Warga Pindah, Pasar Pahingan Peninggalan Belanda di Wonogiri Mati
Pasar Pahingan di Dusun Pidekso, Desa Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri. (Solopos/M. Aris Munandar)

Solopos.com, WONOGIRI – Pasar Pahingan di Dusun/Desa Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, Jawa Tengah, sepi. Pasar peninggalan Belanda itu tampak tak terawat.

Menurut salah satu warga Dusun Pidekso, Sumino, sepinya pasar tersebut disebabkan warga di sekitar pasar sudah berpindah rumah ke beberapa daerah.

Warga memilih pindah lantaran terdampak proyek pembangunan Bendungan Pidekso. Hanya ada satu rumah yang tersisa di sekitar pasar tersebut di sisi selatan.

Nekat Susur Sungai Sempor, Pembina Pramuka SMPN 1 Turi Sleman: Kalau Mati di Tangan Tuhan

Rumah itu milik Sumino. Namun, beberapa bulan ke depan Sumino juga bakal pindah. Sumino mengatakan, hanya tersisa tiga pedagang yang berjualan di pasar tersebut. Waktunya pun juga singkat, mulai dari pukul 05.30 - 06.30 WIB. Pembeli yang mengunjungi hanya sekitar 15-20 orang.

“Kalau saya bilangnya sudah bukan pasar lagi, tetapi seperti orang yang membeli sayur di warung biasa,” kata dia saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Minggu (16/2/2020).

Pasar Pahingan hanya buka pada hari pasaran pahing dan wage. Pasar seluas 300 meter persegi itu terdiri dari dua bangunan tanpa dinding yang disangga tiang cor. Bangunan itu menampung 16 kios.

Wong Sragen Kurang Tertib Berlalu Lintas, Ini Buktinya!

Di samping bangunan ada kios seperti gubuk dari kayu. Kios yang sebagian tak beratap itu disangga kayu dan punya satu meja.

Menurut Sumino, Pasar Pahingan sudah ada sejak dia lahir pada 1957 di Dusun/Desa Pidekso. Pasar yang berjarak 30 meter dari rumah neneknya itu pernah dibom Belanda.

Pasar yang dulunya ramai itu kini mati. Sejak 2015, pembeli di Pasar Pahingan mulai berkurang akibat banyaknya pedagang sayur keliling.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho