Sejumlah warga Belanda keturunan Suriname keturunan Jawa menghadiri acara Nglaras Siteran, Ngumpul Bareng Bakdan Wong Jowo sak Donyo di Kedai Broodmet Ndalem Soditan Permai, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (19/6/2019) malam. (Solopos-Iskandar)

Solopos.com, SUKOHARJO-Sejumlah warga Suriname mengikuti perjuamuan di kediaman budayawan Andi Sate di Gumpang, Kartasuro, Sukoharjo, Selasa (18/6/2019).  Suriname adalah salah satu Negara di Amerika Latin yang banyak dihuni imigran asal Indonesia kkhususnya suku Jawa, yang dipekerjakan di perkebunan olah Belanda yang menjajah Indonesia. Karena itu tak heran di negeri yang bagian wilayah selatannya berbatasan dengan Negara Brasil ini banyak keturunan suku Jawa yang beranak pihak di sana.

Salah satu keturunan Suriname yang nenek moyangnya dari Jawa bernama Jakiem Asmowidjojo, 70, dan 36 lainnya, Selasa (18/6/2019) malam, mengikuti acara tersebut. Dia tampak nyaman mendengarkan tembang-tembang Jawa yang diiringi gendang, siter dan organ.

Mereka dengan fasih menyanyikan sejumlah tembang-tembang Jawa dengan berbagai irama musik baik keroncong, campursari, cha cha dan sebagainya. Sejumlah diaspora ini bahkan juga memperlihatkan dansa dengan mahir sehingga menghibur sejumlah warga setempat yang menyaksikan.

Jakiem mengaku senang datang di Indonesia karena dianggap sebagai wisata ke tanah leluhur. Keturunan atau generasi keempat dari orang Jawa yang dulu menjadi kuli kontrak di Suriname itu kini bersyukur bisa mengunjungi Indonesia.

Jakiem mengatakan sekarang dia dan keluarga yang tinggal di Belanda itu adalah pensiunan amtenar atau pegawai negeri. Laki-laki yang berdomisili di Utrecht, Belanda Tengah ini sudah delapan kali berkunjung ke Indonesia. Karena dia sudah 10 tahun menikmati masa pensiunnya sehingga tak terikat pekerjaan.

“Saiki aku wis ora kerja apa-apa, aku mung dolan wae. Nikmati pensiun [Sekarang saya tidak bekerja, hanya dolan saja menikmati masa pensiun],” ujar dia ketika ditemui wartawan di sela-sela acara Nglaras Siteran, Ngumpul Bareng Bakdan Wong Jowo Sak Donyo di Kedai Broodmet Ndalem Soditan Permai, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Selasa malam.

Menurut dia Kota Solo cukup terkenal di Suriname. Karena sejumlah seniman asal Kota Solo seperti Didi Kempot, Indah Laras dan sebagainya beberapa kali manggung di Suriname.

Dia menganggap Kota Solo sebagai gudangnya penyanyi yang melantunkan tembang-tembang Jawa yang bahasanya mereka pahami. Mereka yang berasal dari generasi atau keturunan keempat warga Jawa yang hijrah ke Suriname ini mayoritas lebih paham Bahasa Jawa dibanding Bahasa Indonesia.

Jakiem yang mempunyai tiga anak ini, menjelaskan nenek moyangnya berasal dari Desa Mangun Dikaran, Kecamatan dan Kabupaten Nganjuk, Jatim. Dia mengisahkan awal mula menginjakkan kaki di Indonesia heran. Karena banyak orang yang rasnya sama dengan dirinya. Kali pertama menjejakkan kaki di Tanah Jawa yang merupakan tanah leluhurnya, ujar dia, serasa pulang kampung.

“Ketika saya pertama kali datang di Indonesia heran. Kok banyak orang yang wajahnya seperti saya. Kalau di Belanda kan banyak orang kulit putih, di Suriname banyak warga dari berbagai bangsa,” ujar dia dalam bahasa Jawa ngoko sambil terkekeh.

Dia menjelaskan asal mbah buyut putra dari Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, Kotamadya Mojokerto, Jatim. Ayah dari istrinya dari Desa Sumber Cangkring, Blitar, Jatim.

Tetapi sampai saat ini dia mengaku kesulitan melacak ahli waris yang ada di daerah tersebut. Namun dia sedikit terhibur, sebab sekarang banyak orang yang bersahabat seperti layaknya saudara sedarah.

Sekarang dia di Jawa mengaku tidak mencari kerabat karena sudah banyak saudara. Sebab orang-orang yang ditemuinya di Jawa banyak yang baik hati.

Menyinggung soal makanan dia menyukai sop buntut, sayur kangkung, tempe dan sebagainya. Ditanya soal nasi goreng dan bakmi goreng dia mengatakan di Suriname sudah banyak yang berjualan makanan-makanan tersebut.

Sementara itu teman Jakiem, Ester Sastrowidjojo, 64, yang lahir di Suriname mengatakan nenek moyangnya berasal dari Salatiga, Jateng dan Surabaya. Saat ini dia berdomisili di Belanda sejak 45 tahun lalu.

Tapi dia juga mengaku belum menemukan sanak famili atau kerabat yang ada di Salatiga dan Surabaya. “Anak saya pernah menelusuri tetapi belum pernah ketemu,” kata dia dengan Bahasa Krama.

Menyinggung kunjungan ke Indonesia, dia mengaku telah beberapa kali di antaranya ke Jakarta, Bali dan Solo. Jika berkunjung ke Indonesia khususnya di Jawa dia suka masakan nasi kucing, sambal goreng, sayur kangkung, gudeg, nasi liwet, semur ikan, semur daging dan sebagainya. Kalau minuman dia mengaku suka wedang jahe dan susu jahe.

“Saya menyukai makanan-makanan dan minuman tersebut karena di Belanda tidak ada. Makanan-makanan ini saya ketahui ketika diajak Mas Andi Sate wedangan di Solo,” papar dia.

Sedangkan Andi Sate yang dulu aktif menjadi song writer, arranger dan juga penyanyi pop Jawa ini mengaku sengaja mendatangkan para keturunan Jawa yang ada di Suriname itu mengunjungi kedainya di tengah kampUng. Dia mengaku ingin menunjukkan suasana kampung di Jawa tempat Andi berdomisili.

Dia mengatakan memang baru dua kali melawat ke Suriname. Kalau Didik Kempot memang sudah beberapa kali. Hanya saja segmen musiknya sedikit berbeda, Didik lebih cenderung ke generasi yang sudah relatif tua, Andi lebih ke segmen generasi lebih muda.

“Musik Mas Didik cenderung manis sehingga orang-orang Suriname usia 40 tahun ke atas banyak yang nggathok [nyandu] dengan musik Didik Kempot. Beda dengan musik saya yang cenderung lebih dinamis atau rancak seperti selera generasi muda pada umumnya,” papar Andi.

Menyinggung acara yang digelar di kedainya, dia mengaku memanfaatkan acara Ngumpul Bakdan Wong Jowo Sak Donyo di salah satu hotel di Solo, Rabu malam, dengan menjamu para diaspora ini di kedainya.

Ternyata, papar dia, mereka senang ada di kedainya yang ada di tengah kampung di Gumpang Kartasura. Di tempat itu mereka bernyanyi diiringi kendang, siter dan organ sambil menikmati kopi dan roti isi ala Suriname di Kedai Broodmet milik Andi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten