Warga Karanganyar Ikut Kebagian Asap Kebakaran TPA Putri Cempo
Warga Dukuh Sulurejo, Desa Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, mengenakan masker karena asap dan bau sampah TPA Putri Cempo terbakar, Minggu (21/10/2018). (Solopos-Sri Sumi Handayani)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Ratusan keluarga di Dukuh Sulurejo, Desa Plesungan, Gondangrejo, ikut kebagian asap kebakaran sampah di TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo.

Gundukan sampah di TPA Putri Cempo terbakar pada Sabtu (20/10/2018) malam. Sejumlah petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api hingga Minggu (21/10/2018) pagi.

Informasi yang dihimpun Solopos.com dari berbagai sumber, sejumlah petugas pemadam kebakaran masih siaga di TPA.

Pantauan Solopos.com di perkampungan terdekat TPA Putri Cempo, yakni Dukuh Sulurejo, Desa Plesungan, Kecamatan Gondangrejo, diselimuti asap pada Minggu pagi.

Sesekali asap putih tebal menyelimuti perkampungan. Kondisi itu terjadi saat angin bertiup. Asap akan mendadak hilang saat angin tidak bertiup.

Asap diganti bau sampah basah dan kering terbakar. Bau menyengat dan kepala pening saat Solopos.com berada di lokasi selama beberapa menit.

Sejumlah warga kampung mengenakan masker saat beraktivitas di rumah, mengendarai sepeda motor, maupun sekadar duduk di teras rumah.

Seperti dilakukan, warga Dukuh Sulurejo, RT 006/RW 009, Putut Handoko, beserta anak-anak dan keponakannya. Mereka duduk di teras rumah sembari menyedot es di plastik bening.

Putut bercerita kejadian Sabtu malam itu, api berkobar tinggi dan terlihat dari rumahnya yang hanya berjarak puluhan meter dari TPA. Kebakaran sampah di TPA Putri Cempo sering terjadi tetapi menurut dia api tidak sebesar pada Sabtu malam itu.

"Apinya besar sekali. Asapnya lebih tebal kali ini dibanding kejadian sebelum-sebelumnya. Sebetulnya tiap musim kemarau itu terbakar tetapi enggak sebesar kemarin [Sabtu] malam," kata Putut saat berbincang dengan wartawan di teras rumahnya, Minggu.

Putut dan keluarganya menerima bantuan masker pada Sabtu malam. Dia dan keluarganya mengaku tidak akan mengungsi meskipun asap pekat menyelubungi perkampungan.

"Enggak pindah, sudah terbiasa. Hla risiko kampung terdekat dengan pembuangan sampah. Dapat masker ini ya dipakai. Kalau api betul-betul mati pas hujan nanti," jelas dia.

Putut tidak menyoal asap bekas kebakaran sampah. Dia hanya khawatir karena tidak bisa bekerja di TPA Putri Cempo hingga kondisinya betul-betul aman. Putut dan sejumlah warga di Dukuh Sulurejo memulung di TPA Putri Cempo.

"Kalau begini ya geser memulung ke lokasi [gundukan] yang lain. Ini sementara leren dulu. Panas dan bahaya. Kalau sudah betul-betul padam, paling nyari besi sembrani. Biasanya cari plastik, ricikan, apa pun yang bisa dijual," ujar dia.

Hal senada disampaikan Kasimo. Dia dan keluarganya tidak mengungsi ke rumah kerabat. Dia memilih menunggu hujan turun supaya api di gundukan sampah benar-benar padam.

Sementara itu, Kades Plesungan, Waluyo, menyampaikan tidak ada warga yang direlokasi. Tetapi sejumlah orang yang tidak tahan dengan asap memilih mengungsikan anak-anak dan warga lanjut usia ke rumah kerabat di luar Dukuh Sulurejo.

"Warga Sulurejo terdampak ada empat rukun tetangga. Total sekitar 160 keluarga. Kami koordinasi dengan BPBD dan DKK semalam lewat telepon. Didatangkan 1.000-an masker. Sudah dibagikan semalam begitu kebakaran. Enggak evakuasi, tetapi ada yang mengungsi sementara ke kerabat di luar dukuh," ujar dia.

Hal senada disampaikan Sekretaris BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno, mewakili Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Bambang Djatmiko. Sejumlah anggota BPBD berjaga dan memantau perkembangan kasus kebakaran sampah di TPA Putri Cempo.

"Sampai sekarang masih kami pantau. Sekarang tersisa asap bekas kebakaran ya. Kalau masker memang sudah dibagikan semalam," tutur Hendro saat dihubungi Solopos.com, Minggu.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom