Wajah Jurnalisme Masa Depan
Diah Ayu Candraningrum (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Menjelang tutup tahun 2020 ada beberapa catatan buram mengenai kondisi jurnalisme di Indonesia. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia melalui siaran pers pada Senin (28/12/2020) menjelaskan kenaikan signifikan kasus kekerasan terhadap jurnalis sepanjang 2020.

Selain kekerasan terhadap jurnalis, serangan siber juga menjadi ancaman kebebasan pers. Sepanjang 2020, ada empat media massa yang mengalami serangan digital. Peran pengawas dan fungsi kontrol sosial oleh media massa berada dalam ancaman.

AJI sangat menyayangkan ketiadaan inisiatif pemerintah yang membuat kerja jurnalis menjadi lebih aman. Komitmen pemerintah terhadap kebebasan pers amatlah rendah. Bayangan itulah yang menghantui industri media nasional pada 2021 karena kasus serupa berpotensi berulang.

Ancaman terhadap kebebasan pers dan kelangsungan media juga datang dari sisi bisnis. Dalam sebuah diskusi terbatas, Ketua Lembaga Uji Kompetensi Jurnalis Televisi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Rachmat Hidayat, mengungkapkan industri media menghadapi guncangan pada era kenormalan baru ini.

Pandemi memotong anggaran iklan dan promosi di media massa. Pendapatan dari iklan merosot tajam, padahal ini napas kehidupan perusahaan media. Penurunan pendapatan akan berpengaruh terhadap kelangsungan operasional perusahaan media. Banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), pemotongan gaji, bahkan bisa berimbas pada penutupan media.

Banyak jurnalis mengalami depresi dan kejenuhan bekerja, padahal selama ini media massa masih menjadi sumber informasi yang terpercaya. Mendapatkan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan masih merujuk pada pemberitaan di media massa.

Jika para awak redaksi dan pengelola perusahaan media semakin tertekan oleh pelbagai kondisi di atas, bagaimana jadinya wajah jurnalisme pada masa depan? Media massa juga sedang menghadapi tantangan dari perkembangan teknologi dan perubahan selera generasi muda dalam mengonsumsi informasi.

***

Para era digital tak banyak masyarakat yang sadar akan nasib jurnalisme pada masa depan, terutama kaum muda. Generasi Z (kelahiran tahun 1995-2010) dan generasi Y (kelahiran tahun 1977-1994) lebih memilih mengonsumsi informasi yang ringan, renyah, dan tidak memusingkan.

Dari hasil penelitian yang saya lakukan pada 2018 terhadap 100 orang berusia 17 tahun hingga 22 tahun, sekitar 89% responden lebih suka mengonsumsi informasi lewat agregator media online, lokal maupun internasional. Salah satu alasan yang mengemuka adalah faktor kemudahan akses dan kecepatan penyajian informasi.

Menurut Haryatmoko (2007) dalam Ciptadi dan Armando (2018), perlombaan kecepatan menyajikan berita berdampak pada rendahnya akurasi dan pelanggaran etika jurnalistik. Praktik jurnalisme yang dimaksud adalah jurnalisme media elektronik dan daring karena kedua bentuk media tersebut dapat menampilkan informasi dan pertukaran dalam waktu singkat dan riil.

Kaum muda yang lebih memilih mengonsumsi informasi lewat media online sangat berpotensi mendapatkan informasi yang tidak akurat. Jika mereka memviralkan informasi tersebut, dikhawatirkan akan menyebarluaskan informasi yang tidak benar. Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wenseslaus Manggut mengatakan tingginya ketertarikan ini mampu mengubah wajah jurnalisme online.

Ketertarikan individu untuk lebih memilih media digital dalam mengonsumsi informasi telah mengubah wajah jurnalisme digital dari segi konten, model bisnis, dan juga hambatan yang dihadapi. Dari segi isi, saat ini jurnalisme digital telah mengubah peran perusahaan media menjadi hanya sebagai penyedia konten.

Distribusi atas konten tersebut dikendalikan oleh perusahaan teknologi. Tidak mengherankan kini semua jenis konten dari sumber media apapun mudah sekali ditemui di berbagai media sosial yang merupakan platform yang disediakan oleh perusahaan berbasis teknologi. Perubahan berikutnya yang mengkhawatirkan adalah meningkatnya fungsi distributor konten sehingga perusahaan teknologi tidak terlalu mementingkan kualitas karya jurnalisme.

Akibatnya, masyarakat sulit membedakan mana informasi yang telah melalui proses kerja jurnalistik dan mana yang tidak. Informasi berkualitas dan yang receh sama derajatnya. Salah satu hal penting yang muncul dalam jurnalisme berbasis teknologi zaman now adalah penggunaan algoritme dan rumusan search engine optimatization (SEO) supaya informasi bisa dikonsumsi banyak pihak.

Sama halnya dengan konsep trending topic untuk mendapatkan informasi yang paling dicari. Persoalannya adalah cara kerja mesin dalam produk jurnalistik kini bagaikan dewa yang harus dijunjung dan dielu-elukan, namun sering kali cara kerja mesin ini mengganggu kualitas jurnalistik yang dihasilkan.

Perusahaan teknologi menggunakan rumusan engagement untuk menentukan sebaran distribusi konten. Keterikatan dan merasa dibutuhkan oleh konsumen atau pengakses informasi sangat dibutuhkan pada era digital saat ini yang banyak manfaat yang berujung rupiah.

Kondisi ini memicu dualisme dalam jurnalisme digital, yakni ”penting” atau ”suka”. Semakin disukai banyak orang, dikomentari banyak orang, maka semakin tinggi reach atau volume sebaran. Efeknya, jurnalisme mengekor pada selera publik karena pers cenderung menulis yang disukai publik daripada yang seharusnya penting bagi masyarakat luas.

***

Sampailah kita pada pertanyaan inti: bagaimana wajah jurnalisme pada masa depan? Mengutip Jin Young Park, CEO UPPITY, yang sukses membangun media dengan target generasi perempuan milenial yang bekerja di Korea Selatan, perusahaan media harus dapat memahami kebutuhan dan situasi target pelanggan.

Misi pertama yang perlu dilakukan media adalah riset tentang siapa target konsumen mereka dan bukan memproduksi konten. Setelah itu, menjaga hubungan dengan pembaca lewat berbagai kegiatan edukasi seperti seminar investasi atau kursus online.

Ada tiga hal yang harus menjadi perhatian utama perusahaan media saat menjalankan bisnis saat ini, yaitu generasi muda, teknologi, dan strategi pengembangan bisnis. Ketiga hal ini tidak hanya berlaku eksternal, namun juga secara internal. Perusahaan media tidak hanya memperhatikan kebutuhan pelanggan, namun juga harus memperhatikan kebutuhan karyawan.

Dua hal tersebut saling terkait dan saling mendukung untuk menyukseskan bisnis. Terkait dengan prinsip jurnalisme, masing-masing perusahaan media dapat mengembalikan kepada pakem sebagai media penyedia informasi online maupun konvensional.

Hal ini seperti yang dicetuskan ilmuwan komunikasi Marshall McLuhan dalam buku Understanding Media: The Extension of Man (1964) yang menjelaskan soal Teori Media Klasik atau Classical Medium Theory. McLuhan berpendapat yang menjadi pusat perhatian berbagai studi komunikasi tentang media adalah media itu sendiri dan bukan pada isi pesan  atau diistilahkan sebagai medium is the message.

Peran medium jauh lebih berdampak kepada khalayak daripada isi pesan karena sifat-sifat media yang menjadi medium tersebut. Misalnya, mengetahui informasi tentang video porno artis yang beredar lewat media sosial tentu akan berdampak berbeda ketika kita mengetahui kabar tersebut lewat radio atau televisi.

Ketika seseorang mengonsumsi informasi dari sebuah media, dia tidak hanya mencerna isi pesan. Ada efek sosiokultural media yang turut andil dalam mengonstruksi pesan yang disampaikan. Ketika seseorang memilih media sosial sebagai saluran informasi utama, tentu saja hal itu tidak menjadi masalah karena orang tersebut mungkin merasa klik dengan dampak sosial yang timbul setelah mendapatkan informasi tersebut.

Jadi, kemasan informasi dalam medium yang tepat berpotensi menghasilkan efek media yang cocok terhadap audiens. Terkait dengan kemasan pesan, tampaknya inilah yang membuat masyarakat sekarang, khususnya generasi muda, lebih memilih menikmati sajian media melalui telepon seluler pintar.

Selain faktor kecepatan, generasi Z dan generasi Y juga memilih mengonsumsi informasi yang ringan dan tidak bikin pusing. Mereka bersemangat tatkala berurusan dengan hal-hal terkait kegiatan content creator, branding, influencer, dan lain-lain. Hal ini terlihat jelas saat saya mengisi kegiatan workshop jurnalistik bersama siswa/siswi kelas XI peserta ekstrakurikuler jurnalistik di SMA Kristen Kanaan Jakarta Pusat 10 September 2020lalu.

Peserta mendapatkan materi teknik reportase dan wawancara. Mereka diwajibkan membuat website pribadi dan mengisi dengan berbagai kegiatan jurnalistik berdasarkan materi yang diperoleh. Sekitar 50 siswa/siswi peserta workshop antusias bertanya dan aktif mengisi website pribadi dengan tema-tema yang menarik bagi mereka.

Sangat terlihat antusiasme para siswa menekuni jurnalistik, meski mereka merasa belum tahu apakah akan menjadi jurnalis atau tidak. Fenomena ini bisa memberi gambaran mengenai pandangan generasi muda sekarang terhadap jurnalisme dalam keseharian. Dalam pikiran mereka, jurnalisme adalah media online karena tidak ada seorang pun yang masih membaca media konvensional. Di dunia online-lah mereka menggantungkan harapan atas masa depan yang lebih baik.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom