Warga Solo Antre di Toko Mitra BPMKS Sejak Pukul 01.00 WIB
Orang tua siswa pemegang kartu BPMKS antre di depan Toko Serba Penni di kawasan Singosaren, Solo, meski toko belum buka, Selasa (25/12/2018). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Ratusan orang tua siswa pemegang kartu Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo (BPMKS) sudah memadati toko Serba Penni di kawasan Singosaren, Jl. Gatot Subroto, Solo, Selasa (25/12/2018).

Mereka mulai mengantre untuk mendapat nomor antrean berbelanja sejak pukul 01.00 WIB. Beberapa orang tua rela tidur di depan toko agar mendapatkan nomor antrean berbelanja di salah satu toko mitra BPMKS itu.

Hal itu mereka lakukan lantaran tak ingin ditolak untuk mendapat barang-barang yang mesti dibeli dengan bantuan dari Pemkot Solo. Warga Serengan, Wastiwi Suhersih, 42, mengaku rela tidur di depan toko agar mendapatkan nomor antrean berbelanja.

“Sudah dua hari saya ditolak di beberapa toko mitra BPMKS. Mumpung libur kerja saya mau nunggu bahkan tidur di depan toko,” ujarnya di depan Serba Penni, kawasan Selasa.

Ia mengaku sempat ditegur atasan tempatnya bekerja lantaran sering izin untuk mengantre nomor antrean memanfaatkan kartu BPMKS. “Kemarin saya ditegur atasan saya karena saya telat masuk kerja. Saya itu buruh tidak bisa menunggu terus di depan toko untuk mengantre seperti lainnya kalau tidak pas libur,” ujarnya.

Ia mengatakan pada Senin (24/12/2018) sudah mendatangi Toko Serba Penni tetapi nomor antreannya sudah hangus. “Ya kemarin saya ke sini [Serba Penni] tapi nomor saya sudah hangus, saya sebelumnya sudah tanya-tanya kepada warga lainnya agar bisa mengantre bersama,” ujarnya.

Hal itu juga disampaikan warga Gandekan, Jebres, Sri Mujiyanti, 51, yang rela mengantre sejak pukul 00.00 WIB bersama anaknya. “Iya susah juga anak saya juga di rumah tidak ada temannya, makanya saya ajak tidur di sini sambil menunggu toko buka,” ujarnya.

Ia mengaku hujan tak jadi penghalang banyak orang tua rela hujan-hujan untuk menunggu toko buka pukul 09.00 WIB. “Banyak orang tua yang menunggu di depan toko. Kalau anak saya, tadi waktu hujan saya telepon adik saya agar menjempunya ke sini,” ujarnya.

Ia mengaku sudah mendapatkan info terbaru mengenai perpanjangan waktu pemanfaatan BPMKS yang awalnya dibatasi paling lambat Kamis (27/12/2018) diundur hingga Minggu (30/12/2018) hingga pukul 20.30.

“Senang kalau dilonggarkan seperti ini, kan masih bisa bagi pemegang kartu yang belum membeli bisa bernapas lega,” ujarnya.

Ia mengaku sistem ini menyusahkan karena banyak orang tua yang tak bisa bekerja demi menunggu antrean belanja barang keperluan sekolah anak-anak. “Ya kasian yang orang tuanya kerja sebagai buruh pabrik, mereka kan tidak bisa menunggu lama,” ujarnya.

Petugas Satpam Serba Penni, Sri Hariyono, mengatakan pengunjung BPMKS sering mendaftar tetapi saat toko buka mereka tidak ada di lokasi. “Banyak sekali pengunjung pemegang kartu [BMPKS] yang tidak ada di lokasi saat dipanggil oleh petugas,” ujarnya.

Ia mengaku sering menerima keluh kesah pengunjung karena mereka tak bisa belanja barang yang mereka butuhkan. “Serba Penni hanya menerima kuota pemegang kartu BMPKS hanya 100 pengunjung sehari. Banyak warga yang mengeluh tak bisa berbelanja bahkan ada kejadian orang tua pingsan saat menunggu nomor antrean,” ujarnya.

Paket Komplet

Ia mengatakan Serba Penni memberikan penawaran berupa paket komplet untuk orang tua agar tidak lama mengantre. “Iya ada paket komplet tinggal milih sepatu dan tas yang mereka inginkan seperti apa,” ujarnya.

Sri Haryono mengaku alasan warga pemegang BPMKS rela sampai tidur di depan toko lantaran barang yang mereka beli langsung bisa dibawa pulang.

“Ya kalau di sini barangnya langsung dibawa tidak seperti mitra lainnya yang harus menunggu beberapa hari,” ujarnya.

Sementara itu di Luwes Gading kondisinya tak jauh berbeda. Toko yang juga menjadi mitra BPMKS itu dipenuhi warga yang mengantre sejak dini hari, Selasa. Selain itu banyak keranjang yang berserakan di depan kasir.

Salah satunya warga Jebres, Jebres, Marwani, 41, mengaku rela hujan-hujanan di depan swalayan itu. “Direwangi udan udan [rela hujan-hujan] demi bisa membelikan peralatan sekolah anak, saya antre sejak pukul 03.00 WIB dan pukul 10.00 WIB saya baru bisa masuk,” ujarnya.

Ia mengatakan banyak stok yang habis membuat orang tua yang mengantre harus mencari toko mitra lainnya. “Sudah masuk tapi stok barangnya habis. Yang kayak begini membuat orang tua harus mencari toko lainnya,” ujarnya.

Ia sudah tahu mengenai perpanjangan waktu pembelanjaan BPMKS hingga Minggu (30/12/2018). “Iya kemarin di grup Whatsapp sekolah bilang diundur sampai Minggu malam. Saya senang sekali membaca kabar ini,” ujarnya.



Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom