Waspada! Pandemi Covid-19 Pengaruhi Kesehatan Mental Masyarakat
Ilustrasi mengelola stres (Freepik)

Solopos.com, SOLO — Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tak hanya berpengaruh pada perekonomian. Namun pada kesehatan mental masyarakat, karena hal itu menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan stres.

Menurut dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Triharsi Solo, dr. Wijaya Sp.KJ, ketakutan dan stres ini merupakan reaksi normal atas perubahan situasi yang dialami semua orang. Mulai dari anak-anak, orang tua, hingga lansia. Mulai dari pasien Covid-19, keluarga pasien, tenaga kesehatan hingga tenaga medis.

“Anak misalnya, cenderung lebih mudah dalam mengekspresikan perasaan cemas, khawatir, dan takut. Termasuk rasa takut yang mirip dengan orang dewasa seperti takut akan kematian, takut kerabat meninggal atau takut akan apa arti dari menerima terapi medis,” ujar dokter RS Triharsi di Jl. Mongonsidi No.82 Solo ini.

Masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan di RS Triharsi Solo bisa menghubungi telepon(0271) 656903. 646061, atau WhatsApp di nomor 0852 8000 7000. Mengenai RS Triharsi pun bisa dilihat di Facebook: RS Triharsi Surakarta, Instagram: RSU Triharsi Surakarta, dan Twitter: RS Triharsi.

Ajarkan Mencuci Tangan Sejak Dini, Begini Caranya

dr. Wijaya Sp.KJ, RS Triharsi Solo. (Istimewa)

Sementara itu, lanjut dr. Wijaya, orang tua dan siapa pun yang memiliki masalah kesehatan, teridentifikasi lebih rentan terhadap covid-19. Hal ini dapat memicu rasa takut itu sendiri dan berpengaruh pada kesehatan mental masyarakat.

“Dampak psikologi pada populasi ini dapat berupa rasa cemas dan merasa stres atau bahkan marah. Hal itu akan lebih menyulitkan untuk orang tua yang mengalami gangguan kognitif atau demensia,” terangnya.

Pingsan saat Mau ke Sawah, Warga Sengon Klaten Dievakuasi Pakai APD

Mengalihkan Pikiran

Kondisi seperti ini membuat kesehatan mental masyarakat terpengaruh selama pandemi. Tingkat kecemasan yang meningkat karena takut tertular, masalah ekonomi, dan sosial. Ini membuat rentan terkena gangguan jiwa dalam klaster gangguan cemas. Seperti reaksi stres akut dan gangguan penyesuaian, terutama akibat berubahnya kebiasaan sehari–hari secara drastis.

Dalam jangka panjang, lanjut dr. Wijaya, keadaan seperti ini juga rentan menimbulkan gangguan stres pascatrauma. Terutama pada keluarga pasien yang meninggal akibat Covid-19 dan tenaga medis yang menangani pasien corona. Apalagi adanya perlakuan tidak menyenangkan dari masyarakat.

Nyetir Mobil Sendirian Tetap Wajib Pakai Masker, Nanti Kena Razia Loh!

Keadaan seperti ini membuat sebagian orang yang memiliki kecenderungan mekanisme pembelaan ego blaming, menyalahkan pihak–pihak yang dianggap bertanggung jawab dalam timbulnya wabah corona.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengeluarkan pedoman praktis cukup baik yang bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan mental masyarakat dan psikososial selama pandemi.

Hal–hal yang dapat dijadikan catatan penting dari pedoman WHO tersebut antara lain untuk tidak mengaitkan penyakit Covid-19 dengan etnis atau nasionalisasi tertentu. Lebih baik mengalihkan pikiran dengan berempati pada siapa saja yang terinfeksi.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom