Waspada Corona, Warga Ngaran Klaten Tolak Pasutri Pulang Dari Bogor
Camat Polanharjo, Klaten, Joko Handoyo (dua dari kiri) memberikan penjelasan ke Dadang (tiga dari kiri) dan Ika Taryanti (dua dari kanan) saat diisolasi di gedung serbaguna Desa Ngaran, Kecamatan Polanharjo, Selasa (7/4/2020) sore. (Istimewa/Kecamatan Polanharjo)

Solopos.com, KLATEN -- Warga Desa Ngaran, Kecamatan Polanharjo, Klaten, atas nama waspada corona menolak pasangan suami istri atau pasutri yang baru pulang dari Bogor, Selasa (7/4/2020) pagi.

Penolakan tersebut didasari kekhawatiran pasutri tersebut terpapar corona lantaran Bogor termasuk zona merah pandemi Covid-19.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, pasutri yang ditolak warganya saat pulang kampung itu berdomisili di Dukuh Turus Patran RT 011/RW 006, Desa Ngaran.

Aparat Mulai Razia Warung Makan di Solo, Nekat Gelar Tikar Siap-Siap Dikukut

Pasutri tersebut bernama Dadang, 60, dan Ika Taryani, 40. Sehari-hari, Dadang bekerja sebagai penjual cilok di Ngaran. Sedangkan Ika Taryani ibu rumah tangga (IRT).

Sekitar enam hari lalu, Dadang pergi ke Tasikmalaya karena salah satu orang tuanya meninggal dunia. Dadang merupakan warga kelahiran Tasikmalaya yang mempersunting Ika Taryani, warga Ngaran.

Meski sudah diperingatkan warga agar tak bepergian ke luar daerah karena sedang waspada penularan corona di Klaten, Dadang tetap berangkat ke Tasikmalaya bersama istrinya, Ika Taryani.

Bertambah! Total 56 Karyawan Klaten Dirumahkan, 440 di-PHK

Di tengah bepergian ke Tasikmalaya itu, beberapa warga di Ngaran memantau pergerakan Dadang melalui status di Whatsapp (WA). Setelah dari Tasikmalaya, Dadang ternyata sempat mampir ke Bogor.

Jadi Isu Hangat

Kepergian Dadang ke Bogor menjadi isu hangat di tengah warga Ngaran, Klaten, yang tengah waspada terhadap penularan corona. Hingga akhirnya warga Ngaran bersepakat menolak kepulangan Dadang dan istrinya ke kampung tersebut.

Alasannya, Dadang baru saja menyambangi daerah Bogor yang menjadi zona merah Covid-19. Di Bogor, Dadang bertamu di rumah kakaknya yang kebetulan juga menggelar selamatan untuk orang tuanya.

75 ODP Kontak Erat Dengan Pasien Positif Corona di Solo Dicek Pakai Rapid Test

Dari status WA Dadang, warga memperoleh informasi warga asli Tasikmalaya itu akan pulang ke Ngaran, Selasa (7/4/2020). Sekitar 20-30 warga di Ngaran pun langsung mengelar ronda atau berjaga-jaga di beberapa gang masuk desa sejak Senin (6/4/2020) malam.

Tujuannya, warga ingin menolak kedatangan Dadang dan Ika Taryani. “Benar saja, Pak Dadang dan istrinya tiba di kampung ini, Selasa saat Salat Subuh. Pak Dadang datang dengan menumpang ojek. Sampai di pintu masuk desa, warga langsung menyetop Pak Dadang,” kata Kepala Desa (Kades) Ngaran, Sri Amidi, saat ditemui Solopos.com, Selasa malam.

Sri Amidi mengatakan waktu itu sempat terjadi perdebatan antara Dadang dengan warga yang mencegatnya. Dari perdebatan itu disepakati Dadang dan istrinya diperbolehkan masuk kampung asalkan bersedia diisolasi/dikarantina di gedung serbaguna selama 14 hari.

Tembak Mati Kekasih Lalu Bunuh Diri Takut Corona, Setelah Tes Hasilnya Negatif

"Orang tua Pak Dadang yang di sini juga setuju anaknya diisolasi terlebih dahulu," kata Sri Amidi.

Sri Amidi mengatakan Pemdes Ngaran sudah menyiapkan ruang isolasi sebelum kedatangan Dadang dan istrinya. Selain gedung serbaguna, sebagai upaya waspada corona di Klaten, pemdes juga menyiapkan balai desa dan ruko sebagai tempat isolasi warga yang baru datang dari luar daerah.

Diawasi Petugas Linmas

Di gedung serbaguna disediakan kasur, tikar, dan keperluan lainnya. Dadang juga minta disediakan televisi sebagai hiburan selama karantina. Terkait kebutuhan makan dan minum, anggota keluarga Dadang bersedia mengirim makanan dan minuman.

Round Up Corona Solo: Pasien Positif Tambah, Aparat Patroli

"Hasil obrolan kami dengan Pak Dadang, yang bersangkutan mengaku sehat. Guna memastikan Pak Dadang dan istrinya tetap di gedung serbaguna, kami akan mengawasi melalui Danlinmas Ngaran. Perlu diketahui juga, di desa kami ada 300-an warga yang merantau di daerah lain,” katanya.

Camat Polanharjo, Joko Handoyo, mengatakan penolakan warga Ngaran masih wajar. Isolasi yang dilakukan terhadap pasutri di Ngaran juga guna memastikan kondisinya aman dan sehat.

Update Corona Jateng 8 April 2020! Total 140 Kasus, 1 Dirawat di RS Kasih Ibu Solo

Hal itu juga ditujukan mencegah persebaran virus corona. “Apa yang dilakukan Pemdes Ngaran sudah baik. Sudah menyediakan ruang isolasi di waktu sebelumnya. Ini akan menjadi contoh penanganan ke depannya. Ini dilakukan untuk pencegahan,” katanya.

Joko mengatakan siapa saja bisa menjadi carrier alias pembawa virus. Karena itu untuk mencegah persebaran virus corona ini dibutuhkan kerja sama. "Semuanya harus bahu-membahu. Perlu ada kesadaran bersama karena ini untuk kepentingan bersama," kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho