Warga Gempol Klaten Raup Jutaan Rupiah dari Usaha Maggot, Masalah Sampah Pun Kelar

Warga Desa Gempol, Karanganom, Klaten, tak hanya meraup untuk menjanjikan dari usaha budidaya maggot tapi juga menyelesaikan masalah sampah.

 Omah maggot atau lalat BSF di Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten, Jumat (17/9/2021). (Solopos/Ponco Suseno)

SOLOPOS.COM - Omah maggot atau lalat BSF di Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten, Jumat (17/9/2021). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN — Omah Limbah Gempol yang dikelola warga Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten, untuk usaha budidaya maggot mulai menghasilkan produksi sejak Maret 2021 lalu.

Ada dua keuntungan yang diperoleh warga desa tersebut dari usaha tersebut. Selain menjanjikan pendapatan jutaan rupiah dari hasil penjualan maggot atau larva lalat untuk pakan ternak, masalah sampah warga setempat juga terselesaikan.

Pengelolaan sampah selalu menjadi masalah bagi warga dan Pemerintah Desa (Pemdes) Gempol, Karanganom, selama bertahun-tahun. Persoalan sampah di Gempol baru teratasi dengan berdirinya Omah Limbah Gempol, awal 2021.

Baca Juga: Dapat Rp6 Miliar dari Uang Ganti Rugi Tol Solo-Jogja, Kakek Paiman Klaten Malah Galau, Kenapa?

Kepala Desa (Kades) Gempol, Kecamatan Karanganom, Edy Suryanta, mengatakan warga di desanya sering resah dengan permasalahan sampah yang sering berceceran di pinggir jalan utama di desa setempat.

Hal itu terjadi selama bertahun-tahun. Kepedulian warga untuk tidak membuang sampah sembarangan juga masih kurang. Ada saja warga yang seenaknya membuang sampah di pinggir jalan.

“Dari tahun ke tahun persoalan yang sering kami hadapi adalah sampah. Ada orang berangkat kerja sambil membawa sampah, lalu dibuang di pinggir jalan. Hal itu kan mengakibatkan bau dan dapat mengganggu kesehatan,” kata Edy Suryanta saat ditemui Solopos.com, di kantornya, Jumat (17/9/2021).

Baca Juga: Puluhan SMA/SMK Klaten Gelar PTM Terbatas Mulai Besok, Mana Saja?

Kepedulian Lingkungan Meningkat

Tapi, Edy melanjutkan sejak adanya Omah Limbah Gempol, kesadaran dan kepedulian warga terhadap lingkungan semakin meningkat. Sekarang, tak ada lagi yang buang sampah sembarangan.

Sampah rumah tangga sudah diambil petugas Omah Limbah Gempol dua kali dalam satu pekan. Edy Suryanta mengatakan masyarakat Gempol sangat mendukung adanya Omah Limbah Gempol.

Selain mengelola sampah organik, Omah Limbah Gempol juga mengelola sampah nonorganik. “Omah Limbah Gempol ini sangat bermanfaat keberadaannya,” kata Edy.

Baca Juga: Wisata Klaten Masih Tutup, Umbul Pelem Kehilangan Pendapatan hingga Rp1 Miliar

Justru dengan adanya Omah Limbah Gempol ini, Pemdes Gempol mulai menjalin kerja sama dengan desa lain untuk memperoleh pasokan sampah organik yang memadai setiap harinya.

Pengelolaan sampah yang benar dinilai akan mendatangkan keuntungan berlebih bagi desa Gempol yang dihuni 2.186 jiwa di 11 dukuh.

Ketua Omah Limbah Gempol, Edy Nugroho, mengatakan sejak Maret 2021 lalu, Omah Limbah Gempol yang dikelola enam warga Gempol mulai memproduksi maggot. Maggot adalah larva lalat atau belatung yang dipakai untuk pakan ternak, khususnya unggas.

Baca Juga: Cerita Warga Klaten Jadi Miliarder Berkat Uang Ganti Rugi Tol, Beli Mobil Malah Tabrak Pagar

Produksi Maggot Bisa Sampai 300 Kg per Hari

Produksi maggot di Gempol dalam sehari minimal 50 kg. Ke depan, produksi maggot akan terus ditingkatkan 80 kg hingga 300 kg per hari. Maggot produksi Omah Limbah Gempol diharapkan tak hanya menembus pasar nasional, namun hingga pasar internasional di waktu mendatang.

“Pakan maggot [sampah organik] yang kami butuhkan itu 1 ton dalam 3-4 hari. Sementara produksi sampah organik di Desa Gempol baru 150 kg dalam 3-4 hari. Kekurangannya, kami menjalin koordinasi dengan perusahaan, rumah makan, dan desa lain. Tak hanya di Karanganom, tapi sudah sampai ke Jatinom,” katanya.

Edy Nugroho mengatakan maggot atau lalat BSF sangat berguna untuk pakan ternak, seperti ayam, itik, lele, dan lainnya. Harga maggot di pasaran senilai Rp7.000 per kilogram (maggot basah) dan Rp55.000 (maggot kering).

Baca Juga: Inilah Data Komunitas Pembudidaya Maggot Si Pemakan Sampah Organik di Klaten

“Komunitas budidaya maggot ini sudah banyak ditemukan di media sosial. Jika memang ada yang minta, tinggal komitmennya terus dirawat. Usaha maggot dengan mengelola sampah organik ini sangat menguntungkan,” kata Edy Nugroho.

Menurut hitungan Edy, modal senilai belasan juta rupiah yang dikeluarkan untuk budidaya maggot itu akan kembali dalam waktu kurang satu tahun. Hal itu karena siklus maggot hanya 18 hari  sudah bisa panen. “Jadi, sangat menguntungkan dengan biaya pakannya hampir zero,” ujarnya.


Berita Terkait

Berita Terkini

Bakul Karak Dibegal, Jalan Gedaren-Manjungan Klaten Akan Dipasangi CCTV

Kamera CCTV akan dipasang di Jl. Gedaren (Jatinom)-Manjungan (Ngawen) guna mencegah aksi kriminalitas seperti begal terjadi di desa setempat.

Kawanan Kera Liar Masuk Permukiman, Warga Kebakkramat Khawatir Diserang

Warga Dukuh Manggal, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar resah dengan kedatangan kera liar. Mereka nekat masuk rumah warga untuk mengambil makanan.

Terungkap, Kronologi Bakul Karak Klaten Dibegal Hingga Luka-Luka

Kronologi aksi begal itu bermula ketika korban berangkat dari rumahnya di Tempursari menuju Pasar Gabus di Kecamatan Jatinom melalui jalan yang sepi.

Breaking News, Bakul Karak Jadi Korban Begal di Klaten

Seorang bakul karak yang biasa berjualan di Pasar Gabus Jatinom jadi korban pembegalan di jalan Gedaren (Jatinom)-Manjungan (Ngawen), tepatnya di Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, Kamis (21/10/2021) pagi.

Witpari Gagas Bantuan Etalase Produk UMKM Karanganyar

Wirausaha Tangguh Bumi Intanpari (Witpari) menggagas perluasan akses pemasaran melalui pembuatan etalase atau rak display produk.

Bantuan Ponpes Belum Merata, DPRD Sragen Inisiasi Perda Pesantren

Penyusunan Perda Pesantren sudah berproses dan ditargetkan masuk Program Legislasi Daerah (Prolegda) DPRD Sragen pada 2022 mendatang.

Mahasiswa Internasional UMS Jalani Vaksinasi di Edutorium UMS

Sembilan mahasiswa asing yang sedang menimpa ilmu di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjalani vaksinasi yang dilakukan oleh Tim Vaksin UMS.

20 Rumah di Tanon Sragen Rusak Akibat Tersapu Angin Kencang

Sapuan angin kencang mengakibatkan 20 rumah di Desa Karangasem, Tanon, Sragen, rusak pada bagian atap, Kamis (21/10/2021) malam.

Sakit Menahun, Nenek-Nenek Asal Selogiri Wonogiri Gantung Diri

Diduga nenek asal Selogiri itu mengalami depresi karena sudah lama sakit asam urat sehingga nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Bupati Sragen: Dana Abadi Pesantren Jadi Kado Terindah di Hari Santri

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, mengatakan pada Hari Santri 2021, para santri mendapat kado istimewa dari Presiden berupa Perpres No. 82/2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren yang di dalamnya ada dana abadi pesantren.

Akun Pemkot Solo Kembali Diretas, Gibran: Tak Perlu Ganti Akun!

Meski sudah beberapa kali diretas oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Gibran menegaskan tidak akan membuat akun instagram baru.

Round Up: Kunci Sukses Bos Wong Solo, Sukoharjo Izinkan Hiburan Musik

Puspo Wardoyo membeberkan kunci sukses menjadi pengusaha.

Boulevard 10, Hunian Terbaru Andalan Tirtamaya Residence

Tirtamaya Residences mengeluarkan tipe Boulevard 10 sebagai line up hunian terbaru yang siap ditempati.

Gerombolan Kera Liar Masuki Permukiman Warga Kebakkramat Karanganyar

Gerombolan kera liar memasuki rumah-rumah warga Dukuh Manggal, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, untuk mendapatkan makanan.

Jorok! 25 Ton Sampah Dibuang Sembarangan di Sukoharjo Tiap Hari

Sebanyak 25 ton sampah ditengarai dibuang sembarangan setiap harinya di wilayah Sukoharjo. DLH setempat memetakan ada 10-an tempat buang sampah liar.