Warga Mojosongo, Jebres, Solo, mengantre mendapat air bersih dari tangki air yang dikirim PDAM Solo ke wilayah itu, MInggu (3/11/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Warga Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, mengaku harus begadang tiap malam selama sepekan terakhir. Bukan untuk ronda melainkan untuk menanti air.

Mojosongo menjadi salah satu daerah yang mengalami kesulitan air bersih pada musim kemarau ini. Air semakin sulit didapat saat Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik PDAM berhenti beroperasi lantaran air bakunya tercemar limbah seperti yang terjadi pada pekan lalu.

Tiap hari warga Mojosongo harus mengandalkan pasokan air yang didrop menggunakan truk tangki dari Perumda Air Minum Toya Wening (PDAM) Solo.

“Sudah satu pekan saya dan warga berjaga ketika dini hari, bukan untuk meronda tapi kami begadang menanti air," jelas salah satu warga Mojosongo, Adi Setiawan, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Minggu (3/11/2019).

Boyolali Undercover: Muda-Mudi Pacaran Ngamar di Hotel Part 1

Adi bercerita pada Jumat (1/11/2019) dini hari air ithir-ithir tidak mencukupi kebutuhan keluarganya hingga akhirnya keran benar-benar tidak mengalirkan air. Adi sudah terbiasa dengan situasi seperti ini karena menyadari berada di lokasi yang tinggi.

"Puncaknya Sabtu [2/11/2019] warga tidak ke luar rumah dan benar-benar terjaga jangan sampai melewatkan saat air mengalir namun nihil,” ujarnya.

Pada Minggu itu, truk tangki pengangkut air bersih milik PDAM Solo datang ke wilayah tempat tinggal Adi. Saat truk tangki yang dikemudikan Tri Sutrisno tiba di permukiman relokasi Sabrang Lor, RT 007/RW 008, Mojosongo, Jebres, warga langsung berhamburan keluar rumah sambil membawa ember.

Gamelan Ditabuh, Sekaten Solo Dimulai

Adi pun bergegas meletakkan dua ember putih di belakang truk tangki bersama puluhan ember warna-warni milik warga lainnya. Tak butuh waktu lama ember-ember itu terisi penuh.

Adi langsung membawa dua ember ke dalam bak mandi rumahnya yang sudah dua hari tak terisi air. Tak ada satu menit, ia kembali lagi ke keran truk tangki itu.

Wajah yang penuh keringat tak ia pedulikan, yang terpenting ia bersama ibunya yang sudah lanjut usia, Miyati, dapat mandi di rumah tidak menumpang mandi di rumah saudara seperti yang ia lakukan sejak dua hari lalu.

Warga lainnya, Endah Kusuma, mengatakan dalam beberapa pekan terakhir harus membeli air dari pedagang keliling. Setiap jeriken dijual Rp2.000 untuk air biasa, sedangkan air gunung dari Kemuning, Karanganyar, dijual Rp3.000 per jeriken.

4 Toko di Matesih Karanganyar Terbakar

Anggota staf dropping air PDAM Solo, Emron Rekso, menyatakan sudah mendistribusikan air tangki ke berbagai wilayah di Kota Solo sejak Kamis (31/10/2019). Dalam sehari ada 6-8 truk tangki air yang didistribusikan.

Ia menyebut IPA Semanggi sudah beroperasi sehingga kawasan Semanggi sudah tidak lagi kesulitan air. Sementara IPA Jurug sudah sempat beroperasi namun dihentikan lagi karena kualitas air dinilai kurang pada Sabtu (2/11/2019).

Ia menyebut wilayah Purbowardayan, Mojosongo, Ngoresan, Gulon, Pucang Sawit, Purwodiningratan, Petoran, Gandekan, Jagalan, dan Guwosari menjadi sasaran dropping air pada Minggu (3/11/2019).


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten