Ilustrasi penipuan (Solopos-Whisnu Paksa)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Kepala Desa (Kades) Paluhombo, Kecamatan Bendosari, -pelaku-arisan-fiktif-pakai-uang-untuk-pribadi-dan-tutup-setoran-macet" title="Pengakuan Pelaku Arisan Fiktif: Pakai Uang untuk Pribadi dan Tutup Setoran Macet">Sukoharjo, Juwanti, 51, nyaris menjadi korban pemerasan oleh oknum wartawan abal-abal bernama Yosep Agus.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Yosep Agus beraksi dengan mengatasnamakan wartawan Bhayangkara menggunakan ID card kunjungan presiden di wilayah Korem 074 Warastratama yang dikeluarkan Komando Resor Militer 074/Warastratama Penerangan pada 5 Juni lalu.

Semula Yosep mendatangi mantan Kades Paluhombo Mulyadi dan menyampaikan Kades Puluhombo yang kini menjabat bermasalah dengan ijazahnya. Pelaku bahkan menyebut ijazah persamaan SMP milik Kades Paluhombo tersebut -sukoharjo-telusuri-aset-tersangka-arisan-fiktif-di-solo-hasilnya-bikin-heran" title="Polres Sukoharjo Telusuri Aset Tersangka Arisan Fiktif di Solo, Hasilnya Bikin Heran">palsu.

Pelaku kemudian meminta mantan Kades yang masih bersaudara dengan Kades Paluhombo untuk menyampaikan hal itu. "Saya menerima informasi dari pak mantan bahwa ada yang mempermasalahkan ijazah persamaan SMP milik saya. Katanya seorang wartawan Bhayangkara atas nama Yosep Agus, dan seorang oknum LSM, tapi saya lupa namanya," ungkap Kades Paluhombo, Juwanti, kepada wartawan, Senin (9/9/2019).

Wartawan Bhayangkara merupakan wartawan gadungan yang belum terverifikasi oleh Dewan Pers tersebut bahkan mendatangi secara langsung Kades Paluhombo. Wartawan abal-abal ini menemui Juwanti di kantor maupun rumahnya dengan mengancam akan membeberkan informasi tentang penggunaan ijazah -berkedok-arisan-fiktif-tinggal-dari-hotel-ke-hotel-sebelum-tertangkap-di-sukoharjo" title="Penipu Berkedok Arisan Fiktif Tinggal Dari Hotel Ke Hotel Sebelum Tertangkap di Sukoharjo">palsu.

Juwanti diminta menyetorkan uang senilai Rp25 juta agar kasus dugaan penggunaan ijazah palsu tersebut tidak diberitakan di media massa.

"Saya bilang saja, silakan diberitakan karena tidak ada yang salah dengan ijazah persamaan yang saya miliki. Karena saya merasa benar, uang tidak saya serahkan," katanya.

Sejauh ini, dia telah meminta perlindungan Polsek Bendosari terkait kasus pemerasan tersebut. Namun hingga kini dia belum melaporkan secara resmi kasus pemerasan itu.

Dia akan melaporkan jika yang bersangkutan terus mengancam dan memerasnya. "Tapi karena pelaku sudah tidak pernah lagi mendatangi dan menghubungi, saya tidak melaporkannya dan tidak akan mempermasalahkan ke jalur hukum," katanya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten