Tutup Iklan
Dari kiri ke kanan, Ketua Panpel Persis Solo, Didik Daryanto; wartawan BBS TV Wiwit Eko Prasetyo (tengah), dan Presiden Pasoepati Aulia Haryo Suryo, saat bertemu di Madiun, Sabtu (17/8/2019). (Madiunpos.com- Abdul Jalil)

Solopos.com, MADIUN -- Panpel Persis Solo bersama kelompok suporter Pasoepati meminta maaf atas https://bola.solopos.com/read/20190817/499/1012709/aji-surakarta-kecam-aksi-kekerasan-suporter-terhadap-wartawan-di-madiun" target="_blank" rel="noopener">insiden pemukulan wartawan saat laga bertajuk Derby Mataram antara Persis Solo vs PSIM Jogjakarta di Stadion Wilis, Kota Madiun, Jumat (16/8/2019) lalu.

Diberitakan sebelumnya oleh Solopos.com, seorang wartawan televisi lokal Madiun bernama Wiwit Eko Prasetyo menjadi korban pemukulan oleh suporter saat sedang meliput kericuhan di luar Stadion Wilis Madiun. Wiwit dipukul dengan menggunakan helm oleh oknum suporter hingga membuat dahinya bengkak.

Selain menjadi korban aksi kekerasan, Wiwit juga mendapatkan intimidasi dari suporter yang saat itu ricuh. Insiden pemukulan itu kemudian dilaporkan Wiwit ke Polres Madiun Kota, Jumat malam.

Ketua Panpel Persis Solo, Didik Daryanto, bersama Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo, mendatangi Wiwit di Madiun, Sabtu (17/8/2019). Didik menyampaikan permohonan maaf kepada Wiwit atas insiden pemukulan tersebut yang dilakukan oleh oknum suporter saat laga Derby Mataram itu.

Kedatangannya ke Madiun untuk menemui korban ini sebagai salah satu bentuk itikad pertanggungjawaban atas kejadian itu. "Saya sampaikan permintaan maaf atas kejadian itu," kata dia.

Didik menyampaikan pihaknya mendukung kasus tersebut telah dilaporkan ke Polres Madiun Kota. Dia meminta kepolisian bisa mengusut tuntas kasus pemukulan terhadap wartawan itu.

Dia menceritakan kronologi kejadian saat adanya kericuhan di luar stadion saat pertandingan itu berlangsung. Saat laga berlangsung, para suporter yang ada di tribun selatan dilempar sekelompok orang dari luar.

"Saat itu ada oknum yang melempar batu ke suporter. Kami pun meminta kepada suporter untuk tenang dan tidak menanggapi itu," kata dia.

Setelah beberapa saat, ada oknum dari luar stadion yang melempar batu lagi ke tribun selatan. Hingga akhirnya banyak suporter yang berkumpul keluar stadion dan mencari orang yang melempar batu itu.

"Saat itu saya juga keliling di luar stadion. Melihat ada keributan itu, saya langsung membawa Wiwit masuk ke stadion," terangnya. Didik menyampaikan insiden ini akan menjadi evaluasi panitia untuk pertandingan selanjutnya.

Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo, meminta maaf kepada Wiwit yang telah menjadi https://bola.solopos.com/read/20190816/499/1012582/wartawan-dipukul-suporter-saat-laga-persis-solo-vs-psim-jogja" target="_blank" rel="noopener">korban pemukulan. Dia mengaku tidak mengetahui kejadian itu karena saat pertandingan berlangsung masih fokus di dalam stadion.

Dia menyayangkan aksi pemukulan tersebut, terlebih yang dipukul adalah wartawan. Menurutnya, wartawan selama ini merupakan mitra dan menjadi penyampai aspirasi suara suporter. "Kami berharap kejadian ini menjadi yang terakhir kali. Di pertandingan selanjutnya tidak ada lagi kasus seperti ini," ujarnya.

Aulia menegaskan insiden ini akan menjadi pelajaran bagi para suporter. Ke depannya, tidak ada lagi suporter yang melakulan aksi pemukulan atau intimidasi terhadap wartawan.

Ditanya terkait pelaku pemukulan, dia mengaku tidak mengetahuinya. Namun, nantinya akan berkoordinasi dengan korwil untuk mencari tahu siapa pelaku pemukulan itu. "Ini juga akan menjadi edukasi bagi para https://bola.solopos.com/read/20190816/499/1012530/persis-solo-vs-psim-jogja-jangan-anarkis-pasoepati" target="_blank" rel="noopener">suporter. Wartawan itu salah satu jembatan kami dalam menyampaikan aspirasi," terangnya.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten