Warga Boyolali Menunggu 2 Jam di Sumur demi Sejeriken Air
Kartinem, 50, warga Dukuh Tempuran, Desa Kalinanas, Rabu (26/9/2018) menimba air dari sumur milik tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Solopos-Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI - Kartinem, 50, warga Dukuh Tempuran, Desa Kalinanas, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, punya rutinitas baru sejak tiga bulan belakangan. Setelah sumur miliknya kering tidak mengeluarkan air bersih akibat kekeringan, Kartinem pergi keliling dukuh untuk mendapatkan air dari sumur para tetangga.

Seperti yang dilakukan Kartinem, Rabu (26/9/2018) selepas ngarit di ladang. Dia mengambil sebuah jeriken bervolume 25 liter yang ada di teras rumah. Lantas berkeliling mencari sumur tetangga yang masih memiliki air. Tidak hanya Kartinem, sejak kekeringan melanda, warga Tempuran sudah menganggap semua sumur milik bersama. "Ya mau bagaimana lagi, begini keadaannya," kata dia saat berbincang dengan reporter Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni di sela-sela mencari air.

Perbincangan hangat antartetangga biasanya menjadi sumber informasi akurat perihal letak sumur yang masih memiliki air. Dari perbincangan itu pula, ujar Kartinem, semua orang mawas diri untuk sehemat mungkin memanfaatkan air tersisa. Biasanya per hari konsumsinya tak boleh lebih dari satu jeriken. Setelah berjalan sekitar satu kilometer, Kartinem mendapati sumur yang masih mengeluarkan air. Lantas dia melongokkan kepalanya sebentar ke dalam sumur. "Kosong," gumamnya. Itu berarti sebelum dia, seorang warga lain baru saja menimba air dari sana.

Kartinem lalu meletakkan jeriken putih di samping sumur. Dia menuju teras rumah warga yang saat itu tertutup untuk menumpang duduk. Katanya dia mesti menunggu 1,5 hingga 2 jam agar sumur terisi air kembali. Kartinem tidak melakukan apa-apa ketika menunggu. Saat itu dia malah bercerita soal kekeringan paling parah yang terjadi selama hidupnya.

"Ya tahun ini, sebelumnya belum pernah sampai ngangsu di tempat tetangga," ujar perempuan yang tidak pernah pergi memantau ke luar desa itu. Dia ingat hujan terakhir di Desa Kalinanas terjadi hampir empat bulan lalu kala Ramadan. Setelahnya, gerimis pun enggan menyapa.  Setelah 1,5 jam, air mulai dapat ditimba dari sumur. Itu pun belum memenuhi jeriken yang dibawa Kartinem. Jeriken itu hanya penuh 7/8 dari volume total. "Tidak apa-apa yang penting bisa buat mandi sekali sehari dan memasak," kata dia. Jika saat mengambil air bersamaan dengan warga lain, antrean bisa lebih lama. Biasanya bisa sampai 3 jam atau tergantung jumlah orang yang mengambil.

Hal senada juga diungkapkan tetangga Kartinem, Sutanto, 55. Sejak musim kering Tanto, panggilan akrabnya hanya mandi sekali sehari. Dia dan Kartinem juga sama-sama belum mendapatkan bantuan air bersih dalam tiga bulan terakhir.  Aktivitas Tanto dan para lelaki di Kalinanas kini bertambah dengan penggalian di sungai desa yang mengering. Sungai itu merupakan anak Sungai Serang yang melintasi Kecamatan Wonosegoro. Dari hasil galian, satu sumber air keruh berhasil didapatkan warga desa. Air itu disalurkan warga untuk memberi minum ternak dan mengolah tanah.

Bagi Sutanto, kini kebutuhan air yang perlu dipikirkan bukan hanya untuk manusia, tetapi juga kebutuhan minum ternak. "Tapi Alhamdulillah semua masih bisa tercukupi walau minim," kata dia.  Di Dukuh Cawengkal, Desa Kalinanas, warga malah membuat sumur umum di kawasan Dukuh Blimbing perbatasan dengan Kabupaten Semarang. Salah satu warga, Sumiyati, 35, mengatakan kini warga menggantungkan kebutuhan airnya lewat sumur umum tersebut.

Meski begitu, nasib warga Cawengkal cukup beruntung. Selama musim kering total mereka telah mendapatkan bantuan empat tangki air bersih.
Kartinem, Sutanto, maupun Sumiyati mengaku tak berbuat banyak dalam menghadapi musim kering tahun ini. Mereka menyadari turunnya hujan adalah hak Yang Maha Kuasa. "Ini sudah paringane Gusti ya kudu sabar," ujar Sumiyati yang diamini oleh Kartinem dan Sutanto.

Terpisah, Sekretaris Desa Kalinanas, Suwoto, menambahkan sejak musim kering pertengahan tahun ini, desa telah menerima bantuan sepuluh tangki air bersih. Bantuan itu berasal dari berbagai pihak seperti PMI dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun pemberian bantuan dipusatkan pada dua dukuh, Gebang dan Cawengkal, sementara di Dukuh Tempuran pasokan bantuan baru mencapai sepuluh persen. Pembagian bantuan air ini didasarkan atas kebutuhan dan jumlah penduduk.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom