Pengendara motor melintas di dekat kawasan Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (19/2/2019). (Solopos-M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Kompleks bangunan https://soloraya.solopos.com/read/20190219/490/972803/hari-ini-karyawan-rsis-sukoharjo-buka-segel-rumah-sakit" target="_blank" rel="noopener">Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, telantar selama berbulan-bulan. Selama itu, tak ada aktivitas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS yang pernah menjadi primadona di kawasan barat Kota Solo itu.

Selasa (26/2/2019), Solopos.com menginjakkan kaki di lantai keramik IGD RSIS yang penuh debu dan sampah daun kering. Papan pengumuman di samping pintu masuk IGD juga terlihat usang. Tak jauh dari pintu masuk terdapat sepasang kursi tunggu besi yang dikotori kotoran binatang.

Udara pengap memenuhi ruang IGD. Tak ada cahaya lampu di ruangan yang penuh dengan peralatan medis dan ranjang pasien. Terdapat lorong yang menghubungkan IGD dengan ruang laboratorium dan bangsal pasien.

Bercak-bercak hitam kotoran kelelawar menempel di sepanjang lantai lorong. Bahkan, kotoran kelelawar juga menempel di lantai tangga menuju ruang direksi rumah sakit.

http://img.solopos.com/upload/img/rsis%201.jpg" width="600" height="400" alt="" />Tanaman liar terlihat menjalar di area Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (26/2/2019). (Solopos-M. Ferri Setiawan)

RSIS tak beroperasi sejak pertengahan Juli 2018. Hal ini merupakan imbas konflik berkepanjangan antara Yayasan Rumah Sakit Islam Surakarta (Yarsis) dengan Yayasan Wakaf https://soloraya.solopos.com/read/20190226/490/974422/ratusan-karyawan-rsis-sukoharjo-buka-segel-gerbang-rs" target="_blank" rel="noopener">Rumah Sakit Islam Surakarta (YWRSIS). Lantaran sepi pasien, manajemen rumah sakit merumahkan ratusan karyawan pada 2018.

Sesuai putusan Mahkamah Agung (MA), pengelolaan rumah sakit diserahkan kepada Yarsis. Ratusan karyawan yang tergabung dalam Serikat Pekerja RSIS meminta izin kepada pengurus Yarsis agar bisa masuk ke area rumah sakit.

“Kami ingin mengecek berbagai peralatan medis dan fasilitas rumah sakit apakah masih berfungsi atau tidak. Ini inisiatif serikat pekerja setelah terlebih dahulu meminta izin kepada pengurus yayasan [Yarsis],” kata Wakil Sekretaris Serikat Pekerja RSIS, Suyamto, Selasa (26/2/2019).

http://img.solopos.com/upload/img/rsis%203.jpg" width="600" height="400" alt="" />Karyawan meninjau peralatan medis di Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (26/2/2019). (Solopos-M. Ferri Setiawan)

Sebelum terjadi konflik, RSIS menjadi rumah sakit primadona masyarakat di kawasan satelit Kota Solo. Masyarakat memilih berobat ke RSIS lantaran cukup dekat dengan rumah. Selain itu, RSIS memiliki sejumlah peralatan berteknologi canggih yang tak ada di rumah sakit lainnya.

Para karyawan berharap RSIS bisa segera https://soloraya.solopos.com/read/20190226/490/974499/yarsis-segera-urus-izin-operasional-setelah-segel-rsis-sukoharjo-dibuka" target="_blank" rel="noopener">kembali beroperasi melayani masyarakat yang berobat. Mereka juga ingin kembali mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan setelah nasib mereka terkatung-katung selama berbulan-bulan.

Jumlah karyawan yang dirumahkan lebih dari 400 orang. Mereka terpaksa beralih pekerjaan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. “Semoga Allah SWT mengabulkan doa para karyawan. Semoga ada secercah harapan kejelasan nasib para karyawan yang berjuang demi keluarganya,” timpal Suryatmojo, karyawan RSIS lainnya.

http://img.solopos.com/upload/img/rsis%202.jpg" width="600" height="400" alt="" />Karyawan meninjau peralatan medis di Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (26/2/2019). (Solopos-M. Ferri Setiawan)

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten