Tutup Iklan
ilustrasi kera, monyet. (Solopos-Dok)

Solopos.com, WONOGIRI — Warga Desa Ngancar, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, resah akibat serangan kera dan babi hutan di lingkungan setempat. Warga harus memanen jagung dan padi lebih dini agar tak dirusak oleh kedua satwa tersebut.

Ironisnya, serangan kera maupun babi hutan meluas hingga ke permukiman warga Ngancar.

Kepala Desa Ngancar, Kecamatan Giriwoyo, Didik Purwanto, mengatakan serangan kera dan babi hutan memang -hektare-hutan-dan-lahan-di-wonogiri-hangus-terbakar" title="67 Hektare Hutan dan Lahan di Wonogiri Hangus Terbakar">biasa terjadi saban tahun. Namun, sejak 2017 hingga kini, serangan satwa liar itu makin mengganas.

Menurut dia, kera menyerang tegalan dan permukiman pada siang hari, sedangkan babi hutan menyerang pada malam hari.

“Banyak yang kesulitan panen di sini. Kondisi itu diperparah dengan -ke-22-solopos-bagikan-sembako-air-bersih-untuk-warga-ngancar-wonogiri" title="HUT ke-22, Solopos Bagikan Sembako & Air Bersih untuk Warga Ngancar Wonogiri">ketiadaan air jadi sebagian sawah puso. Ada sekitar 50 hektare sawah dan tegalan tak panen tahun ini akibat serangan itu,” kata dia, saat ditemui solopos.com di kantornya, Sabtu (31/8/2019) lalu.

Didik mejelaskan saat ke permukiman, kawanan kera masuk ke dalam rumah dengan membuka genteng. Lalu, kawanan itu turun melalui tiang-tiang rumah. Di dalam rumah, mereka menyasar dapur dan bagian rumah lain. Mereka mengambil apa pun yang bisa dimakan seperti nasi, jagung, dan lainnya.

Didik bercerita, di Dusun Karangasem, ada warga yang marah atas serangan itu. Mereka melumuri jagung dengan sambal dan meletakkannya di dapur. Jagung itu lantas dimakan kawanan kera. Namun, ternyata kera itu marah dan kembali ke rumah warga tadi kemudian menyerang ternak yang ada di dekat rumah.

“Di kandang, ada kambing dicabik-cabik hingga mati, genteng dirusak, bahkan telur ayam di petarangan juga dipecahkan. Sekali menyerang, kawanan kera itu berisi 10-25 ekor dalam satu kelompok,” terang dia.

Tak hanya itu, babi hutan pun dinilai tak takut lagi kepada manusia. Didik juga menerima laporan warganya diserang babi hutan yang membawa tiga ekor anaknya. Warga berusaha kabur dan -truk-penuh-kayu-sonokeling-disita-polisi-di-batuwarno-wonogiri" title="Satu Truk Penuh Kayu Sonokeling Disita Polisi Di Batuwarno Wonogiri">memanjat pohon.

Namun, induk babi hutan itu malah menunggui di bawah sembari menyeruduk pohon. “Warga tadi akhirnya hanya diam di atas tak bisa pulang. Ia berteriak-teriak minta tolong kepada warga lainnya. Kebetulan ada warga lain yang melintas dan babi hutan bisa diusir. Maka tak heran kalau warga banyak yang bawa anjing saat ke hutan,” beber Didik.

Salah satu warga, Yani Sri Hartuti, 40, menuturkan serangan kera dan babi hutan kian mengganas akhir-akhir ini. Akibatnya, ia tak bisa panen baik padi maupun jagung di lahannya yang tak seberapa luas itu.

Ia juga harus menanggung gagal panen lantaran tak ada air. “Sekarang ibaratnya paceklik. Kami betul-betul kesulitan soal pangan,” ujar dia.

Untuk bisa panen, lanjut Yani, solusinya hanya satu yakni menunggui tegalan dan sawah siang dan malam. Di Desa Ngancar, hanya ada satu warga yang rutin menjaga lahan pertaniannya siang dan malam. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten