris Munandar)

Solopos.com, WONOGIRI -- Seluruh wilayah kecamatan yang ada di Wonogiri berpotensi terjadi bencana tanah longsor pada musim penghujan. Masyarakat diimbau untuk selalu berwaspada.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan sebanyak 25 kecamatan di Wonogiri memiliki potensi bencana pada musim penghujan, terutama tanah longsor. Jika bencana banjir, hanya terjadi di daerah tertentu.

Ia mengatakan, meski semua kecamatan berpotensi terjadi tanah longsor, namun setiap daerah mempunyai tingkatan atau klasifikasi yang berbeda-beda.

2 Bulan Berlalu Kasus Pembunuhan Sekeluarga di Baki Sukoharjo Belum Disidangkan

"Terdapat tiga tingkatan bencana tanah longsor. Mulai dari rendah, menengah hingga tinggi. Nah setiap kecamatan tingkat bencananya berbeda-beda. Itu yang harus diketahui," kata dia saat dihubungi Solopos.com, Jumat (30/10/2020).

Di Wonogiri, kata Bambang, tidak hanya daerah pelosok saja yang berpotensi terjadi longsor. Namun daerah Kecamatan Wonogiri Kota juga rawan terjadi longsor. Bahkan pada 2020, di wilayah Kecamatan Wonogiri sudah tiga kali terjadi bencana tanah longsor. Akibatnya, total kerugiannya mencapai Rp15 juta.

Menurut Bambang, daerah rawan longsor di Kecamatan Wonogiri Kota terdapat di Desa Sendang. Selain itu di Kelurahan Wuryorejo, tepatnya di area Jalan Lingkar Kota (JLK). Di lokasi tersebut pernah terjadi tanah longsor.

Berdasarkan data yang dirilis BPBD Wonogiri, dari Januari hingga Oktober, telah terjadi bencana tanah longsor di Wonogiri sebanyak 34 kejadian. Dari kejadian tersebut, kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp181.500.000.

Lebih Peka

Atas fakta tersebut, Bambang mengimbau kepada masyarakat agar hati-hati dan lebih peka terhadap lingkungan. Potensi tanah longsor bisa dimitigasi untuk meminimalkan potensi kerugian materiil dan korban.

"Pencegahan bisa dilakukan dengan tidak mendirikan bangunan di bawah tebing. Jika ada rekahan tanah di atas tebing, bergegas untuk melakukan langkah pencegahan, seperti pengeprasan," ujar dia.

Kelebihan Operasi Laporoskopi, Pasien Cepat Sembuh dan Minimal Pendarahan

Selain itu, lanjut Bambang, masyarakat bisa mengatur aliran air yang ada di daerah rawan longsor atau di sekitar tebing. Sehingga air tidak akan berhenti dan menggerus tanah.

"Hal itu harus dilakukan karena salah satu penyebab tanah longsor diakibatkan oleh tata kelola aliran air di atas tebing," kata Bambang.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom