Warga Kampung Eks HP 16 Mojo Solo Akrobat demi Tata Kawasan Kumuh
Pekerja membongkar Gereja Bethel Indonesia Kenteng Baru di Eks HP. 16, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Jateng, Selasa (19/1/2021). (Solopos.com-Wahyu Prakoso)

Solopos.com, SOLO — Sejumlah truk dan pickup lalu lalang mengangkut perabotan dan material rumah di jalan kampung eks HP 16 Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Selasa (19/1/2021) siang. Demi penataan kawasan kumuh itu, warga terpaksa menjual material rumah mereka untuk menyewa hunian sementara dan biaya pindahan.

Sebagian warga mengosongkan rumah sesuai sosialisasi Pemkot Solo yang memberikan batas akhir sampai akhir Januari. Rumah-rumah yang telah dikosongkan dibongkar oleh sejumlah pekerja atau pemborong.

Bukan hanya rumah, gedung Gereja Bethel Indonesia Kenteng Baru juga dibongkar. Para pekerja mengambil material yang bernilai atau masih bisa dipakai, antara lain kayu dan genteng.

Baca Juga: Terungkap, Kekasih Jang Hansol Sedih Selalu di Balik Layar Korea Reomit

Warga sekitar gereja, Sri Hartini, 61, menjelaskan gereja telah dikosongkan dan kegiatan ibadah akan pindah sementara ke tempat lain. Dia juga bersiap mengosongkan rumah Minggu (24/1/2021).

Keluarga Sri memilih pindah ke hunian sementara memasuki pekan terakhir batas waktu pengosongan karena kesibukan bekerja. Sri dan Suami berencana pindah ke rumah anaknya di Kelurahan Sangkrah. Sedangkan anaknya yang masih serumah, beserta menantu dan seorang cucu pindah sementara ke rumah besan di Kelurahan Jebres.

“Ini bapak sedang nego sama orang untuk memborong bangunan. Uang sewa belum cair. Ini uangnya akan dipakai untuk tranportasi angkut perabotan,” kata dia.

Baca Juga: Dikenalkan dengan Indonesia, Dayana Diundang ke KBRI Nur-Sultan

Sri mengisahkan apel pembongkaran taman dengan dua ekskavator sempat menimbulkan kabar yang simpang siur, Minggu (17/1/2021). Warga yang mendapatkan sosialisasi batas pengosongan hunian akhir Januari mengira pemerataan bangunan dilakukan Minggu itu juga.

Khawatir Tanpa Listrik

Warga yang belum siap merasa syok. Mereka juga khawatir saluran air bersih serta listrik akan diputus oleh petugas. Namun, warga segera mendapatkan pencerahan petugas mengenai batas akhir pengosongan sampai akhir Januari.

Sri berharap, proyek pembangunan kawasan hunian berjalan tepat waktu supaya dia tidak merasa sungkan berlama-lama menumpang. Bagaimanapun, rumah sendiri merupakan tempat paling nyaman dan aman.

Baca Juga: Tak Ditangkap Polisi, Raffi Ahmad dan Ahok Trending Topic Twitter

Salah satu pemborong, Lanjar, 47, mengaku mendapatkan tiga hunian saja karena terlambat mendapatkan informasi penataan kawasan kumuh. Rumah lain sudah diborong oleh orang lain.

“Saya bawa material ke gudang di Grogol [Kecamatan Grogol, Sukoharjo]. Ini akan kami jual kembali. Harga setiap rumah sesuai kondisi material,” paparnya.

Ketua Pokja Penataan Eks HP. No.16, Sarjoko, menjelaskan bangunan yang akan diratakan tidak hanya hunian saja api juga dua musala, satu masjid, dan satu gereja. Dia mengklaim sekitar 85 persen bagian rumah mulai dibongkar.

Baca Juga: Mengeluh Punya Haters ke Fiki Naki, Mata Dayana Berkaca-Kaca...

“Material yang bisa digunakan untuk bayar sewa rumah atau tambahan ruang rumah sementara. Memang sewa Rp5 juta jadi pakai hasil penjualan,” kata dia.

Menurut dia, pelaksanaan pembangunan huanian berlansung April sehingga warga harus menyewa rumah sedikitnya lebih dari satu tahun. Dia berharap proyek pembangunan berjalan lancar.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman,dan Pertanahan, Taufan Basuki Supardi, mengatakan Pemkot Solo menyediakan Rp5 juta setiap rumah untuk biaya sewa rumah atau hunian sementara bagi warga kampung Mojo eks HP 16 yang dicairkan paling lambat Maret 2021.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom