Warga terdampak limbah PT RUM beraudiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Rabu (13/11/2019). (Solopos/Indah Septiyaning W.)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Perwakilan warga lima desa di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo untuk mengadukan masalah bau limbah PT Rayon Utama Makmur (RUM), Rabu (13/11/2019).

Sejak beroperasi dua tahun lalu hingga kini perusahaan yang memproduksi serat rayon itu belum juga bisa mengatasi masalah bau limbah yang mengganggu warga sekitar.

Surat dari Pemkab Sukoharjo berisi permintaan untuk mengurangi produksi selama sepekan akhir Oktober lalu guna membenahi pengelolaan limbah, dilanjut permintaan untuk menghentikan produksi sementara juga belum mampu belum mengatasi persoalan itu.

Perkosaan ABG Wonogiri Oleh 6 Orang Ditangani Polisi, Pemberian Uang Batal?

Warga pun mengadukan keluhan bau busuk dari limbah PT RUM dan meminta Pemkab melakukan langkah konkret untuk mengatasinya. Mereka merupakan perwakilan warga di lima desa meliputi Gupit, Plesan, Pengkol, Celep, dan Kedungwinong di Kecamatan Nguter.

"Sangat bau, seperti septic tank. Sangat mengganggu aktivitas warga. Banyak yang sampai muntah dan kami tidak bisa lagi merasakan tidur nyenyak dua tahun ini," keluh Sumardi, warga Gupit.

Dia bahkan mendeskripsikan bau limbah PT RUM sangat menyiksa hingga kesulitan bernapas. Dia juga kerap merasakan pusing akibat bau busuk tersebut. "Kami ingin ada solusi, Pak. Jangan seperti ini terus, baunya bikin tidak bisa bernapas," ungkapnya.

1.100 Karyawan PT Tyfountex Sukoharjo Di-PHK, 1.600 Lainnya Dirumahkan

Hal senada disampaikan warga Kedung Winong, Nanda Bagus Utomo, yang mengeluhkan setiap pagi mencium bau busuk dari pabrik PT RUM. "Pagi-pagi saja bangun tidur tidak menghirup udara segar, tapi malah bau busuk," katanya.

Bau busuk ini dirasakan mulai pukul 06.00 WIB hingga 10.00 WIB. Kondisi ini membuat daya tahan tubuhnya menurun dan mengalami sakit tenggorokan hingga mual-mual. "Tenggorokan jadi kering, sering mual-mual, dan pusing," keluhnya.

Warga lain, Herman, mengatakan selain bau busuk, air sungai berubah warna. Air Sungai Gupit yang diduga menjadi buangan limbah cair dari PT RUM berubah warna kecokelatan dan menghitam.

Siap-Siap! Begini Prakiraan Cuaca di Solo Besok Rabu (13/11/2019)

Padahal sungai ini bermuara ke Sungai Bengawan Solo. "Saya tidak tahu kenapa berubah warna padahal sudah ada pipanya," katanya.

Menanggapi keluhan warga, Kepala DLH Sukoharjo Agustinus Setiyono menerima seluruh pengaduan dan segera menindaklanjuti. Pengaduan keluhan warga juga diminta dibuat secara tertulis.

Di mana masing-masing warga membuat surat pernyataan berisi keluhan yang dialami dari dampak limbah PT RUM. "Surat ini menjadi pijakan kami untuk melangkah. Karena selama ini laporan pengaduan hanya sebatas lisan dan belum secara tertulis," katanya.

Pemkab Sukoharjo akan mengecek dan memantau lokasi. Hasil pengecekan inilah yang akan menjadi dasar Pemkab menentukan langkah lanjutan. Mengenai keluhan warga terhadap dampak kesehatan, dia segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) setempat.

Gibran Rakabuming Tanggapi Rudy: Kalau Saya Salah Silakan Tegur

"Lantaran masih muncul bau tak sedap, manajemen PT RUM harus menghentikan sementara kegiatan produksi sembari tetap melakukan pembenahan untuk menghilangkan bau limbah udara secara tuntas,” katanya.

Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, mengatakan manajemen telah memasang alat penyedot udara (blower) di Waste Water Treatment Plant (WWTP). Pemasangan ini agar bisa menyedot dugaan emisi gas yang keluar dari proses WWTP, sehingga masuk ke alat andalan pengurai bau yaitu wet scrubber.

"Pemasangan pipa-pipa dengan penyedot sudah terpasang, tinggal penyempurnaan operasionalnya," kata dia.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten