Warga Sragen Pingsan Lihat Anak Remajanya Tewas Menggantung
Polisi dan petugas Puskesmas Karangmalang Sragen menyerahkan jenazah Febri Setiana kepada keluarganya, Selasa (23/10/2018). (Istimewa-Indon Baroto)

Solopos.com, SRAGEN -- Seorang pelajar asal Pelemgadung, Karangmalang, Febri Setiana, 18, nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri menggunakan tali yang diikatkan pada kayu belandar dapur rumahnya, Selasa (23/10/2018).

Sang ibu, Sumiyati, 50, pingsan setelah melihat anaknyaSeorang pelajar asal Pelemgadung, Karangmalang, Febri Setiana, 18, nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri menggunakan tali yang diikatkan pada kayu belandar dapur rumahnya, Selasa (23/10/2018). yang tidak lagi bernyawa dengan tubuh menggantung.

Kasi Ketenteraman dan Ketertiban (Trantib) Kecamatan Karangmalang, Sragen, Indon Baroto, menyampaikan kondisi pelajar yang tidak bernyawa itu memang diketahui kali pertama oleh Sumiyati sepulangnya dari sawah.

Dia mengatakan Sumiyati sempat berteriak meminta tolong sebelum akhirnya pingsan. Mendengar teriakan itu, warga sekitar berdatangan. Warga tidak berani menurunkan jasad remaja itu.

Warga melapor ke Polsek Karangmalang. Tim Identifikasi Fisik (Inafis) Polres Sragen datang menurunkan tubuh Febri dan melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan juga melibatkan dokter Puskesmas Karangmalang.

"Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan,” ujar Indon saat dihubungi Solopos.com, Selasa siang.

Indon menyampaikan jenazah Febri diserahkan kepada keluarga untuk proses pemakaman. Indon tidak mengetahui penyebab remaja itu gantung diri. Dia menduga Febri bunuh diri itu karena frustrasi.

Kepala SMKN 1 Kedawung, Sragen, Taryono, mengakui Febri merupakan salah satu siswa Kela XII SMKN 1 Kedawung, Sragen. Dia mengatakan selama di sekolah Febri pendiam dan tidak ada masalah dengan teman-temannya atau apa pun terkait sekolah.

Taryono mengecek sendiri kepada guru bimbingan konseling dan guru lainnya. "Tidak ada masalah dengan SPP atau apa pun terkait sekolah. Dari keterangan teman-teman sekolahnya, korban mengalami masalah keluarga. Ya, mungkin broken home atau apa. Katanya bapaknya pergi,” ujarnya.

Pegawai negeri sipil (PNS) Bidang Perlindungan Anak dan Perempuan Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Sragen, Dyah Nursari, menilai Febri bukan kategori anak karena lahir pada 29 Februari 2000 atau sudah berusia 18 tahun.

Dia mengatakan ada banyak faktor yang memicu kasus bunuh diri pada pelajar. “Kemungkinan karena beban sekolah, bullying, atau masalah keluarga. Maraknya pelajar bunuh diri itu tidak lepas dari media sosial dan tayangan televisi,” tuturnya.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom