Kepala DLH Sukoharjo, Djoko Sutarto (kanan) menunjukkan proses penanganan limbah di Pabrik PT RUM Sukoharjo, Senin (5/2/2018). (Solopos-Trianto Hery Suryono)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Warga Tawang, Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, sepekan lalu kembali mencium bau limbah yang diduga dari PT Rayon Utama Makmur (RUM). Bau tersebut diakui tidak separah tahun lalu dan awal tahun ini yang memicu aksi demonstrasi warga terdampak.

Warga berharap kehidupan nyaman tanpa gangguan bau limbah sejak PT RUM menghentikan produksi tak terusik. Salah satu warga Tawang, Ny. Kasdi, bau tak sedap muncul sepekan lalu namun setelah itu tidak muncul lagi hingga sekarang. “Bau lagi,” ucapnya, Senin (11/6/2018).

Warga Desa Gupit, Gito, menyatakan bau limbah tidak ada. “Baunya seperti apa? Kalau bau [menyengat seperti septic tank] seperti tahun lalu tidak ada.”

Dia tinggal di sekitar aliran irigasi Bendung Colo sehingga jarak dengan pabrik jauh berbeda dengan Dukuh Tawang yang berada di belakang pabrik. Koordinator Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo, Ari Suwarno, mengakui mendapatkan laporan tentang bau tak sedap tersebut, Minggu (10/6/2018).

Dia menjelaskan laporan warga sudah diteruskan ke dinas terkait. “Kurang lebih satu pekan lalu warga Tawangkrajan, Gupit, melaporkan kembali mencium bau menyengat. Waktunya setiap pagi. Informasi warga itu sudah kami kirim ke polisi, camat, Kodim, dan Dinas Lingkungan Hidup Sukoharjo.”

Sementara itu, juru bicara PT RUM, Bintoro Dibyo Seputro, membantah ada bau tak sedap dari pabrik. Menurutnya, PT RUM masih nonaktif dan konsentrasi persiapan memasang tabung dan peralatan wet scrubber yang tengah didatangkan dan baru sampai di pelabuhan Semarang, Jawa Tengah.

“[Pabrik] RUM masih nonaktif karena alat baru datang di Semarang. Alat [wet scrubber] ada sembilan kontainer namun belum bisa dikirim ke Sukoharjo. Alat-alat tersebut diinapkan dulu di Semarang sambil menunggu hingga 25 Juni baru boleh keluar dari pelabuhan. Ada tiga tabung dengan ukuran diameter masing-masing 5,2 meter.”

Namun demikian, ujarnya, suku cadang alat tersebut sudah bisa dikirim ke PT RUM. Pengadaaan wet scrubber merupakan upaya serius dan maksimal dari PT RUM untuk mengatasi bau udara agar tidak seintensif dahulu. Bintoro mengatakan tertundanya pengiriman wet scrubber karena ada kebijakan larangan truk dan kendaraan berat kecuali pengangkut sembako melintas saat arus mudik dan arus balik Lebaran.

“Pembongkaran sembilan kontainer berisikan peralatan wet scrubber dilakukan sejak kemarin [Minggu]. Aktivitas PT RUM kosong tidak ada kegiatan apa-apa. Bau limbah bukan [bukan dari PT RUM], apa dari samping-samping PT RUM,” ujarnya.

 

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten