Rombongan pejabat Pemkab Klaten menyusuri anak tangga menuju kampung Girpasang, Kemalang, Klaten, belum lama ini. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Warga Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, menjadi prioritas utama saat warga lereng Gunung Merapi harus diungsikan jika gunung itu erupsi.

Hal itu menyusul sulitnya akses ke kampung tersebut yang hanya bisa dijangkau melalui jalan setapak di tepi tebing. Koordinator Sukarelawan Desa Tegalmulyo, Subur, mengatakan Girpasang memang bukan kampung paling atas atau terdekat dengan puncak Merapi di Tegalmulyo.

Kampung teratas di Tegalmulyo yakni Dukuh Pajegan yang berjarak sekitar 3,5 km dari puncak Merapi. Hanya, saat warga lereng Merapi harus diungsikan, Subur menjelaskan warga Girpasang menjadi prioritas untuk didahulukan mengungsi.

Girpasang merupakan kampung yang berada di antara jurang sedalam 130 meter dan hanya bisa dijangkau melalui jalan setapak di tepi jurang. Kampung itu dihuni 12 keluarga terdiri dari 35 jiwa yang tinggal di sembilan rumah. Kampung itu berjarak sekitar 4 km dari puncak Merapi.

“Ketika harus mengungsi, warga Girpasang menjadi prioritas kami yang harus didahulukan karena hanya bisa dijangkau melalui jalan setapak. Takutnya kalau tidak didahulukan, saat perjalanan dari kampung menuju pengungsian sudah keburu luncuran material dari Merapi,” jelas Subur saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (3/3/2019).

Soal persiapan ketika sewaktu-waktu warga harus diungsikan, Subur menjelaskan kendala yang dihadapi yakni adanya dua warga Girpasang yang tak bisa mengungsi mandiri. Kondisi itu terjadi lantaran faktor usia dan sakit.

“Satu orang habis kecelakaan terkena senjata tajam sehingga saat ini masih kesulitan berjalan. Sementara satunya masih bisa berjalan tetapi tidak memungkinkan untuk menyeberang sendiri. Ini yang masih kami pikirkan bagaimana mengungsikan mereka secepatnya jika kondisi darurat. Apakah menggunakan tandu atau yang lain karena sulitnya medan,” jelas dia.

Subur mengatakan sejauh ini aktivitas warga masih biasa saja termasuk warga Girpasang meski aktivitas Merapi belakangan meluncurkan lava pijar serta awan panas. Ia menegaskan sukarelawan dan warga berpatokan pada data perkembangan aktivitas Merapi serta rekomendasi dari BPPTKG.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto, menjelaskan warga Girpasang menjadi prioritas ketika status Merapi meningkat. Saat ini, status aktivitas Merapi masih pada level waspada.

“SOP kami sama dengan sukarelawan di Tegalmulyo. Saat ada peningkatan status, tentu mereka [warga Girpasang] masuk kategori prioritas terutama mereka yang sepuh dan kelompok rentan,” jelas dia.

Nur tak menampik ada kearifan lokal setempat yang meyakini keberadaan Gunung Bibi di atas perkampungan Tegalmulyo bisa menyelamatkan warga dari lontaran material erupsi Merapi.

“Ketenangan lain yakni luncuran cenderung ke arah barat. Namun, sesuai SOP yang sudah dibuat, seluruh warga yang tinggal di kawasan rawan bencana harus diungsikan ketika status Merapi meningkat,” kata dia.

Salah satu warga Girpasang, Slamet Mulyono, mengatakan warga selama ini beraktivitas seperti biasa meski belakangan kerap mendengar suara gemuruh yang berasal dari puncak Merapi. Soal cara warga bersiap siaga dengan ancaman erupsi Merapi, Slamet menjelaskan selama ini warga berpatokan pada kondisi alam selain memperbarui informasi perkembangan aktivitas Merapi dari sukarelawan.

“Masyarakat kami dikenalkan dengan alam. Kami mengikuti arah angin saja. Kalau angin tidak mengarah ke sini [Girpasang], artinya kemungkinan ketika ada luncuran awan panas atau dampak hujan abu tidak ada, warga tetap tenang,” kata dia.

Selain arah angin, warga Girpasang masih tenang lantaran ada Gunung Bibi di atas perkampungan mereka yang diyakini bisa melindungi warga dari luncuran material Merapi. “Namun, ketika keadaan sudah sangat mengkhawatirkan dan kami diminta untuk mengungsi, kami siap,” kata Slamet.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten