Foto Gunung Merapi meletus, Minggu (17/11/2019). (Twitter/@BPPTKG)

Solopos.com, BOYOLALIWarga Desa Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, sudah terbiasa menghadapi aktivitas Gunung Merapi. Jadi, mereka sama sekali tidak cemas saat Gunung Merapi mengeluarkan letusan awan panas seperti terjadi, Minggu (17/11/2019).

Salah satu warga Desa Tlogolele, Tresno Nuryanto, 30, mengatakan, warga sudah terbiasa melihat aktivitas Gunung Merapi. Hal itu termasuk saat mengeluarkan awan panas. Warga juga memantau aktivitas Gunung Merapi secara wajar.

“Kami sudah terbiasa. Peristiwa ini satu tahun lebih seperti itu,” katanya kepada Solopos.com.

Tresno Nuryanto mengatakan kondisi Gunung Merapi masih tergolong aman. Warga di sekitar Gunung Merapi tak perlu mencemaskan status gunung yang masih waspada itu.

Diberitakan sebelumnya, Gunung Merapi meletus dan mengeluarkan awan panas Minggu siang sekitar pukul 10.46 WIB. Namun, semburan awan panas tersebut tak memengaruhi aktivitas warga di lereng Merapi.

Petugas pos pengamatan Gunung Merapi Jrakah, Ngadiyo, menyebut letusan Gunung Merapi tercatat di seismogram dengan amplitudo maks 70 mm dan durasi 155 detik. Kolom letusan teramati setinggi kurang lebih 1.000 meter.

“Angin bertiup ke barat. Masyarakat yang berada di kawasan rawan Bencana I tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa,” kata dia saat dihubungi Solopos.com.

Saat abu mulai terlihat dari puncak Merapi, beberapa warga tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Ada warga yang keluar rumah dan memadati jalan-jalan di sekitar perkampungan.

Ngadiyo menyebut warga Tlogolele yang menempati kawasan rawan bencana (KRB) I tidak mudah panik lagi menghadapi aktivitas Gunung Merapi. Pasalnya status waspada Gunung Merapi sudah ditetapkan sejak setahun lalu.

“Warga sudah tidak panik lagi menghadapi bencana ini,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten