Warga Desa Sayutan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, mengambil air yang dikirim BPBD Magetan, Senin (15/10/2018). (Istimewa-BPBD Magetan)

Solopos.com, SURABAYA -- Sebanyak 24 dari 39 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur (Jatim) rawan kekeringan saat musim kemarau ini. Sampang menduduki urutan pertama dengan wilayah yang paling banyak terdampak kekeringan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Suban Wahyudiono mengatakan dari 24 yang rawan kekeringan ini, totalnya ada 556 desa. Dari 556 desa, ada 199 desa yang berpotensi tidak ada air sama sekali.

"Dari 38 kabupaten/kota, 24 kabupaten yaitu 180 kecamatan, ada 556 desa yang akan mengalami kekeringan. Dari 556 ini kita petakan ada 199 desa tidak ada potensi airnya. Sisanya 367 desa masih ada," kata Suban kepada Detikcom di Surabaya, Senin (24/6/2019).

Suban menambahkan Sampang tercatat menduduki peringkat pertama sebagai wilayah yang rawan mengalami kekeringan. Ada 67 desa di Sampang tergolong rawan kekeringan. Wilayah lain yang rawan kekeringan yakni Tuban, Ngawi, Pacitan, hingga Lamongan.

"Sampang paling parah keringnya, Sampang datanya dulu 42 desa, sekarang Sampang dengan 67 desa yang rawan kekeringan, itu paling tinggi. Nomor dua Tuban ada 52 desa di 2019 ini. Yang nomor 3 Ngawi, Pacitan, Lamongan itu 45 desa," imbuhnya.

Suban menyebut pihaknya telah melakukan rapat koordinasi dengan BPBD di setiap kabupaten/kota untuk memetakan wilayah mana saja yang rawan kekeringan. Selain itu, Suban juga telah menyiapkan dana untuk pemenuhan air bersih dengan distribusi 6.000 liter air

"Kebutuhan itu bersama dengan BPBD kabupaten kota, kalau sekarang sudah ada yang minta air dicukupi BPBD kabupaten kota. Nanti kalau sudah habis baru minta ke provinsi. Kita distribusi air 6.000 liter dari provinsi," ungkapnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten