Wali Kota Salatiga Yuliyanto. (pontianakkota.go.id)

Solopos.com, SEMARANG – Wali Kota Salatiga, Yuliyanto, menyatakan banyak investor asing atau Penanam Modal Asing (PMA) yang tertarik untuk menanamkan investasinya di kota yang terletak di kaki Gunung Merbabu itu.

Mayoritas investor asing ingin menanamkan modalnya di Salatiga dengan membangun pabrik. Kendati demikian, tidak semua permintaan investor itu yang mampu dipenuhi Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga.

Yuliyanto mengatakan salah satu kendala Salatiga dalam memenuhi permintaan investor tersebut adalah terbatasnya lahan. Dengan luas wilayah yang hanya sekitar 56.781 kilometer persegi (km2) itu, lahan untuk industri sangat minim.

“Kita punya lahan khusus industri di wilayah Kecamatan Argomulyo. Itu pun luasnya tidak terlalu lebar. Kita enggak mau adanya industi justru akan memberikan dampak yang merugikan bagi masyarakat. Lahan terbuka hijau jadi berkurang, lahan produksi juga menyempit. Makanya, kita enggak bisa penuhi semua permintaan, hanya yang padat karya saja yang bisa kami terima,” ujar Yuliyanto kepada Semarangpos.com, Senin (22/7/2019).

Kendati demikian, bukan berarti Salatiga minim investor asing. Ada beberapa perusahaan asing yang sudah menanamkan modal dengan membangun pabrik atau padat karya di Salatiga. Salah satunya adalah PT Selalu Cinta Indonesia (SCI) yang bergerak dalam industri pembuatan sepatu untuk ekspor.

Selain PMA, investasi jenis Penenam Modal Dalam Negeri (PMDN) di Salatiga juga terbilang tinggi. Selama semester I 2019, nilai investasi dari PMDN di Salatiga bahkan telah mencapai angka Rp384.232.280.946 atau naik sekitar 58% dari realisasi 2018, yakni Rp243.031.287.366.

Kepala DPMPTSP Kota Salatiga, Sulistyaningsih, menyebutkan mayoritas investor di Kota Salatiga merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Mereka melakukan investasi pada sektor perdagangan dan jasa.

“Saat ini memang banyak pelaku UMKM yang melakukan investasi. Hal ini sejalan dengan instruksi Wali Kota Salatiga yang menginginkan pertumbuhan ekonomi dari sektor UMKM,” ujar Sulistyaningsih.

Sulistyaningsih menyebutkan mengeliatnya investasi di Kota Salatiga juga tak bisa dilepaskan dari aspek kemudahan yang diberikan Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga alam bidang perizinan usaha.

Saat ini perizinan usaha di Kota Salatiga telah menerapkan sistem elektronik atau online, melalui tiga aplikasi yakni Online Single Submission (OSS), Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG), dan aplikasi SiCantik.

“Dengan aplikasi online ini membuat pelaku usaha lebih mudah dalam melakukan perizinan. Pelaku usaha dapat melakukan input data permohonan secara mandiri tanpa harus datang ke kantor DPMPTSP Kota Salatiga,” imbuh Lis.

Selain kemudahaan itu, cerahnya iklim investasi di Salatiga juga banyak dipengaruhi faktor lingkungan yang kondusif. Hal itu terbukti dari dinobatkannya Salatiga sebagai kota paling toleran kedua di Indonesia selama dua tahun beruntun.

“Lingkungan masyarakat yang kondusif, serta biaya produksi yang murah juga menjadi magnet investor untuk melakukan investasi di Salatiga,” sambung Yuliyanto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten