Warga Sejeruk Sragen Bertahan Meski Tanahnya Terus Bergerak
Petunjuk jalur evakuasi milik BPBD Sragen terpasang di depan rumah warga Dukuh Sejeruk RT 001, Desa Musuk, Sambirejo, Sragen, Senin (24/12/2018). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Rongga selebar 2 sentimeter (cm)menghiasi dinding sejumlah rumah milik warga di Dukuh Sejeruk RT 001, Desa Musuk, Kecamatan Sambirejo, Sragen. Retakan dinding rumah itu disebabkan gerakan tanah.

Bukan hanya dinding, lantai rumah pun retak karena tanahnya bergerak. Kondisi tanah di lingkungan RT 001 Sejeruk memang labil.

Di sisi lain, topografi lingkungan yang berbukit juga mengakibatkan dukuh tersebut rawan longsor. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPD) Sragen sudah memetakan lokasi Dukuh Sejeruk dengan membuat jalur evakuasi ketika sewaktu-waktu terjadi bencana.

Titik kumpul mereka berada di Dukuh Dampak sebelah barat Dukuh Sejeruk. Para warga beraktivitas seperti biasa di dukuh itu.

Sejumlah warga berkumpul di teras rumah Kasi, 55, di ujung timur dukuh itu. Rumah Kasi hanya berjarak 10 meter dari bibir Sungai Kembang. Rumah itu dihuni tujuh orang anggota keluarga.

Sri Mulyani, 30, berdiri sambil menggendong anak keduanya yang baru berumur tiga bulan. Sri sebelumnya tinggal di rumah sendiri di pinggir sungai, tepatnya 50 meter sebelah utara rumah ibunya.

Dulu, rumah Sri di dekat Jembatan Kembang. Pada 2014 lalu, Jembatan Kembang patah dan sebagian material hanyut. Dua rumah di dekatnya juga ikut hanyut diterjang banjir sungai itu. Salah satunya rumah Sri.

Kini, Sri tak memiliki rumah dan terpaksa tinggal serumah dengan orang tuanya. “Sejak 2014, keretakan tanah di dukuh ini semakin parah. Saat tanah retak, ada semacam getaran seperti gempa. Kandang juga bersuara ketika dinding ikut gerak dan akhirnya retak. Bongkahan tanah itu antara 2 cm-5 cm,” kata Sri yang berbincang dengan Solopos.com, Senin (24/12/2018).

Sri dan ibunya nekat bertahan karena tidak ada lokasi lain untuk pindah rumah. “Kalau lantai rumah bongkah ya ditambal. Tembok retak juga ditambal. Ya, begitu terus. Habis mau pindah ke mana lagi. Saat mendung tebal, kami selalu waswas. Hujan deras enggak ya? Kalau hujan, nyaris tak ada seorang pun yang berani di dalam rumah. Semua dipanggili di luar. Sewaktu-waktu ada bahaya bisa langsung lari,” kata Kasi.

Kondisi seperti itu dilakoni Kasi dan keluarganya serta warga lainnya sejak 2014. Sebelum 2014 sudah ada gerakan tanah hingga retak tetapi tidak separah setelah 2014.

Mereka ingin pindah tempat untuk mengakhiri waswas mereka. Namun apalah daya kondisi keuangan mereka pun terbatas.

Dari 40-an keluarga di Dukuh Sejeruk, ada 24 keluarga di antaranya yang menghuni rumah yang dinilai tidak layak. Rumah anggota Badan Permusyawatan Desa (BPD) Musuk, Mustaqim, pun retak-retak temboknya belum lama ini karena tanahnya labil.

Padahal Mustaqim tidak termasuk dalam 24 keluarga tersebut. Kepala Desa (Kades) Musuk, Sambirejo, Suharno, tak habis pikir tentang warga Dukuh Sejeruk. Ia pun heran kepada perilaku warga Dukuh Sejeruk yang nekat bertahan dalam kondisi rumah tidak layak dan rawan bencana.

Suharno sudah menyiapkan lokasi baru untuk warga Sejeruk dengan subsidi dari Pemkab Sragen senilai Rp40.000/meter dan setiap orang mendapat jatah 70 meter persegi.

“Tetapi mereka tidak mau direlokasi karena tempatnya tidak sesuai harapan dan keinginan mereka. Untungnya lahan alternatif itu belum dibayar. Akhirnya, kondisi mereka ya seperti itu. Untungnya beberapa waktu lalu ada antisipasi dari BPBD untuk pemasangan jalur evakuasi sehingga mereka sudah bersiap-siap ketika ada bencana datang,” tuturnya.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom