Guguran lava pijar keluar dari Gunung Merapi terlihat dari Deles, Klaten, Rabu (30/1/2019) dini hari. (Solopos-Burhan Aris Nugraha)

Solopos.com, BOYOLALI—Peningkatan aktivitas Gunung Merapi mulai berdampak pada penurunan tamu atau wisatawan asing yang menginap di homestay di kawasan Selo khususnya Desa Samiran, Kecamatan Selo, -ke-waduk-cengklik-boyolali-rusak-parah-saat-hujan-mirip-kali" title="Jalan ke Waduk Cengklik Boyolali Rusak Parah, Saat Hujan Mirip Kali">Boyolali.

Kunjungan wisatawan mancanegara ke kawasan Selo pun berkurang. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Samiran, Dayang Nevia Afriansari, mengatakan tujuan wisatawan asing datang ke Selo adalah untuk mendaki Merapi. Dengan demikian, ketika ada larangan pendakian Gunung Merapi sejak tahun lalu, otomatis jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Selo turun drastis, termasuk tamu asing yang menginap di homestay di kawasan Samiran.

Dayang berharap Merbabu bisa menjadi alternatif tujuan wisata, namun angkanya pun tidak bisa diharapkan. Dia mengatakan, dalam setahun rata-rata tamu homestay di Samiran mencapai 5.000 orang, 20% atau 1.000 orang di antaranya adalah pengunjung asal mancanegara.

“Untuk wisatawan asing rata-rata 1.000 orang per tahun. Tapi sejak -gunung-merapi-meningkat-bpptkg-terus-awasi-pertumbuhan-kubah-lava" title="Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, BPPTKG Terus Awasi Pertumbuhan Kubah Lava">Gunung Merapi ditutup untuk pendakian umum, ada wisatawan yang ganti naik ke Merbabu tapi jumlahnya juga sedikit. Jadi, saya kira tahun ini kunjungan wisatawan mancanegara untuk mencapai angka 1.000 orang sepertinya susah,” kata Dayang.

Saat ini di Samiran terdapat 50 homestay di bawah binaan pokdarwis dengan total jumlah kamar 150 buah.

Di satu sisi, kunjungan wisatawan lokal tetap stabil. Hal ini bisa dilihat dari jumlah tamu di beberapa homestay di Samiran, Selo, yang relatif masih cukup ramai terutama pada akhir pekan.

Pemilik Homestay Amanda, Sarjono, mengatakan pengunjung tetap merasa aman karena jarak puncak Gunung Merapi dengan Samiran cukup jauh sekitar 4-5 kilometer. “Mereka tetap merasa aman karena di sini cukup jauh dari puncak Merapi sehingga kalau ada apa-apa mereka tidak cepat kena imbasnya,” ujar Sarjono saat berbincang dengan Solopos.com, di Samiran, pekan lalu.

Selo masih memiliki daya tarik bagi wisatawan meski Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas. “Di sini wisatawan punya banyak pilihan kegiatan seperti melihat perkebunan, peternakan, melihat UMKM [usaha mikro kecil dan menengah], dan berinteraksi dengan penduduk. Ini yang menjadi daya tarik wisatawan tetap datang ke Samiran,” imbuh Sarjono yang sudah mengelola homestay selama 16 tahun ini.

Pemilik homestay lainnya, Sukirman, 50, mengatakan hal senada dengan Sarjono. Menurutnya, aktivitas Gunung Merapi belakangan ini tidak mempengaruhi minat wisatawan lokal untuk berkunjung ke Selo. “Pada hari Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya tetap full,” ujar pemilik Homestay Putri.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten